Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Apakah Amerika sekutu Israel? Tentu tidak. Israel dan Amerika bukan sekutu dalam pengertian yang lazim dipahami. Relasi ini tidak berdiri di atas kesetaraan dua entitas yang saling membutuhkan dalam batas kepentingan strategis. Relasi ini melampaui itu. Amerika bukan sekadar sekutu bagi Israel. Amerika adalah ibu, pelindung. Bukan hanya ibu yang melindungi anak, ibu yang memanjakan anak, ibu yang mendewakan anak.
Mengapa demikian? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan melihat dinamika politik kontemporer. Penjelasan harus ditarik lebih dalam, menuju fondasi sejarah yang membentuk watak Amerika itu sendiri. Sejarah Amerika bukanlah sejarah yang steril dari kekerasan. Ia lahir dari proses yang keras, brutal, dan sistematis. Berdirinya Amerika mungkin lebih sadis daripada berdirinya Israel. Ia berdiri di atas okupasi, aneksasi, pengusiran, pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, dan perbudakan. Semua itu bukan tuduhan, melainkan fakta historis yang tercatat dan tidak dapat ditolak.
Dalam konteks ini, relasi Amerika terhadap Israel tidak bisa dipahami sebagai pembelaan terhadap pihak lain. Israel tidak hadir sebagai “yang lain” bagi Amerika. Israel adalah cermin. Ketika Israel mempertahankan eksistensinya dengan cara-cara yang serupa—okupasi, dominasi, pengusiran—Amerika tidak sedang melihat sesuatu yang asing. Amerika sedang melihat dirinya sendiri dalam bentuk lain.
Karena itu, ketika Amerika membela Israel, yang sedang dilakukan bukanlah tindakan solidaritas antarnegara. Amerika sedang mempertahankan jati dirinya sendiri. Ia sedang menjaga kesinambungan narasi historisnya. Ia sedang melindungi legitimasi cara berdirinya sendiri. Membela Israel berarti mempertahankan sejarah kemerikaan itu sendiri.
Di titik ini, menjadi jelas bahwa hubungan ini tidak dapat direduksi menjadi aliansi politik biasa. Ini adalah hubungan identitas. Amerika tidak sekadar melindungi Israel seperti sekutu melindungi sekutu. Amerika melindungi Israel seperti sesuatu yang merepresentasikan dirinya sendiri.
Diagnosologika menunjukkan bahwa pembelaan yang tidak mengenal batas terhadap pihak lain selalu mengandung dimensi pembelaan terhadap diri sendiri. Ketika sebuah negara tidak mampu mengambil jarak kritis terhadap tindakan pihak yang didukungnya, yang sedang dipertahankan bukan hanya kepentingan, melainkan fondasi makna yang menopang eksistensinya.
Dengan demikian, relasi Amerika dan Israel bukan relasi dua negara yang berdiri berdampingan. Relasi ini adalah relasi antara asal-usul dan pantulannya, antara sejarah dan reproduksinya, antara identitas dan bentuk lain dari dirinya sendiri. (*Cendekiawan Muslim)












