BERITAALTERNATIF.COM – Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kutai Kartanegara menggelar pembacaan Doa Tawassul dan peringatan Milad Sayidah Zainab Al-Kubra pada Selasa 20 Oktober 2026 malam.
Dalam kegiatan tersebut, Sayid Ali Hadi Assegaff menyampaikan hikmah mengenai sosok Sayidah Zainab, khususnya perannya dalam menghadapi tragedi Karbala dan menjaga keluarga Rasulullah yang tersisa setelah kesyahidan Imam Husain.
Sayid Ali menyebut Sayidah Zainab sebagai sosok istimewa yang mendapat perhatian dari berbagai kalangan ulama.
Dia mencontohkan penulis asal Mesir, Aisyah binti asy-Syathi’, yang menulis buku tentang Sayidah Zainab dengan judul Pahlawan Karbala.
Menurutnya, kehidupan Sayidah Zainab menyimpan banyak pelajaran, terutama tentang bagaimana seseorang menghadapi keadaan sulit tanpa kehilangan keyakinan dan tanggung jawab.
Ia mengisahkan, sejak kecil, Sayidah Zainab telah mengalami berbagai kehilangan. Setelah wafatnya Rasulullah, ia kehilangan ibunya, Sayidah Fatimah Az-Zahra, kemudian ayahnya, Imam Ali bin Abi Thalib, dan kakaknya, Imam Hasan.
Puncak penderitaan itu terjadi di Karbala ketika ia menyaksikan kesyahidan Imam Husain dan sejumlah anggota keluarganya. Dalam peristiwa tersebut, Sayidah Zainab juga harus menghadapi penawanan bersama perempuan dan anak-anak dari keluarga Ahlul Bait.
Di tengah tragedi itu, Sayid Ali menyoroti keteguhan Sayidah Zainab melalui ungkapannya, “Wallahi ma ra’aitu illa jamila,” yang berarti, “Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu kecuali keindahan.”
Dia menjelaskan, keteguhan Sayidah Zainab tidak berhenti pada kemampuannya menghadapi kesedihan. Setelah tragedi Karbala, ia juga berperan menjaga Imam Ali Zainal Abidin atau Imam Sajjad serta menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa.
Sayid Ali menilai keberanian Sayidah Zainab menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Dalam keadaan sebagai tawanan sekalipun, ia tetap berani menyuarakan kebenaran dan menentang ketidakadilan.
“Keberanian itu tak mungkin tak memiliki akal,” ujarnya dalam ceramah tersebut.
Selain membahas perjalanan hidup Sayidah Zainab, Sayid Ali menyampaikan sejumlah pelajaran yang dapat diambil dari keteguhannya menghadapi ujian.
Dia menekankan pentingnya menjadikan Allah sebagai tempat bersandar, berpikir jernih ketika menghadapi persoalan, serta memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran.
Menurutnya, bersandar kepada Allah bukan berarti seseorang hanya berdoa tanpa berusaha. Manusia tetap perlu bekerja, menjalankan tanggung jawab, dan mengambil langkah yang diperlukan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ia juga mengingatkan bahwa kesedihan dan kemarahan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, keduanya tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kendali atau melupakan tanggung jawabnya.
Sayid Ali mencontohkan sikap Sayidah Zainab setelah tragedi Karbala. Meski kehilangan orang-orang yang dicintainya, ia tetap melindungi keluarga yang tersisa dan menyampaikan pesan perjuangan Imam Husain kepada masyarakat.
“Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar meski hati sedang terluka,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin










