BERITAALTERNATIF.COM – Krisis listrik berkepanjangan terjadi di Desa Sungai Payang Ilir, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
Selama hampir tiga tahun, warga di desa tersebut harus hidup dengan tegangan listrik yang tidak stabil dan jauh di bawah standar, sehingga menyebabkan banyak kerusakan pada peralatan elektronik rumah tangga.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Sungai Payang Ilir, Seniansyah, menjelaskan bahwa tegangan listrik yang semestinya berada pada kisaran 220 volt justru sering kali turun drastis hingga sekitar 140 volt.
Kondisi ini membuat aliran listrik tidak mampu menghidupkan perangkat elektronik, bahkan memicu kerusakan. “Listriknya tidak maksimal,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif di Kantor DPRD Kukar pada Selasa (2/12/2025).
Dia mengatakan bahwa gangguan listrik ini berdampak pada sekitar 250 kepala keluarga yang tersebar di 6 RT di wilayah desanya. Hampir seluruhnya mengalami kendala serupa: peralatan elektronik tidak bekerja dan sebagian rusak berat.
“Banyak barang yang rusak, seperti TV, kulkas, mesin cuci. Ada yang sampai terbakar karena turun-naiknya tegangan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kerusakan biasanya terjadi ketika warga mencoba menyalakan perangkat saat tegangan sedang drop.
Seniansyah menggambarkan kondisi listrik di desa sangat memprihatinkan. “Lampu kadang hidup, kadang mati. Bahkan siang hari pun begitu. Kadang kayak disko, naik turun terus,” ucapnya.
Menurutnya, situasi semacam ini sudah berlangsung jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Pj Kades.
“Informasi dari perangkat desa, masalah ini sudah hampir tiga tahun terjadi,” katanya.
Meski mengalami kerugian atas rusaknya barang-barang elektronik, warga tidak berencana menuntut ganti rugi.
“Jangankan minta ganti rugi, minta perbaikan saja sampai sekarang belum ditanggapi. Mau tuntut ke mana?” ucapnya.
Pemerintah Desa Sungai Payang Ilir, sebut dia, sudah mengajukan proposal resmi kepada PLN untuk penambahan daya, penggantian kabel, serta pemasangan trafo baru. Namun hingga kini belum direspons.
“Sudah kita buat proposal, tapi katanya belum ada anggaran. Trafo juga tidak ada stok,” katanya.
Ia menyoroti adanya kejanggalan: di lokasi kandang ayam milik pihak tertentu, justru terpasang dua trafo.
“Di tempat lain ada saja trafo baru, tapi di desa kami tidak ada. Ini yang jadi pertanyaan warga,” ungkapnya.
Seniansyah meminta PLN segera melakukan perbaikan, baik dari sisi jaringan maupun tingkat daya yang masuk ke rumah-rumah warga.
“Harapan kita, tolong ditanggapi segera. Tambahlah daya trafo, perbaiki kabel-kabel yang sudah keropos,” pintanya.
Ia berharap persoalan ini tidak lagi berlarut-larut karena menyangkut kebutuhan dasar warga sehari-hari. “Karena ini sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ahmad Rifai
Editor: Ufqil Mubin












