Search

Ukraina dan Sekutu yang Tidak akan Membelanya

Presiden Ukraina, Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy. (Fars News)

BERITAALTERNATIF.COM – Sementara negara-negara Barat mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Moskow terkait “jaminan keamanan mirip Pasal 5 NATO” untuk Ukraina, sebuah media Amerika menekankan bahwa sangat kecil kemungkinan sekutu Kyiv benar-benar mau turun tangan berperang untuk membela negara itu.

Seorang analis di Foreign Affairs pada Kamis lalu, dengan merujuk pada perundingan damai terbaru di Amerika, mengatakan langkah-langkah diplomatik saat ini lebih terlihat seperti sebuah “kepura-puraan dengan harapan hasil akan tercapai.”

Menurutnya, bukan hanya Putin dan Trump, tetapi juga Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan para pemimpin Eropa sedang berpura-pura percaya pada upaya diplomasi Washington.

Pertemuan di Alaska dan Washington mencerminkan kondisi tersebut: penuh hiruk pikuk, tapi tanpa hasil nyata. Situasi ini disebut sebagai “kabut diplomasi”—suasana samar yang membingungkan tanpa arah yang jelas.

Meski demikian, bukan berarti pertemuan itu tanpa hasil sama sekali. Putin, dengan kunjungannya ke Alaska, berhasil meredakan Trump. Trump memanfaatkan forum itu untuk menghindari tekanan domestik terkait sanksi baru terhadap minyak Rusia.

Ukraina dan Eropa pun setidaknya mendapat janji berlanjutnya penjualan senjata, sekaligus menjaga posisi mereka di meja perundingan. Trump juga menenangkan para pengkritiknya dengan memastikan bahwa tidak ada kesepakatan rahasia dengan Putin di balik layar.

Namun, menurut media Amerika itu, presiden AS dikenal plin-plan. Ia menganut gagasan bahwa negara kuat bebas berbuat sesukanya. Karena itu, dalam negosiasi mendatang ia bisa saja kembali mengancam Kyiv maupun Eropa.

Barat menyebut adanya “jaminan keamanan,” bahkan sempat membandingkannya dengan Pasal 5 NATO. Tetapi Rusia tak pernah mengonfirmasi hal itu, dan Eropa pun tidak memberi detail.

Analis menekankan, jangan ada ilusi: jarak antara NATO sungguhan dan sekadar “mirip NATO” sangat jauh. Sangat kecil kemungkinan sekutu Ukraina benar-benar masuk perang demi Kyiv. Yang paling mungkin mereka lakukan adalah terus mengirim senjata, peralatan, dan menjaga jalur dukungan politik—hal-hal yang sebenarnya sudah berjalan sekarang.

Soal gencatan senjata, AS awalnya mengusulkan penghentian sementara. Ukraina dan Eropa setuju, tapi Putin menuntut langsung menuju kesepakatan damai permanen. Trump, yang ingin tampil sebagai pembawa akhir perang, pun menerima posisi Rusia. Namun, perdamaian penuh jelas butuh waktu dan konsesi besar, sementara setiap minggu yang terbuang hanya memberi Rusia kesempatan memperluas kontrol wilayah.

Hingga kini, Rusia sudah menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, dan bahkan baru saja merebut dua desa lagi. Lebih jauh, Trump tampaknya menerima ide “pertukaran wilayah” dengan Moskow.

Dalam sebuah unggahan yang ia bagikan di Truth Social, ditegaskan bahwa Ukraina harus siap kehilangan sebagian wilayahnya. Jika tidak, semakin lama perang berlangsung, semakin banyak tanah yang hilang. Zelensky menolak keras usulan ini.

Kesimpulannya, menurut analis Foreign Affairs, proses diplomasi saat ini tidak akan menghasilkan terobosan berarti. Perang kemungkinan besar masih akan terus berlanjut. (*)

Sumber: Fars News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA