Search

Tongkat Musa di Gaza: Mimpi Buruk Besar yang Menanti Penjajah

Perlawanan Palestina menolak untuk tunduk pada penjajah. Mereka memilih tetap berjuang hingga titik darah penghabisan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Dengan memilih nama Tongkat Musa untuk operasi para pejuang Palestina di Gaza, perlawanan dengan tegas menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah menyerah pada penindas. Dengan mengandalkan keteguhan rakyat Palestina yang tetap berdiri meski di bawah tekanan, mereka siap berjuang dengan penuh keberanian dan pengorbanan.

Dikutip dari Al Jazeera, langkah ini diambil sebagai jawaban atas rencana keji rezim Zionis untuk melakukan serangan besar-besaran ke kota Gaza dan berusaha mendudukinya dengan operasi yang diberi nama Kereta Perang Gideon 2. Menanggapi itu, Brigade al-Qassam, sayap militer Gerakan Hamas, secara resmi mengumumkan dimulainya operasi yang mereka sebut Tongkat Musa.

Beberapa hari sebelumnya, seorang sumber dari perlawanan Palestina dalam wawancara dengan Al Jazeera menegaskan bahwa operasi Tongkat Musa diluncurkan sebagai respons langsung terhadap operasi Kereta Perang Gideon 2 yang dijalankan oleh tentara Zionis di Jalur Gaza. Faktanya, musuh bahkan dengan mata kepalanya sendiri melihat kesiapan para pejuang Palestina di kawasan al-Zeitoun dan Jabalia hanya beberapa jam setelah operasi mereka diumumkan.

Sumber dari Brigade al-Qassam itu menambahkan bahwa apa yang dilihat musuh di al-Zeitoun dan Jabalia sebenarnya hanyalah “setetes air dari lautan besar” yang tengah menunggu kaum Zionis begitu mereka mencoba melangkah lebih jauh ke Gaza.

Dalam tradisi bahasa Arab, nama-nama yang dipilih oleh perlawanan Palestina untuk operasi militernya bukan sekadar simbol, tetapi sarat dengan makna religius yang kuat. Nama-nama tersebut menggambarkan tekad dan keyakinan rakyat Palestina untuk menghadapi mesin penindasan Zionis. Sama halnya seperti kisah Nabi Daud yang dengan sebuah batu berhasil mengalahkan kesombongan Jalut, atau Nabi Musa yang dengan tongkatnya menantang tirani Firaun.

Dengan menamakan operasi ini sebagai Tongkat Musa, perlawanan ingin menyampaikan pesan yang jelas: mereka tidak akan pernah tunduk kepada penjajah, dan dengan kekuatan rakyat Palestina, mereka akan melanjutkan perlawanan dengan penuh keberanian.

Di tingkat medan pertempuran, operasi Tongkat Musa merupakan sinyal terang mengenai apa yang akan dihadapi rezim Zionis di Gaza. Mayor Jenderal Faiz al-Duwairi, seorang pakar militer asal Yordania, menilai bahwa Israel kemungkinan besar akan berhadapan dengan perlawanan keras dan penuh kekerasan di kota Gaza. Kota ini tidak hanya padat penduduk, tetapi juga memiliki jaringan terowongan bawah tanah yang jauh lebih banyak dibandingkan wilayah lain yang pernah diduduki tentara Zionis.

Menurutnya, selain faktor terowongan, banyaknya rumah-rumah serta struktur jalan di Gaza akan membuat kendaraan militer Zionis sulit bergerak. Kondisi itu akan memaksa pasukan penjajah masuk ke dalam pertempuran jalanan, di mana kerugian yang mereka alami bisa jauh lebih besar dari perkiraan awal.

Pakar tersebut juga menekankan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, taktik perlawanan Palestina telah mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya mereka sering mengandalkan konfrontasi terbuka dan bentrokan langsung, kini strategi yang diambil adalah serangan penyergapan dengan jumlah pejuang yang lebih sedikit, namun dengan efektivitas lebih tinggi. Serangan mematikan terbaru di kawasan al-Zeitoun, Jabalia, dan Khan Yunis merupakan bukti dimulainya babak baru dalam strategi perang perlawanan.

Adel Shadid, seorang analis politik Arab, menambahkan bahwa waktu pengumuman operasi Tongkat Musa oleh perlawanan sangat penting. Menurutnya, hal itu memicu meningkatnya penolakan di kalangan internal Zionis terhadap rencana pendudukan Gaza. Selain itu, pengumuman ini juga menimbulkan ketakutan baru di masyarakat Zionis terkait risiko semakin banyaknya tentara dan tawanan mereka yang akan menjadi korban.

Ia menekankan bahwa sama seperti rezim Zionis yang berusaha menggunakan propaganda masif tentang Kereta Perang Gideon 2 untuk menakut-nakuti rakyat Palestina, perlawanan juga ingin mengirim pesan tegas. Pesan itu adalah: jika gencatan senjata harus dibicarakan dalam situasi di bawah serangan, maka semua pihak—termasuk Zionis—juga harus merasakan serangan yang sama. Dengan kata lain, korban tidak akan hanya terbatas pada rakyat Palestina.

Analis ini juga menegaskan bahwa pernyataan perlawanan memiliki bobot serius karena kaum Zionis sudah tidak lagi meragukan janji-janji yang disampaikan perlawanan. Janji-janji itu selalu terbukti dan diwujudkan di lapangan. Karena itulah, mengingat Zionis jauh lebih peduli pada keselamatan tentaranya dan juga para tawanan mereka sendiri daripada nasib rakyat Palestina, ada kemungkinan besar penolakan terhadap rencana Kereta Perang Gideon 2 akan semakin membesar di dalam masyarakat Zionis sendiri. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA