Tokoh

Profil Hermansyah, Pemuda Berbakat yang Harumkan Nama Kaltim di Pentas Nasional

BERITAALTERNATIF.COM – Hermansyah meraih juara 3 tingkat nasional dalam kategori musik/vokal di Pekan Kreatif Pemuda Indonesia (PKPI). Dalam ajang tersebut, dia merupakan salah satu perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang sukses mengharumkan nama provinsi ini dalam ajang nasional yang diselenggarakan di Gorontalo pada 5-10 Oktober 2022.

Bagaimana latar belakang pria berbakat tersebut? Hermansyah telah mengenal musik sejak berumur enam tahun. Kala itu, ia acap menyanyikan lagu-lagu Bollywood. Dari situ, jiwa seni dan musiknya perlahan berkembang dan menemukan bentuk idealnya.

Empat tahun kemudian, saat ia berusia 10 tahun, pria kelahiran Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusantara Barat (NTB) ini memberanikan diri belajar memainkan gitar.

Dia belajar dari para seniornya di desa tersebut. Ia mengaku mencuri kesempatan saat mereka yang memiliki gitar berhenti sejenak bermain gitar setelah menghibur teman-teman mereka kala berkumpul di malam hari.

“Terus belajar sendiri karena saat itu enggak ada senior yang ngajarin. Mungkin karena mereka sibuk atau apa begitu. Jadi, saya belajar otodidak,” ucapnya kepada beritaalternatif.com, Kamis (10/2/2022).

Saat duduk di kelas empat Sekolah Dasar (SD), Mansyah acap diminta oleh guru-gurunya bernyanyi di kelas. Di usia yang masih sangat belia, dia mulai memberanikan diri mengikuti lomba dengan kategori menyanyi dan bermain gitar. Pesertanya berasal dari sejumlah dusun di Ncera.

Pertama kali mengikuti lomba tersebut, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Kutai Kartanegara (Kukar) Tenggarong ini menyabet juara satu. Lalu, di ajang lomba berikut, Mansyah meraih juara dua.

“Mulai dari situ saya sudah berani ikut kompetisi, walaupun masih dalam skala kecil,” bebernya.

Dalam keluarganya, hanya dia yang berkarier di dunia musik. Selebihnya, saudara-saudaranya berprofesi sebagai pekerja swasta dan pedagang.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa mereka tak menyukai musik. Di lingkungan keluarganya, ada juga yang bisa memainkan seruling, alat-alat musik yang dimainkan dengan pukulan, dan perkusi.

“Cuma tidak ada yang fokus di situ karena juga tuntutan hidup yang memang dituntut harus bekerja lebih ekstra. Mungkin kecenderungan bermain alat musik itu juga yang turun ke saya,” ungkapnya.

Duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Mansyah mulai berani menyusun sendiri lagu. Keberanian itu berbuah hasil. Ia pernah membuat lagu yang viral hingga ke Kota Bima.

Saat itu, lagu tersebut dibagikan menggunakan perangkat Bluetooth dari satu tangan ke tangan lain. Namun, orang-orang yang menikmati karya Mansyah tersebut tak mengenalnya.

Meski begitu, dari situlah ia termotivasi untuk terus berkarya. “Alhamdulillah saat itu ada kesempatan untuk next ke depannya bisa lebih sukses lagi,” ucapnya.

Mengamen karena Tak Punya Uang

Setelah lulus dari SMP, Mansyah kemudian melanjutkan pendidikan formal Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Bima, yang jaraknya sekitar 70 kilometer dari kampung halamannya.

Ia pun menetap di Kota Bima. Jauh dari orang tua membuat dia kerap kali tak memiliki uang untuk menyambung hidup. Di sela-sela belajar di sekolah, Mansyah pun memberanikan diri bersama teman-temannya mengamen di jalan.

Dia mengenyak pendidikan di Kota Bima hanya beberapa bulan. Kemudian, dia diboyong oleh kedua orang tuanya ke Kalimantan Timur (Kaltim), serta melanjutkan sekolah di provinsi kaya sumber daya alam ini.

Selama mengenyam pendidikan SMA di Kaltim, ia menghentikan aktivitas menyanyinya. Saat itu, Mansyah hanya fokus sekolah dan bekerja.

Berkenalan dengan Lagu-Lagu Barat

Setelah lulus dari SMA, ia melanjutkan kuliah di Fisipol Unikarta Tenggarong. Di kampus inilah ia kembali berkecimpung di dunia musik. Mansyah kemudian berkenalan dengan lagu-lagu Barat seperti jazz dan lainnya.

Sebelum itu, saat berada di kampung halamannya, dia tak pernah diperkenalkan dengan lagu-lagu Barat. Sebab, di kampungnya ia hanya menyanyikan lagu-lagu melayu, dangdut, pop, dan India.

Di kampus pula dia memulai karier profesional sebagai musisi. Mansyah pun kerap dipanggil bernyanyi di acara pernikahan (wedding), kafe, dan bernyanyi di pangung-panggung profesional yang dihadiri ratusan orang.

Pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat mengakibatkan acara pernikahan di masyarakat selama pandemi Covid-19 dihentikan secara total.

Karena itu, pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu telah membawa imbas tersendiri bagi Mansyah. Aktivitas menyanyi yang dilakoninya tiba-tiba terhenti dalam kurun waktu lebih dari setahun.

Dia mengaku sangat terpuruk karena tak memiliki penghasilan sepeser pun selama pandemi Covid-19. Mansyah kerap “membunuh” waktunya dengan bermain game.

Setelah mobilitas masyarakat kembali normal karena penyebaran virus kian mereda, aktivitasnya sebagai musisi perlahan kembali normal.

Bermain musik, menurutnya, telah menjadi bagian dari hidupnya. Karena itu, suka dan duka telah dilewatinya selama melakoni profesi tersebut. Namun, dia mengaku lebih banyak merasakan kebahagiaan saat bernyanyi dan bermain gitar.

“Kita itu happy-happy aja. Asyik-asyik aja main musik. Meskipun kita enggak dibayar, kalau udah main musik, rasanya asyik aja,” tuturnya.

Ikut Audisi Indonesian Idol

Selama berkarier di dunia musik, Mansyah mengaku pernah mengikuti audisi ajang pencarian bakat, Indonesian Idol. Di ajang tersebut, ia sempat lolos ke babak lanjutan.

Dia juga pernah mengikuti kompetisi yang diadakan Virza Coorporation. Ia pun masuk tiga besar. Selain itu, Mansyah pernah menjadi bagian dari kompetisi nasional yang diselenggarakan di Kota Balikpapan. Dalam kejuaraan tersebut, Mansyah menyabet gelar juara tiga.

Saat ini, dia tengah konsen menyanyi dan bermain musik di kafe, acara pernikahan, dan kegiatan-kegiatan yang diadakan pemerintah serta organisasi kepemudaan.

Mansyah mengaku mendapatkan penghasilan yang cukup besar dari acara-acara pernikahan daripada bernyanyi di panggung ataupun kafe.

Saat bernyanyi di kegiatan pameran, Mansyah harus membawa timnya, sehingga hasilnya harus dibagi-bagi. Karena itu, penghasilan yang didapatkan dari kegiatan ekspo jauh lebih kecil daripada saat bernyanyi acara pernikahan.

“Kalau di ekspo, lebih banyak capeknya karena ngurus persiapan dan lain-lainnya. Kalau di kafe itu hitungannya untuk ngisi waktu aja. Seminggu sekali atau dua minggu sekali,” jelasnya.

Saat ini, Mansyah mengaku sering menyanyikan lagu-lagu terbaru untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. “Cuman kalau untuk lagu-lagu yang saya sukai itu lagunya Dewa 19 dan lagu Sheila on 7,” ungkapnya.

Konsen untuk Terus Berkarya

Mansyah mengaku akan terus berkarya di dunia musik. Saat ini, dia tengah konsen menggarap beberapa karya. Ke depan ia akan meluncurkannya. Kemudian, di masa-masa yang akan datang ia juga akan menciptakan karya-karya baru.

Sebelumnya, Mansyah mengaku telah menciptakan dan meluncurkan beberapa karya, bahkan telah mencapai puluhan lagu. Namun, karya-karya tersebut belum bisa diproduksi karena keterbatasan biaya, produser yang tepat, dan alat-alat pendukungnya.

Ia menegaskan bahwa ke depan akan tetap menekuni dunia musik. Sebab, musik merupakan bagian dari jiwanya. “Untuk menghindari dan mencoba melupakannya itu enggak bisa,” ucapnya.

Meski begitu, Mansyah mengaku tak menutup diri untuk berkecimpung di dunia bisnis dan profesi-profesi lain. Ia menyebutkan, bila ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar, maka dia tak bisa hanya memfokuskan diri di bidang musik semata.

Dengan pendapatan yang besar, Mansyah ingin memberikan manfaat lebih luas di masyarakat, khususnya untuk menghidupi orang tua dan keluarganya.  

“Selain kita bikin karya, hasil dari karya kita itu juga kita jadikan modal untuk bikin usaha, buat bisnis dan investasi,” tuturnya.

Sejatinya, kata Mansyah, pendapatan di industri musik sangat menjanjikan bagi masa depan para musisi. Syaratnya, aktivitas di industri musik harus berjalan lancar.

Namun, apresiasi pemerintah atau pihak-pihak terkait terhadap industri musik dinilainya masih sangat minim. Karena itu, banyak orang yang sebelumnya bergerak di industri musik beralih ke profesi lain.

“Padahal untuk skill, alat dan fasilitas sudah cukup lengkap. Kalau proses apresiasinya bagus, itu akan jadi penghasilan yang besar. Tidak hanya sekadar hobi,” tutupnya. (*)

Penulis: M. As’ari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top