Search

The Economist: Sekutu AS Harus Membantu Mengakhiri Perang dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Dilansir dari Al Mayadeen pada Kamis (19/3/2026), dalam sebuah analisis yang dipublikasikan di The Economist, Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, memperingatkan bahwa kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang nyaris tercapai justru runtuh menjadi perang, sehingga kini sekutu-sekutu Washington perlu membantu mengarahkannya kembali ke jalur diplomasi.

Menurut analisis tersebut, AS dan Iran sebenarnya lebih dekat dari yang banyak diketahui orang untuk menyelesaikan kesepakatan terkait program nuklir Teheran.

Dua kali dalam kurun kurang dari setahun, negosiasi hampir mencapai terobosan. Putaran terakhir pembicaraan pada akhir Februari digambarkan sebagai yang paling substansial, memunculkan harapan nyata bahwa solusi diplomatik sudah dalam jangkauan. Namun, hanya beberapa jam setelah diskusi tersebut, AS dan Israel melancarkan agresi terhadap Iran, yang secara tiba-tiba menghentikan momentum menuju kesepakatan.

Dari sudut pandang Teheran, pembalasan dianggap tak terelakkan. Iran membingkai responsnya—yang menargetkan apa yang disebutnya sebagai lokasi-lokasi terkait Amerika di seluruh kawasan—sebagai reaksi terhadap ancaman eksistensial.

Meskipun eskalasi seperti ini dikecam secara luas, penulis di The Economist berargumen bahwa, dengan framing perang sebagai upaya untuk membongkar Republik Islam, para pemimpin Iran kemungkinan melihat hanya sedikit alternatif yang layak.

Hasilnya bukan hanya krisis regional, tetapi juga kegagalan strategis yang lebih dalam. Analisis tersebut menyebut bahwa Washington telah kehilangan kendali atas arah kebijakan luar negerinya, membiarkan keputusan militer jangka pendek mengalahkan peluang diplomatik jangka panjang.

Apa yang seharusnya menjadi momen terobosan kini justru berubah menjadi perang yang meluas dan berbahaya.

Penulis di The Economist berargumen bahwa kebijakan AS harus didasarkan pada pemahaman yang lebih jelas tentang kepentingan intinya: mencegah proliferasi senjata nuklir, menjamin stabilitas rantai pasok energi, serta memperluas peluang ekonomi dan investasi di kawasan yang sangat penting secara global.

Semua tujuan ini, menurutnya, paling efektif dicapai melalui stabilitas regional—khususnya dengan Iran yang hidup damai dengan negara-negara tetangganya.

Namun, membuka kembali negosiasi saat ini akan sulit secara politik dan diplomatik. Kepercayaan telah rusak parah, dengan Washington dua kali beralih dari pembicaraan ke aksi militer.

Di saat yang sama, Iran juga kecil kemungkinan untuk kembali terlibat dengan pemerintahan yang dianggapnya tidak dapat dipercaya. Meski begitu, analisis tersebut menegaskan bahwa kembali ke dialog mungkin merupakan satu-satunya jalan keluar dari perang berkepanjangan.

Untuk memungkinkan diplomasi kembali berjalan, kedua pihak membutuhkan insentif yang bermakna. Al-Busaidi mengusulkan agar negosiasi AS–Iran dikaitkan dengan kerangka regional yang lebih luas, yang berfokus pada transparansi nuklir dan transisi energi jangka panjang.

Seiring negara-negara Asia Barat bersiap menghadapi masa depan pasca-karbon, kerja sama dalam energi nuklir—termasuk penggunaannya, pengawasannya, dan batasannya—dapat mengubah sumber ketegangan menjadi area kepentingan bersama.

Kerangka semacam ini dapat berkembang menjadi langkah-langkah membangun kepercayaan, dan pada akhirnya menjadi konsensus regional mengenai kebijakan nuklir. Dengan dukungan negara-negara Teluk, hal ini bahkan dapat menjadi dasar bagi perjanjian non-agresi yang lebih luas.

Hasil akhirnya masih belum pasti, terutama di tengah perang yang sedang berlangsung. Namun, argumen utamanya jelas: diplomasi pernah berada dalam jangkauan, dan meskipun situasi telah memburuk, diplomasi mungkin tetap menjadi satu-satunya jalan keluar. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA