BERITAALTERNATIF – Pembunuhan “Haitsami Ali Thabathaba’i”, salah satu komandan senior militer Hizbullah, di kawasan Harat Hreik, Beirut, menjadi salah satu peristiwa keamanan paling penting dan menentukan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bukan hanya berdimensi militer, tetapi juga memiliki konsekuensi politik, regional, dan internasional yang dapat mengubah struktur perimbangan kekuatan dan sistem pencegahan (deterrence) di Lebanon. Masuknya kembali rezim Zionis ke jantung Dahiyeh—wilayah yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kawasan keamanan paling penting Hizbullah—menunjukkan bahwa Tel Aviv telah memutuskan untuk memindahkan arena pertempuran dari pinggiran menuju pusat.
Serangan yang dilakukan dengan presisi tinggi, menggunakan senjata berpemandu, dan pada waktu serta lokasi sensitif, oleh banyak analis dipandang sebagai tanda dimulainya “fase baru”—fase ketika gencatan senjata 2024 tak lagi memiliki arti, dan garis merah yang dulu disepakati kini telah runtuh sepenuhnya.
Perencanaan Serangan dan Pesan Pergeseran Level Konfrontasi
Serangan pada hari Minggu tersebut menghantam sebuah gedung tempat tinggal di Harat Hreik menggunakan rudal presisi. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan lima orang syahid dan 28 lainnya terluka. Sumber-sumber keamanan Lebanon mengonfirmasi bahwa Haitsami Thabathaba’i adalah target utama dan ia terkena serangan secara langsung. Rezim Zionis selama bertahun-tahun menggambarkannya sebagai orang nomor dua Hizbullah, sekaligus komandan paling berpengaruh dalam struktur militer organisasi tersebut—tokoh yang menjadi arsitek utama pasukan Radwan, pengelola pertempuran 2006, serta aktor sentral dalam pembangunan kemampuan ofensif Hizbullah.
Poin penting dari operasi ini adalah “kembalinya rezim Zionis ke jantung Dahiyeh”. Selama beberapa bulan terakhir, sebagian besar serangan terbatas pada wilayah selatan dan Bekaa. Tel Aviv menghindari serangan langsung ke pusat Beirut. Kini, operasi yang dilakukan jauh ke dalam Dahiyeh memberikan pesan jelas: rezim Zionis bukan saja tidak lagi mematuhi batas-batas lama, tetapi juga berupaya memindahkan pertempuran menuju pusat kekuatan Hizbullah.
Operasi ini sejalan dengan rangkaian pembunuhan yang dilakukan Israel dalam beberapa tahun terakhir—dari Fuad Syukr, Ibrahim Aqil, hingga pembunuhan Sayyid Hassan Nasrallah. Serangkaian operasi terarah ini menunjukkan bahwa Tel Aviv tengah menjalankan sebuah proyek sistematis untuk meruntuhkan struktur kepemimpinan puncak perlawanan.
Gencatan Senjata yang Palsu dan Pemanfaatan Masa Pasca-Perang oleh Rezim Zionis
Gencatan senjata pascaperang 2024 di Lebanon sebenarnya tidak pernah benar-benar berjalan. Israel melanggar kesepakatan itu setiap hari—melalui serangan drone, artileri, maupun infiltrasi terbatas namun berulang. Intensitasnya memang tidak selalu mencolok secara media, tetapi kini, setelah detail operasi hari Minggu terungkap, makin jelas bahwa rezim Zionis memanfaatkan masa “gencatan senjata” tersebut untuk dua tujuan:
- Mengidentifikasi lokasi keberadaan para komandan perlawanan.
- Menurunkan tingkat kewaspadaan dan sistem perlindungan para komandan melalui ilusi ketenangan.
Gencatan senjata, bagi rezim Zionis, hanyalah kesempatan intelijen, bukan masa tenang. Operasi pembunuhan Thabathaba’i adalah hasil langsung dari proses tersebut.
Banyak analisis Lebanon dan kawasan menegaskan bahwa menjalankan operasi presisi semacam ini hampir mustahil tanpa koordinasi dengan Amerika Serikat. Washington dalam beberapa bulan terakhir mengendalikan penuh jalur kontak dan proses pengaturan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel. Pada saat yang sama, AS menjalankan strategi tekanan berlapis terhadap Hizbullah. Diamnya Arab Saudi, negara-negara Teluk, dan bahkan negara-negara penjamin gencatan senjata menunjukkan bahwa serangan ini bukanlah keputusan Israel semata—melainkan berada di bawah payung politik regional–internasional yang lebih besar.
Poros Ibrani–Barat dan Upaya Mematahkan Aturan Pencegahan
Sejak 7 Oktober, rezim Zionis memasuki fase “pengambilan risiko maksimum”. Perang tidak hanya dibatasi pada Gaza, tetapi meluas ke Lebanon, Yaman, bahkan Iran. Meskipun Israel mengalami kegagalan besar, terutama dalam konfrontasi 12 hari melawan Iran, pola perilakunya tidak berubah. Tel Aviv tetap yakin bahwa pembunuhan komandan-komandan perlawanan dapat mencegah perang total, dengan menanamkan “ketakutan organisasi” pada Hizbullah.
Namun analis dalam poros perlawanan menilai hal ini sebagai kekeliruan strategis. Menurut mereka, Hizbullah selama dua dekade terakhir telah membangun struktur yang berlapis dan fleksibel. Pembunuhan para pemimpin bukan menciptakan pencegahan, melainkan justru mendorong peningkatan respons serta perubahan aturan konfrontasi.
Banyak pengamat memperingatkan bahwa pembunuhan ini dapat menjadi titik awal Hizbullah keluar dari pola respons terbatas dan memasuki babak yang lebih keras serta lebih luas.
Pemerintah Lebanon; Struktur yang Tidak Berfungsi dan Krisis Kemauan Politik
Dalam situasi intens ini, pemerintah Lebanon tampak hampir lumpuh. Struktur politik yang terpecah, ketergantungan sebagian kelompok domestik pada dukungan asing, dan konflik kepentingan internal membuat tidak ada konsensus nasional untuk merespons agresi tersebut. Pemerintah tidak memiliki kemampuan operasional maupun kemauan politik untuk bertindak, bahkan langkah diplomatik paling minimal pun tidak dilakukan.
Kondisi ini kembali memperkuat argumen Hizbullah: hanya kekuatan internal yang dapat menjamin keamanan Lebanon. Tidak ada “jaminan Barat” yang dapat dipercaya. Tekanan sebagian kelompok domestik selama setahun terakhir untuk melucuti senjata Hizbullah kini kehilangan legitimasi. Serangan terhadap ibu kota dan wilayah paling dijaga membuktikan bahwa rezim Zionis siap meningkatkan tensi kapan saja, bahkan ketika ada anggapan bahwa kondisi sedang tenang.
Lebanon tanpa kemampuan pencegahan hanyalah medan terbuka bagi infiltrasi musuh.
Riwayat, Peran, dan Posisi Thabathaba’i dalam Struktur Perlawanan
Haitsami Ali Thabathaba’i—dikenal sebagai Abu Ali—lahir pada 1968 di Lebanon selatan. Ia berasal dari generasi kedua komandan Hizbullah. Berbeda dengan para pendiri Hizbullah pada 1980-an, ia bergabung ketika organisasi sudah lebih terstruktur.
Ia terjun sejak muda, aktif dalam pertempuran tahun 1990-an di sepanjang perbatasan selatan. Pada 1996 ia menjadi komandan poros Nabatieh dan tetap memegang posisi itu hingga pembebasan selatan pada tahun 2000. Setelah itu ia memimpin operasi di poros Al-Khiyam dan memainkan peran penting dalam perang 2006.
Pasca 2006, ia bergabung dengan pasukan intervensi Hizbullah dan menjadi aktor utama dalam pembentukan serta penguatan unit elit “Pasukan Radwan”. Dalam perang Suriah, ia menjadi salah satu komandan terpenting di medan tempur melawan kelompok takfiri, termasuk dalam operasi besar di Qalamoun dan Aleppo. Ia juga terlibat dalam misi dukungan untuk Ansarullah di Yaman, sehingga dianggap sebagai figur sentral poros perlawanan di Asia Barat oleh AS dan Israel.
Dalam beberapa tahun terakhir, setelah gugurnya beberapa komandan utama, posisinya semakin penting. Pasca syahidnya Fuad Syukr, ia secara praktis menjadi komandan pertama militer Hizbullah. Israel telah beberapa kali mencoba membunuhnya, namun selalu gagal—hingga operasi di Dahiyeh pada bulan Aban 1404 (November 2025) akhirnya berhasil.
Dampak Strategis Pembunuhan Ini bagi Masa Depan Lebanon
Pembunuhan Thabathaba’i merupakan bagian dari upaya untuk mencegah Hizbullah memulihkan kekuatan militernya dan merusak struktur komandonya. Israel percaya bahwa dengan menghilangkan figur-figur utama, mereka dapat melemahkan kemampuan Hizbullah dalam perang mendatang. Namun pengalaman menunjukkan bahwa Hizbullah memiliki struktur jaringan yang mampu menggantikan komandan dengan cepat.
Jika Hizbullah memberikan respons keras, kemungkinan eskalasi perang akan meningkat. Jika responsnya terbatas, Israel akan terus melanjutkan pola pembunuhan terarah ini. Dengan demikian, Hizbullah menghadapi pilihan strategis yang sangat sulit.
Kesimpulan
Pembunuhan Abu Ali Thabathaba’i bukanlah peristiwa biasa dalam siklus konfrontasi Lebanon. Ini adalah sinyal dimulainya fase baru: fase ketika gencatan senjata tidak lagi bermakna, ketika agresi Israel menjadi lebih sistematis, dan ketika poros Barat–Ibrani telah memasuki tingkat risiko baru.
Keterlibatan Amerika Serikat, diamnya negara-negara penjamin, ketidakmampuan pemerintah Lebanon, dan tekanan internal terhadap Hizbullah semuanya telah menciptakan kondisi yang membuat perlawanan berada di persimpangan penting.
Pesan dari operasi ini jelas: hanya bahasa kekuatan yang dapat membatasi agresi Israel. Setiap bergantung pada jaminan asing atau tekanan domestik hanya akan melemahkan keamanan Lebanon. Respons Hizbullah dalam minggu dan bulan ke depan akan menentukan apakah Lebanon memasuki babak baru pencegahan atau apakah Israel akan melanjutkan rangkaian pembunuhannya.
Yang pasti: setelah peristiwa ini, aturan lama sudah tidak berlaku lagi. Lebanon telah memasuki era baru konfrontasi—baik terang-terangan maupun dalam bayangan. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












