Oleh: Arif Sofyandi*
Selama berabad-abad, perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah diskursus teologis yang lebih banyak berdiam di ruang perpustakaan dan diskusi ulama. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, perbedaan ini secara ajaib bertransformasi menjadi garis depan pertempuran yang berdarah. Fenomena ini bukanlah kebetulan sejarah, melainkan keberhasilan propaganda dan desain politik Amerika Serikat (AS) yang memanfaatkan celah identitas untuk melumpuhkan potensi kekuatan kolektif dunia Islam dari dalam.
Strategi divide and conquer (pecah belah dan kuasai) yang diterapkan Washington adalah warisan kolonial yang telah dimodernisasi secara canggih. Dengan memanipulasi sentimen sektarian, AS berhasil menciptakan musuh-musuh internal di dalam tubuh umat Islam. Hal ini membuat negara-negara Muslim lebih sibuk saling menghancurkan satu sama lain daripada bersatu menentang hegemoni ekonomi dan militer Barat di wilayah mereka.
Narasi “Bulan Sabit Syiah” atau “Ancaman Wahabisme” seringkali merupakan produk dari pusat-pusat pemikir (think tanks) di Washington yang kemudian diamplifikasi oleh media global. Propaganda ini bertujuan untuk menciptakan ketakutan eksistensial antar-kelompok, sehingga negara-negara seperti Arab Saudi atau Iran merasa perlu mencari “pelindung” militer. Di sinilah Amerika masuk sebagai pahlawan sekaligus penjual senjata, mengeruk keuntungan dari ketegangan yang mereka ikut pupuk.
Intervensi Amerika di Irak pada tahun 2003 adalah bukti nyata bagaimana politik identitas dipaksakan untuk meruntuhkan struktur sosial. Dengan membubarkan sistem yang ada dan memperkenalkan sistem politik berbasis kuota sektarian (muhasasa), AS secara sadar melembagakan perpecahan Sunni-Syiah. Dampaknya adalah perang saudara berkepanjangan yang melemahkan Irak sebagai kekuatan regional yang dulunya merupakan penyeimbang di Timur Tengah.
Keterlibatan Amerika dalam konflik Suriah dan Yaman juga menunjukkan pola serupa. Di sana, perbedaan mazhab dieksploitasi hingga menjadi komoditas politik yang mematikan. Dengan melabeli satu pihak sebagai representasi “Sunni” dan pihak lain sebagai “Syiah”, Washington berhasil mengalihkan substansi konflik dari perebutan kedaulatan dan sumber daya menjadi perang suci yang tak berujung, yang hanya menguntungkan industri senjata Barat.
Lebih jauh lagi, stigmatisasi ini berfungsi untuk mematikan nalar kritis umat Islam terhadap isu-isu yang lebih mendesak seperti kemiskinan, pendidikan, dan ketergantungan teknologi. Ketika seorang Muslim diajarkan untuk lebih takut pada saudaranya yang berbeda mazhab daripada takut pada eksploitasi sumber daya alam oleh korporasi asing, maka propaganda tersebut telah mencapai kemenangan mutlaknya.
Politik luar negeri AS di Timur Tengah selalu memiliki variabel tetap, keamanan Israel dan aliran minyak. Dengan menjaga Sunni dan Syiah dalam keadaan konflik yang permanen, Amerika memastikan bahwa tidak akan ada blok kekuatan Islam yang cukup solid untuk mengancam kepentingan ekonomi mereka atau menantang dominasi Israel di kawasan tersebut. Perpecahan adalah jaminan keamanan bagi status quo imperialisme.
Propaganda ini juga bekerja melalui infiltrasi budaya dan media sosial, di mana algoritma seringkali mempertemukan konten-konten provokatif yang memperuncing kebencian sektarian. Amerika memahami betul bahwa “identitas” adalah senjata yang lebih murah dan efektif daripada bom nuklir. Menghancurkan sebuah peradaban dari dalam melalui kebencian saudara jauh lebih efisien daripada pendudukan militer secara langsung.
Kenyataannya, di tingkat akar rumput, Sunni dan Syiah telah hidup berdampingan, menikah, dan berdagang selama bergenerasi-generasi tanpa konflik massal yang sistematis sebelum intervensi politik modern masuk. Narasi kebencian yang kita lihat hari ini adalah “barang impor” yang dirancang untuk melayani agenda geopolitik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran teologis maupun keselamatan spiritual.
Oleh karena itu, selama umat Islam masih terjebak dalam jebakan sektarianisme yang dipasang oleh Washington, mereka akan terus menjadi bidak dalam papan catur politik global Amerika. Menyadari bahwa Sunni dan Syiah dalam konteks konflik hari ini adalah konstruksi politik luar negeri merupakan langkah pertama untuk merebut kembali kedaulatan berpikir dan menghentikan pembunuhan saudara seagama demi kepentingan asing. (*Dosen Universitas Pendidikan Mandalika)












