Search

Takdir sebagai Panggilan Perlawanan, Perspektif Ali Syariat

Penulis. (Kata Kaltim)

Oleh: Ismail Amin Pasannai*

Bagi Ali Syariati, takdir bukanlah selimut pasrah yang meninabobokan manusia dalam ketidakberdayaan, melainkan panggilan tanggung jawab yang membangunkan kesadaran untuk bergerak. Ia menolak keras pemahaman takdir yang berhenti pada kepatuhan buta terhadap nasib. Dalam pandangannya, takdir bukan alasan untuk tunduk, tetapi alasan untuk bangkit.

Syariati membedakan dua bentuk takdir: takdir sebagai hukum alam (sunnatullah) dan takdir sebagai ruang pilihan manusia. Yang pertama bersifat tetap: manusia lahir, menua, dan mati. Tetapi yang kedua bersifat terbuka: manusia diberi kebebasan untuk menentukan arah hidupnya, menjadi penindas atau pembebas, pengecut atau pejuang. Di sinilah letak martabat manusia menurut Syariati: ia bukan robot kosmik, tetapi subjek sejarah.

Ia menggugat keras mentalitas fatalistik dalam masyarakat beragama yang mengatakan, “Ini sudah takdir,” ketika melihat kemiskinan, kezaliman, dan penindasan. Bagi Syariati, kalimat itu sering kali bukan dzikir, melainkan alat ideologis kaum penindas untuk melumpuhkan keberanian kaum tertindas. Takdir yang dipahami secara salah menjelma menjadi candu sosial.

Dalam pembacaan Syariati terhadap kisah Nabi dan para imam, takdir selalu berjalan seiring pilihan sadar. Imam Hussein, misalnya, tidak pergi ke Karbala karena “terpaksa oleh takdir,” tetapi karena memilih takdir perlawanan. Ia tahu akan dibunuh, tetapi ia juga tahu bahwa diam berarti mengkhianati kebenaran. Di titik ini, takdir dan kebebasan menyatu dalam bentuk paling tinggi: kesadaran berkorban demi keadilan.

Syariati memandang bahwa manusia diciptakan dalam tegangan antara “tanah” dan “ruh’, antara kecenderungan rendah dan panggilan ilahi. Takdir tidak memaksa manusia menjadi apa pun, tetapi menyediakan medan ujian: apakah ia akan jatuh ke lumpur sejarah atau bangkit menjadi subjek perubahan sejarah. Maka hidup, bagi Syariati, adalah proyek menjadi, bukan sekadar menerima.

Dalam kerangka ini, doa pun tidak dipahami sebagai permintaan pasif, tetapi sebagai pernyataan sikap. Berdoa adalah menata kehendak agar sejalan dengan misi pembebasan. Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, kata Syariati mengutip Qur’an, kecuali kaum itu sendiri mengubah apa yang ada dalam dirinya. Takdir bergerak melalui tangan manusia.

Oleh karenanya, takdir dalam pandangan Ali Syariati adalah takdir yang harus diperjuangkan. Ia bukan titik akhir, melainkan titik awal. Ia bukan penjara, melainkan medan tempur. Manusia tidak ditakdirkan untuk kalah, melainkan ditakdirkan untuk memilih: menjadi bagian dari arus sejarah yang menindas, atau menjadi obor kecil yang melawannya, meski sendiri. Sejalan dengan Ali Syariati Soe Hok Gie pernah berkata, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” (*Cendekiawan Muslim Indonesia)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA