Search

Syahidnya Simbol Perlawanan dan Keteguhan di Gaza; Siapakah “Abu Ubaidah”?

“Syuhada anonim paling terkenal Palestina” yang bersamaan dengan pengumuman kabar syahidnya, tabir berbagai rahasia yang lama tersimpan tentang dirinya pun tersingkap. Ia menjadi simbol perlawanan dan keteguhan dalam menghadapi agresi rezim Zionis. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Gerakan Perlawanan Islam Hamas pada hari Senin, melalui sebuah pernyataan resmi, mengonfirmasi kesyahidan “Abu Ubaidah”, mantan juru bicara sayap militer gerakan tersebut. Hamas menyatakan bahwa komandan besar ini gugur sebagai syahid setelah menjadi target pemboman pengecut dan keji tentara Zionis, bersama anggota keluarganya di Gaza, tanah keteguhan dan jihad, saat ia berdiri dengan gagah berani menghadapi musuh dan tidak pernah berpaling dari medan perjuangan. “Abu Ubaidah” mengorbankan nyawanya dalam pertempuran paling mulia dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina, yaitu Operasi “Badai Al-Aqsa”, demi cita-cita suci yang selama bertahun-tahun ia suarakan dengan lantang.

Dalam pernyataan itu, Hamas memperingatkan musuh Zionis bahwa pembunuhan terhadap para pemimpin, komandan, dan simbol-simbol perlawanan tidak akan pernah mampu mematahkan tekad rakyat Palestina. Kejahatan-kejahatan ini justru semakin menambah kekuatan, keteguhan, dan komitmen Hamas untuk mempertahankan hak-haknya dalam membela tanah air dan tempat-tempat suci. Sejarah Hamas telah membuktikan bahwa gerakan ini setiap kali kehilangan para pemimpinnya sebagai syahid, justru kembali dengan lebih kuat, lebih solid, dan dengan tekad yang lebih baja untuk menghantam musuh.

Syahid “Abu Ubaidah” dalam lintasan waktu; 20 tahun menjadi juru bicara militer Hamas

Hamas untuk pertama kalinya mengungkap identitas asli “Abu Ubaidah”. Nama lengkapnya adalah “Hudzaifah Samir Al-Kahlout”, dengan kuniyah “Abu Ibrahim”, yang berperan sebagai juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam.

Riwayat hidup dan kepribadian Syahid Al-Kahlout

Syahid Hudzaifah Al-Kahlout berasal dari desa “Na’liyah” di wilayah Palestina yang diduduki, tempat keluarganya terusir pada peristiwa Nakbah tahun 1948 dan kemudian menetap di Kamp Pengungsi Jabalia di utara Gaza.

Menurut sumber-sumber Palestina dan Zionis, ia beberapa kali menjadi target upaya pembunuhan. Pesawat tempur Zionis berulang kali membombardir rumahnya sejak perang pertama melawan Jalur Gaza pada tahun 2008, kemudian pada perang tahun 2012 dan 2014, dan selama genosida terbaru ini pun berbagai upaya serius dilakukan untuk membunuhnya.

Syahidnya simbol perlawanan dan keteguhan di Gaza; siapa “Abu Ubaidah”?

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan situs surat kabar Zionis Yedioth Ahronoth pada 25 Juli 2014, kehidupan keamanan ketat yang dijalani Abu Ubaidah tidak menghalanginya untuk melanjutkan pendidikan akademik. Ia berhasil meraih gelar magister pada tahun 2013 dari Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Gaza, dengan tesis berjudul “Tanah Suci antara Yudaisme, Kristen, dan Islam”. Ia bahkan telah mempersiapkan diri untuk meraih gelar doktor di masa mendatang.

Menurut analis politik Iyad Al-Qarra, Abu Ubaidah memiliki kepribadian yang seimbang dan mampu menjaga kerahasiaan dirinya, sesuatu yang memberinya wibawa dan ciri khas tersendiri. Ia menjalankan perang psikologis dengan menargetkan tentara dan masyarakat Zionis.

Al-Qarra menilai bahwa sosok Abu Ubaidah merupakan salah satu senjata propaganda atau perang media terpenting yang dimiliki Hamas dalam seluruh perang dan konfrontasinya melawan penjajah. Sebagaimana rakyat Palestina dan para pendukungnya menantikan pidato-pidatonya, tentara Zionis, aparat intelijennya, bahkan opini publik Israel pun terus memantaunya.

Abu Ubaidah; sosok yang benar-benar unik

Syahid Palestina anonim ini meraih ketenaran yang sangat khas, meski ia sendiri tidak pernah mencarinya. Setelah Operasi Badai Al-Aqsa, Abu Ubaidah terus menantang risiko dan tampil dengan wibawa khasnya, mengenakan pakaian militer, keffiyeh merah, serta ikat kepala hijau bertuliskan “Brigade Al-Qassam”, hadir di garis depan perang informasi dan perang psikologis melawan musuh Zionis.

Abu Ubaidah dikenal memiliki kefasihan tinggi dalam bahasa Arab, yang menjadikannya seorang pejuang tangguh di medan media. Menurut para pakar dan pengamat, kata-katanya menghantam musuh layaknya peluru, sementara keyakinan dan kepastian dirinya tercermin dalam ungkapan-ungkapannya yang tegas, berirama, dan terukur.

Iyad Al-Qarra, penulis dan analis politik, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tidak diragukan lagi kepribadian Abu Ubaidah sangat unik dalam berbagai aspek, terutama melalui konsistensinya menjaga penampilan, pakaian militer, dan penutup wajahnya selama bertahun-tahun.

Menurut Al-Qarra, Syahid Al-Kahlout sama besarnya perhatiannya terhadap bentuk, waktu, dan muatan pidato-pidato militernya, sebagaimana perhatiannya terhadap penampilan dan kehadirannya yang rapi. Ia menambahkan bahwa Abu Ubaidah tetap melanjutkan kehadiran medianya bahkan ketika Israel secara intensif memburunya.

Sejak kemunculan pertamanya dalam sebuah konferensi pers di dalam Masjid “An-Nur” di utara Jalur Gaza, selama Pertempuran Hari-Hari Kemarahan pada tahun 2004, Abu Ubaidah menempatkan dirinya dalam lingkaran ketat kerahasiaan dan privasi. Upaya intelijen rezim Zionis untuk memaksanya meninggalkan pendekatan ini atau menggoyahkan ketenangannya pun selalu gagal.

Peran menonjol Abu Ubaidah setelah 7 Oktober

Sejumlah pidato terpenting Abu Ubaidah disampaikan setelah operasi Hamas pada 7 Oktober 2023. Beberapa hari setelah perang dimulai, ia menyatakan bahwa perencanaan operasi 7 Oktober telah dimulai sejak tahun 2021, setelah perang yang berlangsung selama 11 hari pada Mei tahun tersebut. Ia menambahkan bahwa sekitar 4.500 anggota Hamas terlibat dalam pelaksanaan operasi itu, dengan 3.000 di antaranya berada langsung di medan.

Syahidnya simbol perlawanan dan keteguhan di Gaza; siapa “Abu Ubaidah”?

Abu Ubaidah menjelaskan bahwa salah satu tujuan Operasi “Badai Al-Aqsa” adalah menghancurkan “Brigade Gaza” dalam tentara Israel, yang merupakan bagian dari Komando Selatan militer tersebut. Dalam pidatonya, ia mengatakan, “Tipu daya strategis, perencanaan militer, dan pelaksanaan operasi yang mengagumkan telah mengejutkan musuh.” Ia juga menambahkan, “Musuh tahu bahwa mereka menghadapi kekalahan strategis yang serius. Setelah kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat mencolok ini, kini mereka melakukan kejahatan-kejahatan mengerikan terhadap warga sipil tak berdosa.”

Salah satu pidato Abu Ubaidah yang paling terkenal adalah ketika ia mengkritik para pemimpin Arab atas ketidakmampuan mereka menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ia mengatakan bahwa ketidakmampuan para penguasa Arab dalam mengirimkan bantuan kepada rakyat Gaza sungguh mengejutkan, dan hal itu juga mengejutkan Hamas.

Bagaimana pandangan rezim Zionis terhadap Abu Ubaidah?

Rezim Zionis memandang Abu Ubaidah sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dan simbolik dalam gerakan Hamas. Pidato dan pernyataannya secara rutin diikuti oleh opini publik Israel, meskipun identitas aslinya selalu diselimuti misteri.

Selama perang Gaza tahun 2014, situs Israel Yedioth Ahronoth mempublikasikan nama “Hudzaifah Samir Abdullah Al-Kahlout” beserta sebuah foto yang diklaim sebagai Abu Ubaidah, namun Hamas membantah laporan tersebut. Media itu menulis bahwa upaya mengungkap identitas Abu Ubaidah bertujuan untuk menghancurkan “aura” yang terbentuk di sekelilingnya, yang menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Hamas.

Sanksi Amerika terhadap Abu Ubaidah

Amerika Serikat pada April 2024 menjatuhkan sanksi terhadap Abu Ubaidah dan menyebutnya sebagai “komandan perang informasi” dalam gerakan Hamas. Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa Abu Ubaidah bertanggung jawab memimpin “unit pengaruh siber Brigade Al-Qassam”.

Meski suara Abu Ubaidah kini telah terdiam dengan pengumuman resmi kesyahidannya oleh Brigade Al-Qassam—yang menyatakan ia gugur pada Agustus lalu akibat serangan udara teroris tentara rezim Zionis dan pemboman rumahnya—namun warisan perjuangan dan pengaruhnya akan tetap hidup dan abadi. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA