BERITRAALTERNATIF – Peringatan demi peringatan dari para pejabat dan jenderal purnawirawan militer rezim Zionis dalam beberapa bulan terakhir menghadirkan gambaran keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika sebelum 7 Oktober 2023 keamanan Israel selalu digambarkan sebagai sebuah “mitos yang tak terkalahkan”, kini banyak dari para komandan itu justru menegaskan bahwa Operasi Thufan al-Aqsha hanyalah awal dari proses keruntuhan. Beberapa hari lalu, Channel 13 televisi rezim Zionis melaporkan bahwa 600 mantan pejabat di lembaga-lembaga keamanan Israel mengirim surat kepada Menteri Perang kabinet Netanyahu, Yisrael Katz, untuk memperingatkan bahaya meningkatnya terorisme Yahudi di Tepi Barat.
Di sisi lain, Jenderal Yitzhak Brick, salah satu kritikus utama kebijakan militer dan keamanan Tel Aviv, memperingatkan apa yang ia sebut sebagai “skenario Hari Kiamat”. Menurutnya, serangan serentak dari berbagai front dapat menyebabkan Israel runtuh dari dalam dan luar secara bersamaan. Analisis atas pernyataannya, jika disandingkan dengan kajian berbagai sumber Arab, menunjukkan bahwa struktur keamanan rezim ini tengah menghadapi krisis yang bahkan tidak pernah dialami dalam perang-perang terberat selama beberapa dekade terakhir.
Krisis keamanan tersebut tidak hanya terbatas pada medan perang. Militer Israel yang dulu dengan propaganda media mengklaim diri sebagai angkatan bersenjata terkuat di kawasan, kini menghadapi kekurangan serius dalam sumber daya manusia, perwira berpengalaman, serta pasukan cadangan. Laporan internal militer menunjukkan adanya kekurangan lebih dari 1.600 perwira di tingkat menengah dan senior. Diperkirakan hingga 30 persen komandan senior akan pensiun atau keluar dari dinas dalam beberapa tahun mendatang. Hanya sekitar 37 persen perwira yang bersedia memperpanjang kontrak mereka, sementara jumlah pasukan cadangan yang selama ini menjadi tulang punggung militer terus menurun. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan penanda runtuhnya sebuah mitos yang dibangun selama lebih dari tujuh dekade dengan darah rakyat Palestina.
Perang Multifrontal
Jenderal Brick menegaskan bahwa Israel tidak lagi mampu mengelola perang terbatas atau perang satu front. Berdasarkan analisisnya, Poros Perlawanan yang meliputi Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, Ansarullah Yaman, serta kelompok-kelompok aktif di Suriah dan Tepi Barat, telah memulai tahap persiapan untuk sebuah serangan terkoordinasi dan multidimensi. Serangan ini akan dilancarkan dari utara, timur, dan selatan, dengan porsi signifikan berupa serangan darat dan bombardir besar-besaran. Para analis Arab juga menekankan bahwa konsep perang satu front telah runtuh, dan Poros Perlawanan kini memiliki struktur terpadu yang mampu mengoordinasikan operasi serentak di berbagai medan.
Krisis ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan tempur. Kekurangan perwira berpengalaman, tekanan psikologis, dan menurunnya motivasi pasukan cadangan menciptakan kombinasi yang sangat berbahaya bagi militer Israel. Perwira-perwira minim pengalaman dengan cepat ditempatkan di posisi-posisi sensitif, sementara pasukan cadangan menghadapi masalah ekonomi dan tekanan mental, sehingga banyak di antara mereka diperkirakan enggan kembali bertugas di masa depan. Kondisi ini menjadikan militer Israel sebagai kekuatan yang tampak besar di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik. Dalam situasi seperti ini, setiap serangan serentak dari Poros Perlawanan berpotensi tidak hanya menekan front militer, tetapi juga melumpuhkan sistem logistik dan keamanan internal Israel serta memicu krisis domestik.
Ancaman Front Utara
Hizbullah, pasca perang 2025, dengan cepat membangun kembali dan meningkatkan kapabilitasnya. Struktur persenjataan roket, armada drone, dan pasukan elit tempur telah mengalami peningkatan signifikan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa front utara kini menjadi ancaman yang jauh lebih serius dibandingkan sebelumnya, dan kesepakatan gencatan senjata tidak menghalangi kesiapan tempur kelompok tersebut. Jika operasi bersama benar-benar dimulai, kemampuan militer Israel untuk mengelola beberapa front secara bersamaan akan sangat terbatas. Ditambah lagi dengan kekurangan perwira berpengalaman dan menurunnya motivasi pasukan cadangan, kapasitas operasional militer akan melemah drastis. Para analis menilai bahwa kombinasi faktor-faktor ini menempatkan Israel pada risiko runtuhnya sistem operasional di wilayah utara, dan setiap skenario baru dapat menghadirkan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap struktur pertahanan rezim tersebut.
Ancaman dari Timur dan Yordania
Pembentukan sel-sel militer dan jaringan bersenjata di perbatasan Yordania menjadi ancaman potensial lain yang disoroti Jenderal Brick. Sejumlah individu yang ditangkap dilaporkan telah menerima pelatihan di Lebanon dan diduga memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran. Tujuan dari jaringan ini adalah menciptakan front timur untuk memberikan tekanan serentak terhadap Israel dari berbagai arah. Jika jaringan-jaringan ini diaktifkan, militer Israel akan dipaksa membagi sumber daya yang terbatas ke tiga front sekaligus, sebuah skenario yang hampir mustahil diwujudkan dalam kondisi kekurangan pasukan cadangan dan perwira berpengalaman saat ini.
Di luar ancaman militer, tekanan ekonomi juga memperumit situasi. Pasukan cadangan yang lama meninggalkan aktivitas bisnis mereka kini menghadapi utang dan kesulitan finansial. Banyak pemuda terlatih memilih meninggalkan Israel, sebuah tren migrasi yang mengancam fondasi masa depan militer. Ketika fenomena ini digabungkan dengan kekurangan perwira, kemampuan operasional rezim dalam kondisi krisis akan menurun secara drastis.
Front Selatan dan Yaman
Operasi drone dan rudal Ansarullah Yaman di Laut Merah dan Laut Arab telah mengancam jalur perdagangan Israel dan negara-negara Barat. Media Yaman melaporkan bahwa pasukan terlatih Ansarullah telah bertahun-tahun berada di Suriah dan kini memiliki kemampuan untuk melancarkan operasi langsung terhadap Israel. Situasi ini menciptakan front baru di selatan yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam doktrin lama militer Israel, dan berpotensi melumpuhkan sistem logistik serta keamanan rezim tersebut.
Runtuhnya Keamanan Internal
Krisis ini tidak hanya terjadi di luar wilayah pendudukan. Di dalamnya, komunitas Badui di selatan dan kelompok-kelompok Arab yang tinggal di wilayah pendudukan 1948, dengan akses luas terhadap senjata, dipandang sebagai ancaman potensial bagi keamanan kota-kota. Basis-basis militer berada dalam kondisi memprihatinkan, sementara pencurian senjata dan peralatan semakin meluas. Para analis memperingatkan bahwa kekurangan personel terlatih, lemahnya komando, dan menurunnya motivasi aparat dapat memicu krisis keamanan internal dan runtuhnya ketertiban umum.
Situasi ini juga menggerus kepercayaan publik terhadap militer dan kabinet pemerintahan, serta memperlebar jurang antara masyarakat dan kepemimpinan politik. Setiap insiden kecil berpotensi menjadi pemicu kerusuhan dan krisis sosial, sebuah skenario yang oleh Jenderal Brick disebut sebagai “Hari Kiamat internal”.
Kesimpulan
Israel kini tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengelola perang regional atau bahkan krisis internal secara bersamaan. Kombinasi kekurangan sumber daya manusia terlatih, merosotnya motivasi pasukan cadangan, polarisasi sosial, tekanan ekonomi, dan ancaman dari berbagai front telah menempatkan rezim Zionis di ambang keruntuhan keamanan dan sosial. Skenario “Hari Kiamat” yang disampaikan para jenderalnya merupakan pengakuan terang-terangan atas perubahan total keseimbangan kekuatan di kawasan. Fakta ini kini tidak lagi datang dari analisis musuh, melainkan dari kesaksian para perwira Zionis sendiri. Krisis internal, militer yang kelelahan dan rapuh, telah membawa Israel ke tepi jurang yang jalan kembali darinya akan sangat sulit. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












