BERITAALTERNATIF.COM – Kekerasan politik di Amerika Serikat, dari pembunuhan Charlie Kirk hingga rentetan serangan pada tahun 2025, mencerminkan adanya krisis mendalam. Krisis ini akan terus berlanjut jika polarisasi tidak dikurangi, ketidakadilan tidak dibenahi, dan para pemimpin—termasuk Donald Trump—tidak menahan diri.
Dalam beberapa hari terakhir, pembunuhan Kirk, pendiri kelompok konservatif Turning Point USA sekaligus sekutu dekat Trump, mengguncang masyarakat Amerika.
Kirk tewas pada 10 September 2025 saat sedang berpidato di Universitas Utah Valley, Orem. Dia ditembak di bagian leher di hadapan lebih dari 3.000 orang. Gubernur Utah menyebut peristiwa ini sebagai “pembunuhan politik.” Pelaku, Tyler Robinson berusia 22 tahun, akhirnya ditangkap setelah pengejaran besar-besaran.
Kejadian itu hanyalah episode terbaru dari rangkaian panjang kekerasan politik yang sejak 2021 terus meningkat, hingga para pakar menyebutnya sebagai “era baru kekerasan.”
Pada April 2025, kediaman Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro di Harrisburg menjadi sasaran pembakaran. Pelaku, Cody Balmer (38 tahun), melempar bom molotov ke jendela rumah sehingga Shapiro dan keluarganya harus melarikan diri.
Ia menyebut Shapiro sebagai “monster” dan memprotes kebijakannya terkait Palestina. Balmer didakwa dengan tuduhan terorisme, percobaan pembunuhan, serta pembakaran. Shapiro menilai insiden itu menunjukkan adanya “kegagalan besar dalam keamanan.”
Musim panas 2025 juga dipenuhi serangan. Pada Juni, mantan Ketua DPR Minnesota Melissa Hortman dan suaminya, Mark, dibunuh di rumah mereka di Brooklyn Park. Beberapa jam sebelumnya, Senator John Hoffman dan istrinya, Yute, diserang dan terluka di Champlin.
Pelaku, Vance Boelter (57 tahun), menyamar sebagai polisi palsu dan membawa daftar target berisi puluhan pejabat Demokrat. Setelah dua hari pengejaran, ia ditangkap dan dikenai dakwaan pembunuhan serta kepemilikan senjata ilegal. Gubernur Tim Walz menyebut kejadian itu sebagai “kekerasan politik yang terarah.”
Pada Agustus 2025, markas CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) di Atlanta ditembaki, menewaskan seorang polisi bernama David Rose. Pelaku, Patrick Joseph White (30 tahun), tidak percaya pada vaksin Covid-19 dan menembaki gedung CDC hingga banyak kaca pecah. FBI menyelidikinya sebagai serangan akibat informasi palsu. Di rumahnya ditemukan lima senjata api dan catatan terkait pikiran bunuh diri.
Serangkaian kejadian itu terhubung dengan insiden sebelumnya, seperti serangan ke gedung Capitol pada 6 Januari 2021 (menewaskan 5 orang dan melukai lebih dari 140), serta dua upaya pembunuhan terhadap Trump pada 2024, salah satunya mengenai telinganya. Trump menuduh “kaum kiri radikal” berada di balik pembunuhan Kirk, yang semakin memperlihatkan pola saling menyalahkan dan memperdalam jurang polarisasi.
Gambaran Lebih Luas
Data statistik menunjukkan peningkatan tajam kekerasan politik. Menurut Reuters, sejak Januari 2021 hingga September 2025 terjadi sedikitnya 300 kasus kekerasan politik, angka tertinggi sejak 1970-an.
Pusat START di Universitas Maryland mencatat lebih dari 600 insiden antara 2021 hingga awal 2025, dengan 80% terkait ekstremisme kanan, meski serangan dari pihak kiri maupun kelompok independen juga meningkat.
Sejak Januari 2025 saja, sedikitnya 21 orang tewas dalam kekerasan politik, termasuk 14 korban dalam serangan malam tahun baru di New Orleans yang dikaitkan dengan ISIS.
Sementara itu, inisiatif Bridging Divides dari Universitas Princeton melaporkan lebih dari 250 kasus ancaman atau pelecehan terhadap pejabat lokal di 40 negara bagian hanya dalam paruh pertama 2025—meningkat 9% dibanding tahun sebelumnya. FBI mencatat 11.679 insiden kejahatan kebencian sepanjang 2024, dengan lebih dari 14 ribu korban, menjadikannya tahun terburuk kedua sejak 1991. Survei NPR/PBS/Marist pada Maret 2025 menunjukkan 75% warga Amerika menganggap kekerasan politik sebagai “masalah besar.”
Akar dan Penyebab
Ketimpangan ekonomi menjadi salah satu faktor utama. Menurut Bank Dunia, indeks gini Amerika naik dari 0,34 pada 1980-an menjadi 0,41 pada 2024. Pandemi Covid-19 memperburuknya, dengan peningkatan kemiskinan relatif hingga 20%.
Polarisasi politik yang diperkuat media sosial dan berita kabel menciptakan ruang gema di mana orang hanya terpapar pandangan yang seragam. Ditambah lagi, kemudahan akses terhadap senjata api—sekitar 393 juta unit beredar, lebih banyak dari jumlah penduduk—membuat setiap konflik berpotensi berujung mematikan.
Keterlibatan militer Amerika di luar negeri juga berpengaruh. Sejak 1950, Amerika melakukan lebih dari 200 intervensi militer. Perang di Afghanistan dan Irak merenggut lebih dari 7.000 nyawa tentara AS serta biaya sekitar 8 triliun dolar, meninggalkan banyak veteran dengan trauma mendalam.
Perubahan demografi, seperti menurunnya jumlah warga Protestan kulit putih dari 51% pada 2008 menjadi 42% pada 2024, memicu kecemasan rasial dan serangan terhadap imigran maupun kelompok minoritas. Laporan Ash Center tahun 2024 menegaskan bahwa retorika provokatif para pemimpin politik mempercepat ledakan kekerasan, hingga jumlah serangan politik pada paruh pertama 2025 dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Serangan terhadap Pengambil Keputusan
Kegagalan para pejabat dalam mengatasi kekerasan politik justru memperburuk keadaan. Meski FBI pada 2025 sudah memperingatkan ancaman tinggi terorisme domestik, Kongres tidak kunjung meloloskan aturan kontrol senjata, bahkan Mahkamah Agung memperlonggar akses senjata.
Alih-alih mengambil langkah nyata, politisi justru saling menyalahkan. Trump menuding kaum kiri radikal sebagai dalang pembunuhan Kirk, sedangkan Demokrat menuduh kelompok kanan berada di balik serangan di Minnesota.
Kondisi ini membuat para pejabat seperti Shapiro, Hortman, dan Hoffman menjadi target langsung, sekaligus mengancam jalannya demokrasi.
Peran Donald Trump
Kebangkitan Trump pada 2016 mencerminkan kemarahan publik terhadap elit politik lama. Slogannya “mengeringkan rawa politik” menarik simpati masyarakat yang muak dengan ketidakadilan dan perang tanpa akhir.
Namun kini Trump bukan sekadar hasil dari kemarahan publik, tetapi juga penyebab memburuknya situasi. Ucapan-ucapannya yang penuh hinaan kepada lawan, minoritas, dan media makin memperdalam polarisasi. Sejak 2016, lebih dari 50 kasus kekerasan menyebut nama Trump secara langsung.
Kerusuhan 6 Januari 2021 di Capitol jelas dipicu oleh retorikanya. Selama masa jabatan pertamanya (2017–2021), jumlah kasus kekerasan politik naik 45% dan ancaman terhadap pejabat publik meningkat hingga 300%.
Kekerasan politik di Amerika, dari pembunuhan Kirk hingga gelombang serangan sepanjang 2025, memperlihatkan sebuah krisis serius. Tanpa pengurangan polarisasi, perbaikan kesenjangan sosial, serta pengendalian diri dari para pemimpin—terutama Donald Trump—siklus ini akan terus berulang. Para pakar memperingatkan bahwa Amerika kini benar-benar memasuki “era baru kekerasan.” (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












