BERITAALTERNATIF.COM – Banyak artikel dari media arus utama Barat telah membahas keberhasilan kampanye komunikasi Iran selama perang ini, terutama video Lego yang viral di internet.
Skala fenomena ini jauh lebih besar daripada yang tampak sekilas, karena operasi ini melemahkan salah satu upaya paling intens dan berhasil yang dilakukan Amerika Serikat sejak mengadopsi kebijakan luar negeri imperialistik yang agresif di panggung internasional.
Inilah sebabnya hampir semua artikel Barat, setelah memberikan apresiasi yang setengah hati terhadap kualitas video tersebut, kemudian berusaha merendahkannya—dengan menyiratkan kemungkinan keterkaitan pembuatnya dengan Garda Revolusi Iran, atau mencoba membantah isinya (misalnya menyatakan bahwa “kekaisaran Persia yang agung tidak ada hubungannya dengan teokrasi Iran yang represif dan fanatik”). BBC juga menekankan bahwa video tersebut “dipenuhi ketidakakuratan fakta”.
Masalahnya, semua upaya untuk membendung keberhasilan operasi media Iran ini gagal, karena mereka mengabaikan fakta penting bahwa audiens utama komunikasi Iran bukanlah pembaca BBC atau Washington Post. Audiensnya adalah generasi muda yang belum sepenuhnya terpapar propaganda Barat selama puluhan tahun, sehingga lebih terbuka terhadap sudut pandang alternatif. Tidak mengherankan, kelompok ini—menurut survei Pew Research Center—semakin menunjukkan sikap kritis terhadap pelanggaran hukum sipil dan moral yang dilakukan oleh Israel, khususnya dalam dua setengah tahun terakhir.
Pada 26 Maret, Forbes mencatat 145 juta penayangan dan puluhan ribu pembagian untuk video Lego yang diproduksi oleh perusahaan Iran, Explosive Media.
Di platform X, jumlah pengikut akun kedutaan Iran juga meningkat tajam. Di antaranya, yang paling aktif dan populer adalah kedutaan di Zimbabwe dengan 87.000 pengikut, serta kedutaan di Afrika Selatan dengan lebih dari 160.000 pengikut.
Presiden Masoud Pezeshkian memiliki hampir 600.000 pengikut, dan Menteri Luar Negeri Sayyid Abbas Araghchi lebih dari 700.000 pengikut—dan semuanya bertambah sekitar seribu pengikut baru setiap hari.
Video lain yang juga viral adalah ketika juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengejek Presiden AS Donald Trump dengan membalik dua slogan terkenalnya: “You’re fired” dan “Thank you for your attention to this matter”.
Demikian pula, foto pesan dan dedikasi pada drone serta rudal oleh Garda Revolusi Iran menyebar luas ke seluruh dunia, terutama yang membawa slogan One Vengeance for All, yang mengaitkan perjuangan Iran dengan perjuangan global yang lebih luas.
Slogan ini diperkuat oleh video viral lain yang menampilkan rudal menghantam Patung Liberty, yang digambarkan sebagai simbol pembalasan terhadap sejarah panjang imperialisme AS—dari penduduk asli Amerika hingga Hiroshima, Vietnam, Yaman, Gaza, hingga pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani.
Sementara itu, Presiden Iran Pezeshkian juga menerbitkan surat terbuka kepada warga Amerika, menjelaskan penyebab perang dan meluruskan persepsi keliru tentang Iran yang dibentuk oleh media dan politisi AS.
Semua pesan ini, yang disebarkan melalui berbagai kanal, memiliki kesamaan: menggunakan bahasa Inggris dan gaya narasi khas produk hiburan AS—grafis kartun berwarna cerah, karakter sederhana, pesan singkat, serta musik rap sebagai latar.
Ini merupakan bentuk pengambilalihan total oleh Iran terhadap bahasa dan strategi komunikasi yang selama ini digunakan AS sejak era Hollywood untuk menyebarkan narasinya ke seluruh dunia.
Iran tampaknya telah merancang strategi media dengan sangat matang untuk melancarkan serangan balik besar-besaran di ranah komunikasi, sebagaimana juga di medan militer. Dan seperti di medan perang, Iran memanfaatkan kekuatan sendiri serta kelemahan lawan dengan efektif.
Operasi ini dianggap bersejarah, karena untuk pertama kalinya AS menjadi sasaran serangan media dalam skala sebesar ini.
Selama ini, AS selalu menginvestasikan sumber daya besar dalam perang komunikasi. Hubungan erat antara CIA dan Hollywood sudah lama dikenal, begitu pula upaya AS untuk mengontrol arus informasi global.
Pada tahun 2000, ekonom Prancis Serge Latouche menulis bahwa lima kantor berita transnasional menguasai 96% arus informasi global, dan 65% berita dunia berasal dari AS.
Meski internet kini membuat kontrol total menjadi lebih sulit, dominasi teknologi informasi masih memberi AS peran besar dalam membentuk opini publik global. Berbagai metode digunakan, seperti sensor gambar, penghapusan konten, pelarangan akun, hingga pelabelan bias terhadap media negara tertentu.
Di sisi lain, AS juga menginvestasikan miliaran dolar untuk menjalankan jaringan media di negara target, termasuk saluran berbahasa Persia untuk mempengaruhi masyarakat Iran.
Tujuan utamanya adalah menguasai narasi global—karena siapa yang menguasai narasi, menguasai persepsi dan realitas.
Penyebaran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional juga bukan proses yang sepenuhnya alami. Bahasa membawa nilai, ideologi, dan cara berpikir tertentu.
Perubahan istilah di Suriah, di mana kata “mosaic” (keberagaman setara) digantikan oleh “inclusivity” (yang mengandung asumsi adanya eksklusi), menunjukkan pengaruh narasi Barat dalam membentuk cara berpikir masyarakat.
Kontrol budaya juga bekerja dua arah: selain menyebarkan ideologi AS ke luar, juga membatasi masuknya perspektif asing ke dalam masyarakat Amerika. Hanya sekitar 3% buku di AS adalah terjemahan, dan sebagian besar dari Eropa Barat.
Film dan konten asing juga memiliki porsi kecil di pasar Amerika, menunjukkan dominasi budaya domestik.
Di Eropa, meski lebih terbuka, sensor tetap ketat—terutama terlihat dalam pemberitaan perang Suriah.
Promosi seniman oposisi dari negara-negara seperti China, Rusia, dan Iran juga digunakan untuk membentuk citra negatif terhadap pemerintah mereka.
Dalam konteks ini, operasi media Iran selama perang menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya: untuk pertama kalinya, negara asing berhasil menembus dominasi budaya Barat dan berbicara langsung kepada publiknya.
Bahasa Inggris, media sosial, dan budaya populer AS kini justru digunakan sebagai senjata melawan Washington.
Jika sebelumnya para pemimpin dunia harus bergantung pada media Barat untuk menyampaikan pesan, kini internet memungkinkan komunikasi langsung tanpa perantara.
Video animasi, postingan media sosial, hingga simbol-simbol visual semuanya menyasar audiens Barat secara langsung—menawarkan narasi alternatif terhadap propaganda AS selama puluhan tahun.
Dari sudut pandang bentuk, komunikasi ini efektif karena menggunakan ironi dan simbolisme—dua alat yang mampu menembus batas rasional dan menyentuh emosi.
Hal ini sebenarnya juga merupakan teknik yang sering digunakan media Barat sendiri.
Ada kemungkinan kelelahan di kalangan masyarakat Barat terhadap narasi perang yang terus-menerus, sehingga muncul ketertarikan pada pesan-pesan alternatif.
Akhirnya, media Barat yang terus berusaha mendiskreditkan Iran tampak berbicara kepada audiens yang semakin tidak mendengarkan mereka, sementara dunia digital justru merespons positif pesan-pesan dari Iran. (*)
Penulis: Roberta Rivolta
Sumber: Al Mayadeen












