Search

Sepuluh Hari Perang Membuktikan Target “Perubahan Rezim” di Iran Adalah Fantasi Mahal yang Sulit Dicapai

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah serangan militer besar terhadap Iran yang memicu eskalasi perang di kawasan Timur Tengah. (Presstv)

BERITAALTERNATIF –  Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan langkah yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai tindakan yang tidak terbayangkan. Keputusan tersebut diyakini akan tercatat dalam sejarah dan terus dikenang selama beberapa generasi ke depan. Dalam lebih dari lima ratus serangan udara, pasukan militer Amerika Serikat dan Israel secara bersama-sama meluncurkan rudal ke berbagai wilayah di Iran dengan menargetkan sejumlah tokoh penting, lembaga negara, serta warga sipil.

Beberapa jam setelah gelombang serangan itu terjadi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar konferensi pers dan menyatakan bahwa “semua tanda signifikan menunjukkan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan terbunuhnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Iran.” Pernyataan tersebut kemudian diikuti oleh unggahan dari Presiden Trump di platform Truth Social yang mengonfirmasi kabar tersebut. Tidak lama setelah itu, bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam sejak serangan dilancarkan, media pemerintah Iran juga mengonfirmasi perkembangan tersebut.

Kabar itu mengejutkan banyak pihak. Ribuan bahkan ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota di Iran untuk berkabung atas sosok yang mereka hormati sebagai pemimpin spiritual sekaligus pemimpin politik. Sejak awal, banyak pengamat menilai bahwa Amerika Serikat dan Israel sebenarnya telah menunjukkan bahwa perang ini tidak benar-benar berkaitan dengan program nuklir Iran. Program nuklir itu sejak awal dijadikan alasan atau dalih oleh Trump untuk menjelaskan kepada dunia mengapa Amerika Serikat memulai perang terhadap Iran.

Trump sebelumnya pernah menyatakan secara terbuka bahwa “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.” Namun pernyataan itu memunculkan pertanyaan karena pada Juni tahun sebelumnya ia sendiri pernah mengatakan bahwa Amerika Serikat telah menghancurkan seluruh fasilitas nuklir Iran dalam operasi yang disebut Operation Midnight Thunder ketika ia memerintahkan pemboman terhadap negara tersebut. Karena itu, ketika kini Washington kembali menyatakan bahwa perang terhadap Iran dilakukan karena program nuklir negara itu, banyak pihak menilai alasan tersebut sebagai sesuatu yang merendahkan akal sehat publik.

Tidak mengherankan jika perang ini mendapatkan penolakan luas dari masyarakat Amerika Serikat. Berbagai survei menunjukkan bahwa sekitar 78 persen warga Amerika menentang perang tersebut. Kondisi ini kemudian membuat pemerintah di Washington DC mengubah narasi mereka. Jika sebelumnya program nuklir Iran dijadikan alasan utama, kini pemerintah Amerika lebih sering berbicara tentang gagasan “perubahan rezim” di Iran. Namun pada titik ini, opini publik tampaknya tidak lagi menjadi pertimbangan utama karena banyak pengamat menilai bahwa para pendukung perang di Amerika dan elit politik di negara tersebut lebih memprioritaskan kepentingan Israel dibandingkan kepentingan rakyat Amerika sendiri.

Penolakan terhadap perang ini juga diperkirakan akan terus meningkat, terutama karena Trump beberapa kali mengubah alasan mengapa Amerika menyerang negara yang berdaulat tersebut. Kini ia tampak semakin terobsesi dengan gagasan “perubahan rezim” di Iran. Namun gagasan tersebut hampir pasti akan menelan biaya yang sangat besar bagi Amerika Serikat. Jika konflik ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa masa kepresidenan Trump akan ikut runtuh bersama dengan perang tersebut. Hal ini karena perubahan rezim di Iran tidak mungkin dilakukan tanpa pengerahan pasukan darat dan tanpa eskalasi militer yang sangat besar.

Tidak diragukan lagi bahwa dunia akan menghadapi masa-masa sulit ke depan. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, tatanan global dibangun di atas hukum internasional dan berbagai aturan bersama yang dihormati oleh negara-negara di dunia. Namun tindakan Amerika Serikat dalam konflik ini dianggap telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya karena mengabaikan hukum internasional serta lembaga-lembaga global seperti United Nations dan International Criminal Court.

Salah satu contoh tindakan kontroversial yang sering disebut adalah penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat. Namun tindakan yang dianggap lebih serius lagi adalah perang terhadap Iran yang dinilai ilegal dan dilakukan tanpa provokasi, serta dilancarkan tanpa persetujuan Kongres Amerika Serikat dan tanpa melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Karena itu, terdapat beberapa kemungkinan alasan mengapa Trump memutuskan untuk memulai perang tersebut. Pertama, perang ini mungkin merupakan perang pilihan yang didorong oleh rasa percaya diri berlebihan Amerika Serikat setelah operasi militer yang mereka lakukan di Venezuela. Setelah operasi di Caracas yang berujung pada penangkapan Maduro oleh pasukan Amerika, Trump dilaporkan terkejut sekaligus terkesan dengan kekuatan militer negaranya sendiri. Hal ini mungkin membuatnya berpikir bahwa ia dapat melakukan operasi militer cepat di Iran dengan serangan terbatas. Namun kenyataannya jauh berbeda dan keputusan tersebut bisa menjadi salah satu kesalahan perhitungan terbesar dalam masa kepresidenannya.

Alasan kedua yang sering disebut berkaitan dengan dokumen kontroversial yang dikenal sebagai berkas Jeffrey Epstein. Beberapa hari sebelum Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis informasi tambahan mengenai kasus Epstein, Trump disebut membutuhkan pengalihan perhatian dari publik terhadap kemungkinan munculnya pengungkapan baru yang bisa berdampak besar secara politik. Ia kemudian mengumumkan perang terhadap Iran pada akhir pekan, dan beberapa hari kemudian Departemen Kehakiman merilis informasi baru mengenai kasus tersebut. Namun pada saat itu perhatian publik sudah terfokus pada konflik militer.

Sejumlah media independen di Amerika bahkan menyebut konflik ini dengan istilah Operation Epstein Fury, berbeda dengan nama resmi yang digunakan oleh pemerintahan Trump yaitu Operation Epic Fury. Selain itu, alasan lain yang sering disebut adalah tekanan dari berbagai kelompok pro-Israel di Amerika Serikat, termasuk lobi Israel di Washington serta kelompok Zionis Kristen yang menjadi pendukung kuat Trump secara politik dan finansial.

Kelompok-kelompok tersebut memiliki keyakinan religius tertentu mengenai Armageddon—sebuah perang besar antara kekuatan baik dan kekuatan jahat yang diyakini akan terjadi pada akhir zaman. Menurut keyakinan tersebut, perang besar di Timur Tengah diyakini akan membuka jalan bagi kedatangan kembali sang mesias. Sementara itu, Netanyahu selama bertahun-tahun memang dikenal berupaya mendorong Amerika Serikat agar terlibat dalam perang dengan Iran. Tujuan utamanya disebut-sebut adalah melemahkan Iran dan memecah negara tersebut menjadi negara gagal seperti yang terjadi di Suriah atau Libya sehingga tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi proyek yang disebut sebagai Greater Israel.

Meskipun Amerika Serikat sering menyatakan memiliki militer paling kuat di dunia, banyak pengamat menilai bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya akurat. Militer Amerika memang sangat canggih dan mahal, tetapi keunggulan teknologi juga bisa menjadi kelemahan dalam perang yang berlangsung lama. Sistem persenjataan yang sangat mahal membuat setiap kerugian menjadi sangat besar secara finansial.

Contohnya terlihat pada awal konflik ketika Amerika Serikat dan Israel menembakkan 11 rudal pencegat untuk mencoba menghancurkan satu rudal Iran. Upaya tersebut diperkirakan menghabiskan biaya antara 11 juta hingga 33 juta dolar, sementara rudal Iran yang menjadi target hanya bernilai sekitar 100 ribu dolar. Jika perang ini berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun, maka biaya yang harus ditanggung Amerika Serikat dan Israel akan sangat besar.

Sejumlah analis juga berpendapat bahwa Iran sebenarnya tidak perlu memenangkan perang ini secara militer. Yang perlu mereka lakukan hanyalah bertahan. Sejarah menunjukkan bahwa perang tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kekuatan militer semata, tetapi juga oleh kemauan dan tekad rakyat untuk mempertahankan tanah air mereka.

Dalam Perang Vietnam, misalnya, Amerika Serikat menguasai wilayah udara Vietnam Utara selama bertahun-tahun. Namun pada akhirnya pasukan Amerika tetap gagal mencapai kemenangan dan akhirnya mundur setelah menghadapi perlawanan panjang dari rakyat Vietnam.

Situasi serupa bisa saja terjadi di Iran. Negara tersebut memiliki wilayah pegunungan yang luas dan kompleks, yang akan menjadi tantangan besar bagi pasukan asing jika mereka mencoba melakukan invasi darat. Pasukan yang menyerang akan sangat bergantung pada suplai udara, sementara pihak lokal lebih memahami medan wilayah tersebut.

Karena itu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pernah menyatakan bahwa jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengirim pasukan darat ke Iran, negara itu sudah siap menghadapi mereka.

Banyak pengamat menilai bahwa Iran tidak dapat dengan mudah dihancurkan atau dipaksa menyerah hanya melalui serangan udara. Sejarah juga menunjukkan bahwa perang yang bertujuan melakukan perubahan rezim hampir selalu membutuhkan kehadiran pasukan darat. Tanpa itu, tujuan tersebut hampir mustahil dicapai.

Pada akhirnya, sejumlah analis berpendapat bahwa Amerika Serikat sebaiknya mencari jalan keluar dari konflik ini sebelum perang berkembang menjadi lebih besar dan lebih mahal. Jika tidak, konflik tersebut berpotensi berubah menjadi perang panjang yang akan menelan biaya sangat besar serta menimbulkan dampak besar bagi stabilitas global.

Tulisan ini disampaikan oleh Aaron Ng’ambi, seorang analis politik dan kolumnis yang berbasis di Zambia. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak selalu mencerminkan sikap resmi media Press TV. (*)

Sumber: Presstv
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA