Oleh: Abdul Karim
“Jika kita mengakui bahwa prinsip baru peperangan tidak lagi semata-mata ‘menggunakan kekuatan bersenjata untuk memaksa musuh tunduk’, melainkan ‘menggunakan semua sarana, baik bersenjata maupun tidak, militer maupun non-militer, mematikan maupun tidak, untuk memaksa musuh menerima kepentingan kita’.” — Qiao Liang & Wang Xiangsui
Gencatan senjata dalam dunia geopolitik bukan sekadar jeda dari suara ledakan dan kobaran api. Ia adalah pengakuan sunyi yang disampaikan melalui diam dan diplomasi: bahwa suatu pihak tak mampu lagi melanjutkan permainan dengan biaya yang layak secara politis maupun strategis. Dalam konteks terbaru konflik antara Iran dan Israel, sebagaimana dikemukakan oleh Jenderal Purnawirawan Angkatan Darat Tunisia, kita menyaksikan bahwa pihak yang pertama kali menyuarakan kebutuhan akan gencatan senjata bukanlah pihak yang unggul secara militer. Justru sebaliknya, ia adalah pihak yang merasa tekanan itu terlalu dalam, terlalu luas, terlalu berisiko untuk ditanggung lebih lama.
Amerika Serikat, dalam aliansi eratnya dengan Israel, turun ke gelanggang ini bukan sebagai wasit atau pengamat, melainkan sebagai aktor utama yang menyuplai dukungan intelijen, sistem pertahanan mutakhir, dan strategi pengendalian opini publik. Namun, seperti yang ditulis oleh Qiao Liang dan Wang Xiangsui dalam Unrestricted Warfare, kemenangan dalam era baru tidak lagi ditentukan oleh tank-tank yang bergerak cepat atau pesawat siluman yang membelah langit. Kemenangan hari ini dibentuk oleh kemampuan bertahan dari sebuah sistem pemerintahan terhadap gelombang multi-dimensi serangan—termasuk ekonomi, informasi, diplomasi, dan psikologis—yang seringkali tak terdengar, tak terdefinisi sebagai perang, tapi justru paling mematikan.
Iran tidak hanya bertahan, tetapi menunjukkan kapasitas yang selama ini diragukan banyak analis Barat. Dalam apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai “operasi berbagi peran” antara Israel dan AS, serangan terhadap Iran dilakukan dengan asumsi klasik: bahwa setiap tekanan besar yang dilakukan dengan presisi akan mengguncang struktur internal lawan dan memecah konsensus elite. Namun, fakta justru menunjukkan sebaliknya. Sistem politik Iran yang disebut oleh jenderal Tunisia sebagai “tetap solid dan terjaga”, adalah kemenangan strategis yang hanya bisa dijelaskan jika kita mengadopsi kerangka berpikir non-konvensional seperti dalam teori unrestricted warfare.
Iran tidak melawan hanya dengan rudal dan drone, tetapi dengan moral kolektif, kontrol narasi, dan jaringan aliansi yang dibangun selama dekade terakhir. Ia menjadikan perang sebagai arena komunikasi dan identitas, bukan sekadar kontestasi wilayah atau kekuatan senjata. Dengan tidak hancur dalam dua atau tiga hari seperti yang dibayangkan model-model simulasi Barat, Iran telah menyampaikan pesan yang tak terbantahkan: ia bukan hanya target yang bisa dijatuhkan, tetapi aktor yang membentuk ulang medan perang dan aturan mainnya.
Qiao dan Wang menulis bahwa dalam perang jenis baru, tidak ada batas yang memisahkan antara perang dan bukan perang, antara militer dan sipil. Semua bisa menjadi senjata: pasar keuangan, media sosial, bahkan opini publik global. Ketika Barat menyerang Iran dengan propaganda tentang ketidakstabilan domestik, Iran menjawabnya dengan konsolidasi internal dan demonstrasi kekuatan rakyat. Ketika infrastruktur Iran disabotase, respons Iran tidak datang dengan ledakan simetris, tetapi dengan manuver asimetris di medan diplomatik dan regional: tekanan terhadap sekutu-sekutu AS, gangguan pada arus pasokan global, dan revitalisasi moral perlawanan di Lebanon, Irak, Yaman, hingga Palestina.
Kemenangan Iran tidak terlihat dalam jumlah jet tempur yang dijatuhkan atau pangkalan militer yang dihancurkan. Kemenangannya terletak pada kemampuannya untuk tetap berdiri setelah dilanda badai penuh dari koalisi adidaya. Dalam paradigma perang terbatas yang tidak terbatas, ini adalah kemenangan yang paling menentukan. Seperti disebutkan dalam Unrestricted Warfare, “perang di masa depan akan diluncurkan dalam bentuk yang tidak khas dan dalam arena yang tidak diduga.” Iran memahami arena itu: medan opini, medan persepsi, dan medan ketahanan sosial-politik.
Pernyataan jenderal Tunisia adalah penegasan dari sesuatu yang mulai disadari publik dunia: guncangan terhadap Iran tidak berhasil menggoyahkannya, sementara kegagalan menjatuhkan Iran telah menggoyahkan kepercayaan blok Barat terhadap keunggulan total mereka. Maka ketika Washington dan Tel Aviv mulai membicarakan gencatan senjata, bukan karena mereka ingin menghindari perang, tetapi karena perang itu tidak berjalan sesuai dengan kalkulasi awal mereka.
Dalam Unrestricted Warfare, Qiao dan Wang mencatat bahwa kekuatan besar akan kalah ketika tidak mampu membaca bentuk baru dari perang itu sendiri. Mereka mencontohkan bagaimana Amerika Serikat, dalam obsesinya pada kekuatan militer dan teknologi tinggi, lupa bahwa kekuatan terbesar adalah ketahanan yang lentur—semacam “perang jangka panjang yang menyalurkan penderitaan sebagai sumber energi.” Iran membuktikan hal itu. Ia tidak bergantung pada teknologi superior semata, tapi pada stamina sejarah, kesabaran strategi, dan keyakinan bahwa yang diserang hari ini adalah mereka yang membentuk masa depan esok.
Israel, yang biasa memegang dominasi penuh atas wilayah udara dan jalur informasi, mendapati bahwa untuk pertama kalinya sejak lama, ada entitas yang tidak hanya membalas, tetapi membalas dengan tempo, metode, dan semangat yang tidak dapat dikendalikan. Dari perspektif unrestricted warfare, inilah bentuk klasik dari lawan yang berhasil “memaksa musuh untuk menerima kepentingannya”—bukan dengan menghancurkan seluruh sistem lawan, tetapi dengan bertahan hidup dan tetap menjadi aktor utama.
Gencatan senjata yang terjadi kemudian bukan sekadar istirahat teknis. Ia adalah pengakuan bahwa serangan simultan, meskipun dibagi peran antara Israel dan Amerika, tidak menghasilkan hasil yang bisa dibanggakan. Blok Barat meremehkan konteks: bahwa Iran bukan negara yang bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan militer, tetapi adalah simpul dari jaringan sejarah, ideologi, dan strategi non-konvensional yang tak mudah dibungkam.
Kemenangan Iran, sebagaimana ditekankan oleh sang jenderal Tunisia, adalah kemenangan dalam pengertian baru: bukan dominasi, tapi eksistensi. Dalam dunia yang makin terfragmentasi dan penuh kebohongan, siapa yang mampu bertahan, tetap berbicara, dan terus bergerak, adalah mereka yang menang. Iran telah membuktikan hal itu—bukan sebagai mitos atau klaim propaganda, tetapi sebagai fakta geopolitik yang bahkan musuh-musuhnya kini mulai akui, walau dengan enggan.
Dunia hari ini memerlukan kerangka baru untuk membaca konflik, dan Unrestricted Warfare memberi kita lensa tajam untuk itu. Ia mengajarkan bahwa perang tidak lagi punya garis start dan finish yang jelas. Ia terus mengalir di antara ruang-ruang kehidupan sipil dan militer, melewati batas negara dan medan perang. Dalam konteks ini, Iran tidak hanya menang di medan konvensional, tetapi juga di medan narasi, persepsi, dan stamina geopolitik. Sebuah kemenangan yang tidak bisa dihitung dengan rudal yang melesat, tetapi dengan tatanan dunia yang mulai bergeser. (*Pengamat Timur Tengah)
Daftar Pustaka:
Qiao Liang & Wang Xiangsui. Unrestricted Warfare: China’s Master Plan to Destroy America. Shadow Lawn Press, 2017.












