BERITAALTERNATIF.COM – Ali Akbar Velayati, Penasihat Urusan Internasional Pemimpin Tertinggi Iran, menilai KTT terbaru Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) sebagai salah satu pertemuan paling penting dalam sejarah dunia.
Velayati memperkirakan bahwa organisasi ini di masa depan akan memainkan peran utama dalam menentukan arah dan nasib dunia.
Dalam wawancara dengan wartawan Tasnim, dia ditanya mengenai dampak KTT Shanghai yang diadakan di Tianjin, Tiongkok.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan ke-25 para pemimpin SCO pada 9–10 September dihadiri lebih dari 20 pemimpin negara non-Barat serta Sekjen PBB.
Menurutnya, ini adalah pertemuan terbesar dan terpenting dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan banyak pengamat politik menilainya sebagai salah satu pertemuan internasional paling bersejarah.
Velayati menyebutkan tiga dampak utama dari KTT tersebut. Pertama, dunia menyaksikan runtuhnya PBB, mirip dengan berakhirnya Liga Bangsa-Bangsa di masa lalu.
Kedua, Tiongkok menunjukkan dirinya sebagai kekuatan utama dunia yang potensial dan segera akan menjadi kekuatan utama secara nyata. Ketiga, Tiongkok dengan kesabaran dan ketenangan berhasil meredam langkah-langkah Trump.
Menurut dia, para politisi percaya bahwa Trump menempuh jalan yang pernah dilalui Hitler di Jerman Nazi, yang dengan agresinya memicu Perang Dunia II pada September 1939. Trump mengulangi pola arogansi Hitler.
Ia menambahkan bahwa sebelum Perang Dunia II, Inggris berada di puncak kekuasaan, Prancis kuat setelah era Napoleon, dan Italia bangkit setelah kepemimpinan Garibaldi. Namun ketiganya akhirnya tunduk pada Hitler. “Sejarah berulang,” katanya.
Velayati menjelaskan, Trump kini mengulangi kesalahan yang sama, tanpa belajar dari masa lalu.
Dia menegaskan, tindakan-tindakan Trump mirip dengan yang dilakukan Hitler. Salah satunya, perjanjian Alaska yang dibuat Trump tanpa berkonsultasi dengan sekutunya di Barat mengenai Ukraina. Namun, dalam KTT Shanghai, terlihat jelas langkah itu gagal total.
Ia mengingatkan bahwa pada 12 September, Trump dalam wawancara mengaku kecewa pada Presiden Rusia Vladimir Putin terkait isu perdamaian Ukraina.
Trump bahkan dengan sinis menulis bahwa pertemuan Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong-un di Shanghai menunjukkan sikap menentang Amerika.
Velayati juga menyebut bahwa Trump berusaha menciptakan dunia dua kutub seperti setelah Konferensi Yalta 1945. Namun, Trump sering bertindak tanpa koordinasi dengan sekutu Eropanya.
Dia menyinggung bahwa Trump dalam kunjungan ke negara-negara Teluk berhasil mengumpulkan banyak uang. Bahkan, dalam debat pilpres dengan Hillary Clinton, Trump menuding Demokratlah yang menciptakan ISIS.
Trump juga menyebut bahwa Abu Bakar al-Baghdadi, tokoh ISIS, didukung oleh Amerika untuk menghancurkan Suriah. Selain itu, Trump berkali-kali merendahkan para pemimpin Eropa, termasuk Inggris.
Menurut Velayati, negara-negara Eropa sejak Trump berkuasa berkali-kali dipermalukan, namun tidak ada yang berani melawannya. Sebagai gantinya, mereka melancarkan tekanan terhadap negara-negara independen seperti Iran, misalnya dengan mekanisme snapback di Dewan Keamanan PBB. Hal itu sejatinya adalah reaksi Eropa terhadap sikap sepihak Trump.
Trump juga menolak permintaan Eropa soal Ukraina. Dia malah menyatakan bahwa Rusia benar dan Ukraina harus menyerahkan wilayah seperti Krimea (2014) dan daerah lain yang baru-baru ini diduduki Rusia. Jika Ukraina membutuhkan bantuan, kata Trump, mereka harus membayar. Velayati menyebut ini jelas bertentangan dengan kepentingan Eropa.
Dia menegaskan kembali bahwa apa yang dilakukan Hitler dengan mengkhianati perjanjian internasional, kini diulangi Trump.
Ia mencontohkan perjanjian Munich 1938 dengan Inggris, Prancis, dan Italia, lalu perjanjian non-agresi dengan Uni Soviet pada 23 Agustus 1939. Namun, Hitler tetap melancarkan invasi ke Eropa, menyerang Prancis lewat Belanda dan Belgia, serta membombardir London. Tahun 1941, ia juga menyerang Uni Soviet melalui Operasi Barbarossa.
Velayati menambahkan, Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar pertemuan dengan 33 negara Eropa, dan 26 negara menyatakan siap mengirim pasukan untuk menjamin keamanan Ukraina.
Menurutnya, ini menunjukkan betapa langkah-langkah Trump telah membuat Eropa merasakan pahitnya kekalahan.
Dia kemudian menjawab pertanyaan mengenai dampak positif SCO. Ia menyoroti keberhasilan Xi Jinping yang bahkan mampu mengundang Perdana Menteri India Narendra Modi ke Beijing, meski sebelumnya Trump berusaha memisahkan India dari Rusia dan Tiongkok.
Ia menekankan bahwa India, dengan sejarah panjang dan tokoh besar seperti Gandhi, bersama umat Muslimnya, tidak akan tunduk pada tekanan Trump.
Menurutnya, SCO lebih cepat dari perkiraan Barat berhasil mencapai hasil yang penting dan berharga, dan ke depan akan memainkan peran utama dalam menentukan masa depan dunia.
Velayati menegaskan bahwa negara-negara kunci SCO—khususnya Tiongkok, Rusia, Iran, dan India—adalah negara-negara yang benar-benar independen. Bukti nyata adalah latihan militer gabungan mereka di Samudera Hindia, yang menunjukkan kekuatan dan kemandirian masing-masing.
Iran, tambahnya, membuktikan diri sebagai negara besar dengan kapasitas tinggi, yang bahkan berhasil mengalahkan Amerika dalam perang 12 hari dan menjadi negara pertama yang berani menyerang Israel, hingga akhirnya Israel dan AS sendiri yang meminta gencatan senjata.
Velayati juga menyebutkan bahwa ketika AS, Inggris, Australia, dan Selandia Baru membentuk aliansi AUKUS untuk menekan Tiongkok, Iran bersama Rusia dan Tiongkok justru menggelar latihan militer bersama sebagai bentuk perlawanan.
Dia menambahkan bahwa salah satu pilar baru poros perlawanan, yaitu Yaman di bawah kepemimpinan Abdul Malik al-Houthi, kini menguasai Bab el-Mandeb dan berhasil menyerang kapal-kapal Israel dan Amerika, termasuk kapal induk Truman. Akibatnya, Trump meminta gencatan senjata dengan Yaman, yang semakin memperlihatkan melemahnya ancaman Amerika terhadap Tiongkok.
Ia menjelaskan bahwa SCO bersama BRICS—yang terdiri dari Tiongkok, Rusia, Iran, Afrika Selatan, Brasil, dan India—memiliki potensi besar melawan tatanan unipolar yang dipaksakan Amerika. Dunia ke depan, katanya, akan berbeda bentuk dan isinya dari masa lalu.
Menurutnya, Trump sudah lebih dulu mengalami kegagalan, dan salah satu buktinya adalah pertemuan di Paris yang memperlihatkan lemahnya strategi Amerika.
Ketika ditanya bagaimana Iran bisa memanfaatkan peluang ini, Velayati menegaskan bahwa Iran adalah negara kuat dengan kepemimpinan yang berani dan cerdas.
Dia menyatakan tidak ada pemimpin dunia yang memiliki wawasan global seperti Ayatullah Ali Khamenei. Dengan bimbingan beliau, Iran telah melangkah maju dan akan terus memiliki masa depan yang cerah, selama persatuan nasional tetap dijaga.
Dia juga mengutip kisah Zulqarnain dalam Alquran, yang digambarkan sebagai pemimpin adil dan pembawa perdamaian. Menurut sejumlah mufasir, Zulqarnain memiliki kemiripan dengan Cyrus Agung dari Persia, yang dikenal membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Babilonia.
Velayati menutup dengan menyatakan bahwa sejarah membuktikan bangsa Iran sejak ribuan tahun lalu mampu membangun peradaban besar, sementara bangsa Yunani kala itu masih terpecah. Hal ini, katanya, menunjukkan bahwa Iran memiliki warisan besar yang terus hidup hingga kini. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












