BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Menteri Luar Negeri Iran bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, menyoroti sikap Rusia, China, dan Pakistan yang menentang pemberlakuan kembali sanksi PBB terhadap Iran. Posisi mereka sebagai titik temu penting dengan Teheran.
Berbicara kepada wartawan di sela-sela KTT ke-25 Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, China, pada hari Senin (1/9/2025), Gharibabadi mengatakan forum tersebut menjadi kesempatan berharga untuk berkonsultasi mengenai isu nuklir Iran.
Dia menjelaskan bahwa China dan Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, serta Pakistan sebagai anggota tidak tetap, memiliki kesamaan pandangan dengan Iran dalam menolak mekanisme snapback dari perjanjian nuklir 2015 dan upaya menghidupkan kembali sanksi Dewan Keamanan yang sudah dibatalkan.
Menurutnya, usulan Iran tercermin dalam deklarasi akhir para pemimpin SCO yang memuat beberapa poin penting. Salah satunya kecaman tegas terhadap tindakan agresi rezim Zionis dan Amerika Serikat terhadap Iran, termasuk serangan ke fasilitas nuklir yang jelas-jelas melanggar hukum internasional.
“Disebutkannya secara eksplisit rezim Zionis dan AS dalam deklarasi itu sangatlah penting,” ujarnya.
Bagian lain dari deklarasi menyinggung Resolusi DK PBB 2231, di mana anggota SCO menegaskan resolusi tersebut harus dijalankan secara penuh dan tidak boleh dipilih-pilih.
Gharibabadi menekankan bahwa hal ini berarti negara-negara Eropa tidak bisa mengabaikan kewajiban mereka sendiri sembari berusaha menegakkan ketentuan tertentu terkait snapback.
Terkait langkah terbaru Eropa, Gharibabadi menilai, “Tindakan Eropa mengirim pemberitahuan untuk mengaktifkan mekanisme snapback adalah ilegal dan tidak punya dasar hukum. Hal ini sudah kami sampaikan dengan jelas,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan sikap sebagian organisasi internasional yang lebih bergerak berdasarkan kepentingan politik daripada aturan hukum.
Gharibabadi menambahkan bahwa Iran telah mengeluarkan pernyataan resmi sebagai tanggapan, dan mendesak Eropa memanfaatkan tenggat waktu yang mereka tentukan sendiri—sekitar 20 hingga 30 hari—untuk memperbaiki kesalahan mereka. Jika Eropa tetap maju untuk mengembalikan sanksi, Iran akan memberikan balasan yang tegas dan sepadan.
“Ini bukan hanya peluang bagi Iran,” tegas dia, “tetapi juga kesempatan bagi negara-negara Eropa untuk meninjau kembali langkah yang salah dan memperbaikinya.”
Sebagai latar terbaru, tiga negara Eropa yaitu Inggris, Prancis, dan Jerman telah secara resmi mengirim surat ke Dewan Keamanan PBB guna mengaktifkan mekanisme snapback, sebuah langkah yang berusaha memulihkan sanksi internasional terhadap Iran. Pengumuman ini disebut sebagai tindakan paling serius yang pernah dilakukan Eropa terhadap Teheran sejak Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada 2018.
Pejabat Iran dengan keras mengecam langkah tersebut sebagai tindakan ilegal dan bermotif politik. Mereka menegaskan bahwa Eropa tidak punya kedudukan untuk mengaktifkan snapback karena gagal memenuhi komitmen mereka dalam perjanjian nuklir.
Teheran juga memperingatkan bahwa langkah ini akan memaksa Iran memberikan respons tegas, mengganggu kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional, serta merusak kredibilitas Dewan Keamanan. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












