Search

Runtuhnya Mitologi Imperialis

Potret kekalahan memalukan Donald Trump dalam perang melawan Iran. (Al Mayadeen)

Oleh: Alexander Tuboltsev

Jika kita mendengarkan pidato-pidato terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kita sekali lagi dapat merasakan efek “realitas paralel”. Pujian berlebihan terhadap diri sendiri dan upaya menggunakan retorika untuk memengaruhi harga minyak bercampur dengan kebohongan yang fantastis. Hampir setiap hari, Trump mengumumkan “kesuksesan” dan “kemenangan” imajinernya atau melontarkan ancaman. Setiap pekan, pelarian verbal ini semakin tidak rasional.

Elit politik Amerika kerap menggunakan manipulasi bahasa untuk kepentingannya, baik di masa lalu maupun sekarang. Namun, yang terjadi saat ini memiliki perbedaan mendasar. Retorika Trump menyerupai kegelisahan seorang spekulan pasar yang telah melakukan banyak kesalahan dan kehilangan kendali atas konsekuensi jangka panjang, sehingga takut terhadap runtuhnya mitos “kesuksesan”-nya. Akibatnya, Gedung Putih berupaya menutupi kegagalan dan menipu publik.

Filsuf Yunani kuno Plato telah membahas fenomena ini dalam dialognya The Sophist. Penciptaan ilusi verbal yang mendistorsi realitas bukanlah hal baru. Dalam konteks Amerika modern, kita melihat gelombang besar distorsi bahasa dan simulakra yang dirancang untuk menciptakan citra positif. Retorika ini tidak mencerminkan kenyataan, melainkan kabut kebohongan, pembesar-besaran, dan fabrikasi.

Lalu bagaimana dengan realitas? Banyak mitos yang dibangun Amerika kini mulai runtuh. Salah satu contohnya adalah pesawat tempur F-35 Lightning II yang selama bertahun-tahun dipromosikan sebagai “tak terkalahkan”. Namun, rudal pertahanan udara Iran disebut telah membantah mitos tersebut, menunjukkan bahwa pesawat itu dapat ditembak jatuh.

Jika melihat sejarah, pembangunan mitos politik merupakan ciri khas kekaisaran kolonial dan neokolonial. Demi menguasai wilayah, sumber daya, dan jalur perdagangan, kekaisaran menciptakan citra berlebihan untuk menutupi kelemahan dan membenarkan ambisi mereka.

Akar imperialisme Barat dapat ditelusuri hingga Abad Pertengahan awal, ketika dinasti-dinasti yang agresif mulai terbentuk di Eropa. Kekuasaan mereka sering diperoleh melalui penaklukan. Contohnya adalah penaklukan Inggris oleh William dari Normandia pada tahun 1066, yang menggantikan aristokrasi lokal dengan elite Norman.

Dinasti seperti Plantagenet juga menunjukkan pola serupa. Raja Henry II, yang berdarah Prancis, melakukan ekspansi ke Irlandia dan Wales untuk memperluas wilayah Inggris. Pola ekspansi ini kemudian berkembang menjadi kolonialisme global beberapa abad kemudian.

Tidak hanya penakluk asing, klan feodal lokal juga melakukan ekspansi agresif, menguasai tanah, jalur perdagangan, dan sumber daya. Perang antarfeodal di Eropa pada dasarnya didorong oleh ambisi kekuasaan dan ekspansi.

Sejak awal, kekaisaran dibangun di atas ekspansionisme, perang penaklukan, dan penindasan. Ideologi mereka tidak berfokus pada rakyat, melainkan pada kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh. Untuk melegitimasi tindakan tersebut, mereka menciptakan mitos—interpretasi realitas yang diputarbalikkan untuk tujuan politik.

Dari sinilah lahir pandangan dunia yang berpusat pada Barat. Media dan komunitas ilmiah di negara kolonial memaksakan narasi sejarah mereka kepada bangsa-bangsa tertindas, termasuk di Afrika, Asia, dan Oseania. Gerakan anti-kolonial abad ke-20 kemudian berperan besar dalam menggulingkan dominasi narasi ini.

AS sebagai contoh kekaisaran neokolonial modern menunjukkan pola serupa: ekspansi agresif yang disertai mitos politik. Keyakinan akan “keistimewaan” dan hegemoni yang “ditakdirkan” berjalan beriringan dengan arogansi imperialis.

Kolonialisme kini berubah bentuk menjadi neokolonialisme. Wujudnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama. Seperti sebelumnya, pukulan terbesar bagi kekuatan hegemonik adalah runtuhnya mitos yang mereka bangun.

Di Asia Barat, mitos “ketakterkalahkan” Amerika disebut mulai runtuh. Dunia menyaksikan pangkalan militer AS terbakar dan pesawat tempur serta helikopter mereka ditembak jatuh. Perbedaan antara narasi dari Washington dan realitas di lapangan menjadi semakin jelas.

Iran dinilai berhasil mempertahankan kedaulatannya, menerapkan strategi yang efektif, dan memberikan serangan balasan yang mengubah jalannya konflik. Hal ini membuat elit Amerika terlihat gugup, tercermin dari perilaku dan retorika Trump.

Iran juga disebut menunjukkan karakter yang dapat menjadi contoh bagi negara-negara Global Selatan: anti-imperialisme, penolakan hegemoni, serta tekad mempertahankan kemerdekaan.

Filsuf Iran, Morteza Motahhari, dalam tulisannya pernah menyoroti bagaimana bangsa-bangsa di dunia bersatu dalam perjuangan keadilan—mulai dari Palestina melawan Zionisme, Aljazair melawan kolonialisme Prancis, hingga Vietnam melawan imperialisme Amerika.

Perjuangan-perjuangan tersebut menunjukkan bahwa keinginan manusia terhadap keadilan mampu menghapus ilusi dan propaganda kekaisaran. Operasi perlawanan yang efektif kini dianggap membongkar kebohongan dan hegemoni informasi.

Fenomena ini diibaratkan seperti fatamorgana di gurun: terlihat nyata dari kejauhan, tetapi sebenarnya ilusi. Selama puluhan tahun, Amerika melalui media dan retorikanya menciptakan “fatamorgana informasi” untuk mempertahankan narasi imperialnya.

Namun realitas bukanlah film Hollywood yang bisa ditulis sesuai keinginan. Puing-puing pesawat tempur Amerika kini berbicara lebih jelas daripada retorika apa pun. Ilusi imperial runtuh di depan mata dunia, sementara perlawanan membuka jalan bagi kebenaran. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA