Search

Reaksi Dunia terhadap Kesepakatan Damai Iran dan Amerika Serikat

Berbagai negara di dunia menyambut kesepakatan yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat, sementara sejumlah media berbahasa Ibrani menunjukkan kemarahan dan kritik terhadap kesepakatan tersebut. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Beberapa jam setelah tengah malam, Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan terkait kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Republik Islam Iran, di bawah arahan pemimpin yang telah gugur, berhasil menyelesaikan fase konfrontasinya terhadap musuh Amerika–Israel.

Setelah melalui periode negosiasi yang sulit dan intensif selama beberapa bulan, Iran dan AS disebut telah menyelesaikan nota kesepahaman terkait pembicaraan akhir perang pada malam 14 Juni 2026.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, perang dan operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon, segera dihentikan secara permanen.

Selain itu, blokade laut terhadap Iran juga akan segera dan sepenuhnya berakhir. Penandatanganan resmi nota kesepahaman dijadwalkan pada 19 Juni 2026.

Robert Malley: Dakwaan terhadap Perang

Mantan negosiator AS dan mantan utusan khusus urusan Iran, Robert Malley, menyebut nota kesepahaman Iran-AS sebagai perkembangan penting.

Melalui akun X, dia menulis bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan salah satu pencapaian utama kesepakatan tersebut, mengingat penutupan jalur tersebut sebelumnya telah menyebabkan dampak ekonomi besar bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Namun, ia menilai kesepakatan itu juga menjadi kritik terhadap perang yang terjadi sebelumnya.

“Kesepakatan ini menjadi dakwaan jelas terhadap perang, karena pencapaian utamanya adalah membuka kembali jalur laut yang tertutup akibat perang itu sendiri,” tulis Malley.

Dia menambahkan bahwa sejumlah persoalan seperti masa depan program nuklir Iran, nasib uranium yang diperkaya, dan cakupan pencabutan sanksi kemungkinan akan dibahas di kemudian hari.

“Perang ini lebih dari sekadar sebuah kejahatan; ini adalah kesalahan perhitungan yang besar dan membawa bencana,” katanya.

Uni Eropa: Prioritas adalah Pelaksanaan Cepat Kesepakatan

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan kesepakatan Teheran–Washington dapat dianggap sebagai sebuah terobosan.

Kallas menyatakan bahwa para menteri luar negeri Uni Eropa akan membahas cara keterlibatan dalam tahap berikutnya.

Menurutnya, pelaksanaan penuh dan cepat kesepakatan menjadi prioritas, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Pelayaran bebas melalui Selat Hormuz tanpa hambatan harus dipulihkan. Ini penting bagi stabilitas regional dan ekonomi dunia,” ujarnya.

Netanyahu: Israel Tetap di Lebanon

Media Israel berbahasa Ibrani, Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa pasukan Israel akan tetap berada di posisi mereka di Lebanon.

Sumber tersebut menyebut Netanyahu mengatakan Israel tidak akan menarik diri dari Lebanon dan tidak merasa terikat dengan bagian kesepakatan Iran-AS yang berkaitan dengan Lebanon.

Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel akan melanjutkan operasi untuk menghancurkan ancaman Hizbullah.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, juga menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak mengikat Israel.

“Israel bukan bawahan Amerika. Israel akan bertindak secara independen,” katanya.

Pakistan Umumkan Tercapainya Kesepakatan Damai

Perdana Menteri Pakistan sebelumnya menyatakan bahwa setelah negosiasi intensif, telah tercapai kesepakatan damai antara AS dan Republik Islam Iran.

Menurutnya, kedua pihak menyepakati penghentian segera dan permanen operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon.

Upacara penandatanganan resmi disebut akan berlangsung pada Jumat, 19 Juni di Swiss.

Australia Sambut Kesepakatan Iran-AS

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Menteri Luar Negeri Penny Wong mengeluarkan pernyataan bersama yang menyambut gencatan senjata Iran-AS.

Australia menyatakan selalu mendukung pengurangan ketegangan dan penghentian konflik, termasuk di Lebanon.

Pemerintah Australia menilai pembukaan kembali Selat Hormuz penting untuk mengurangi tekanan terhadap harga energi dan ekonomi global.

Reaksi Media Israel: Kritik dan Kemarahan

Media Israel memberikan reaksi beragam terhadap kesepakatan tersebut.

Yedioth Ahronoth menulis bahwa Netanyahu sebelumnya berharap serangan terhadap Beirut akan menggagalkan perundingan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: kesepakatan tetap tercapai.

Penasihat strategis kabinet Israel, Roni Rimon, mengkritik kesepakatan tersebut secara tidak langsung dengan mengatakan Israel tidak boleh menjadi korban dari perjanjian damai itu.

Sementara itu, Channel 14 Israel menyebut kesepakatan tersebut sebagai “pencapaian yang sangat penting bagi Iran” karena gencatan senjata berlaku segera.

Media tersebut mengatakan bahwa berdasarkan kesepakatan itu, Israel harus segera menghentikan serangan terhadap Lebanon.

Iran Menolak Memberi Keuntungan Simbolis kepada Trump

The New York Times melaporkan bahwa Iran menolak memberikan kesempatan simbolis kepada Trump untuk menyelesaikan kesepakatan pada hari ulang tahunnya.

Menurut sumber Iran, Teheran menunggu hingga lewat tengah malam sebelum menyelesaikan kesepakatan agar tidak bertepatan dengan ulang tahun Trump.

Perbedaan waktu tujuh setengah jam antara Iran dan AS membuat Iran dapat menentukan waktu pengumuman akhir kesepakatan.

PBB: Langkah Penting Menuju Perdamaian

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut kesepakatan Iran-AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai langkah penting menuju perdamaian regional.

Guterres berharap semua pihak memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan upaya penyelesaian konflik secara permanen.

Negara-Negara Lain Sambut Positif

Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyambut kesepakatan tersebut dan mengapresiasi peran Pakistan serta negara-negara lain dalam proses diplomasi.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting untuk mengurangi ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesepakatan itu dapat menjadi dasar bagi pembicaraan lebih luas mengenai perdamaian dan keamanan Timur Tengah.

Jepang dan Turki juga menyambut kesepakatan tersebut sebagai langkah menuju penghentian permusuhan dan perdamaian regional.

Associated Press: Iran Mendapat Pengaruh Baru di Selat Hormuz

Associated Press melaporkan bahwa setelah perang tersebut Iran memperoleh posisi tawar baru dalam dinamika regional dan internasional.

Menurut laporan itu, kemampuan Iran memengaruhi lalu lintas kapal di Selat Hormuz menjadi instrumen baru dalam negosiasi.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dunia untuk pengiriman minyak, gas alam, dan berbagai komoditas.

Media Israel: Trump Gagal Memisahkan Konflik Iran dan Lebanon

Media Israel i24 News melaporkan bahwa sejumlah pejabat kabinet Israel menilai Trump gagal memisahkan medan konflik Lebanon dan Iran.

Media tersebut menyebut kedua konflik itu memiliki hubungan langsung.

Dalam laporan lain, i24 menuduh Trump memberikan banyak konsesi kepada Iran tanpa memperoleh keuntungan nyata.

Sementara Channel 14 Israel menyebut kebijakan terbaru Washington sebagai pukulan terhadap kepentingan Tel Aviv.

Media tersebut menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan keuntungan besar bagi Iran karena gencatan senjata akan berlaku segera dan Israel harus menghentikan serangan di Lebanon.

Sejumlah platform berbahasa Ibrani lainnya juga menyebut bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA