Search

Profil Lurah Baru Bayu Ramanda Baninugraha, Pemimpin Muda dengan Spirit Keteladanan

Lurah Baru, Bayu Ramanda Baninugraha. (Dok. Lurah Baru)

BERITAALTERNATIF.COM – Bayu Ramanda Baninugraha, lahir di Samarinda pada 10 September 1986, kini memasuki usia menjelang 40 tahun dengan amanah besar sebagai Lurah Kelurahan Baru.

Ini merupakan jabatan lurah kedua baginya setelah sebelumnya memimpin Kelurahan Maluhu selama tiga tahun. Dengan total pengalaman lurah hampir enam tahun sejak 2 Januari 2020, ia menjadi lurah dengan masa jabatan terlama dari 12 kelurahan di Tenggarong.

Bayu merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Ayahnya, H. Syahrial Setia, adalah birokrat senior yang pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Pemerintahan, Inspektur, Sekretaris Daerah hingga puncak karier pemerintahan di Tenggarong dan dilanjutkan ke tingkat Provinsi.

Ibunya adalah seorang bidan dan hingga kini masih mendampingi keluarga. Nilai keteladanan orang tua menjadi fondasi kuat membentuk karakter kepemimpinan Bayu.

Pendidikan dan Awal Karier

Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan mendampingi orang tua dalam tugas pemerintahan. “Saya ini termasuk anak rumahan, tidak punya circle, tidak punya geng. Kalau ibu dan bapak ke kantor, saya ikut apabila libur sekolah. Sejak TK keluar masuk kantor gubernur dan kantor bupati sudah jadi bagian dari kehidupan,” tuturnya.

Riwayat pendidikan: TK di Samarinda, SD Negeri 02 Tenggarong, SMP Negeri 1 Tenggarong, SMA Negeri 1 Tenggarong, S1 Sekolah Kedinasan (Ikatan Dinas), lulus 2009.

Ia diangkat sebagai ASN tahun 2010. Awal kariernya dimulai sebagai analis tata praja di Kecamatan Tenggarong selama kurang lebih 20 bulan. Pada awal 2012, Bayu ditugaskan sebagai Kasi Pemerintahan Kelurahan Baru hingga November 2019, kemudian berpindah sebagai Kasi Sosial di Kelurahan Sukarame, sebelum akhirnya dipercaya menjadi lurah.

Pengalaman Strategis dan Dedikasi

Bayu pernah terlibat langsung dalam proses awal penerapan e-KTP pada 2011, di mana dia menjadi bagian tim teknis Kecamatan Tenggarong bersama Camat Tajudin. Tahun 2012, ia ikut mengawal proses pergeseran sistem administrasi kependudukan.

Baginya, ijazah hanyalah bukti pendidikan, namun nilai keteladanan dan integritas tidak tertulis, melainkan mengalir dari generasi ke generasi. “Gen itu yang saya akui sekarang, sudah sering saya lakukan, baik di lingkungan pekerjaan maupun kemasyarakatan,” ujarnya.

Ia dikenal aktif hadir dalam kegiatan sosial dan warga. Bahkan kerap diminta memberi sambutan pada acara kematian sekalipun tidak mengenal almarhum. Bayu belajar langsung dari kebiasaan almarhum ayahnya.

“Bapak saya kalau ada orang meninggal sering ditodong bicara. Saya ingat betul, ada empat hal yang harus diumumkan: kematian, ucapan terima kasih, permohonan maaf, penyelesaian hutang, dan doa. Itu saya lakukan sampai sekarang,” katanya.

Filosofi Kepemimpinan: Fundamental bukan Monumen

Bayu menegaskan dirinya tidak mengejar aktivitas monumental, tetapi menggerakkan hal-hal fundamental. Dia memberi contoh bahwa jabatan hanyalah amanah, namun menjaga nama baik orang tua adalah tanggung jawab besar.

“Saya ini lurah, tapi yang lebih berat adalah nama orang tua saya. Orang tahu kalau bapaknya dulu rajin hadiri orang meninggal, hadir di undangan. Itu yang saya jaga,” tuturnya.

Karena itu, ia mengedepankan keteladanan langsung. Bayu sering mendahului staf saat apel, membuka pagar kantor sendiri sepulang mengantar anak sekolah, bahkan rutin memanaskan mobil operasional seminggu sekali.

Spirit untuk Generasi Muda

Kepada generasi birokrat berikutnya, Bayu menegaskan pentingnya niat yang lurus dan memahami bahwa jabatan adalah tanggung jawab spiritual.

“Niat harus lurus. Kita ini hamba yang diberi kepercayaan. Dalam pekerjaan, fundamental harus digas terus,” ucapnya.

Ia juga mendorong ASN tidak takut mengambil inisiatif. Baginya, integritas lebih penting daripada sekadar pencapaian administratif.

Gelar Kesultanan dan Capaian

Tahun 2023, ia menerima gelar Kesultanan, Raden Adi Setia, yang sebelumnya diterima ayahnya tahun 1999. Gelar tersebut diturunkan kepadanya dengan status “Mas Adi Setia”, dan berpotensi naik setelah mencapai usia dan jam terbang yang lebih matang.

Di bawah kepemimpinannya, Kelurahan Baru mencetak prestasi di bidang perpustakaan hingga enam besar tingkat kabupaten.

Baru-baru ini, Kelurahan Baru di bawah kepemimpinannya juga menggondol juara pertama Lomba Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat se-Kaltim tabun 2025.

Ia menerapkan metode kerja observatif dan eksekusi cepat.

“Tahun pertama saya duduk, saya hanya mengamati. Tahun kedua mulai melengkapi. Tahun ketiga, berlari kencang,” ungkapnya.

Saat ini, ia menegaskan siap kembali berlari cepat untuk mengejar target pelayanan publik dan meningkatkan kultur kerja di kelurahan.

Meski jabatan lurah adalah amanah besar, bagi Bayu, mempertahankan nilai-nilai kehidupan dan meneruskan teladan orang tua adalah tanggung jawab utama.

“Kita tak bisa membalas kebaikan orang tua. Tapi kita bisa membuat mereka bahagia, walaupun sederhana,” tegasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA