BERITAALTERNATIF.COM – Nama Ahmad Yani mungkin sudah tak asing lagi di telinga banyak orang, terutama para politisi dan sebagian besar warga Kutai Kartanegara (Kukar).
Sebagai seorang tokoh politik sekaligus pejabat birokasi yang akrab dengan urusan kemasyarakatan, Yani sapaan akrabnya, telah melalui proses panjang sebelum menduduki posisi saat ini.
Seiring dengan kabar pencalonannya sebagai Ketua DPRD Kukar, ia membawa serta beragam pengalaman pendidikan, karier, dan organisasi yang membentuk karakternya hingga mencapai posisi tersebut.
Yani berbagi kisah perjalanan hidupnya mulai dari masa kecilnya sampai pengalaman serta rekam jejak yang mengantarkannya ke dunia politik hingga menjadi seorang kandidat yang bakal mengisi kekosongan kursi pimpinan DPRD Kukar.
Kemunculan tokoh berdarah Bugis ini ke bursa pimpinan DPRD Kabupaten Kukar bukan tanpa alasan. Rekam jejaknya tergolong panjang dalam mengabdikan diri sebagai penyambung lidah masyarakat. Pengabdiannya di DPRD telah dimulai sejak tahun 2007 saat ia pertama kali diamanatkan sebagai tenaga ahli.
Tahun ini, politisi PDI Perjuangan tersebut telah memasuki periode ketiga sebagai anggota DPRD Kukar. Dia merupakan sosok yang berpengalaman sehingga tak mengherankan jika ia dipercaya oleh partainya untuk mengisi posisi sentral di legislatif tersebut.
Yani lahir di Tanjung Jabung Timur Jambi pada 7 Agustus 1979. Masa kecil dan remajanya dilewati di Sulawesi Selatan melalui proses belajar dan perjuangan yang membentuk pola pikir dan karakternya.
Sejak kecil, dia sudah terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Faktor pekerjaan yang sering kali menuntut sang ayah untuk menuntaskan pekerjaan di luar kota menjadi penyebab utama mengapa masa kecilnya selalu berpindah tempat tinggal hingga di luar Pulau Sulawesi.
Kebiasaan ini kemudian membentuk mental Yani untuk tidak ragu serta takut apabila keadaan mendesaknya harus hidup di suatu tempat tanpa menetap terlalu lama.
Sejak kecil, remaja hingga dewasa, hampir seluruh pulau di Indonesia sempat dijelajahinya, mulai dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan. Pengalaman ini membuat Yani memahami kultur setiap daerah di Indonesia.
Meski lahir di Pulau Sumatra, Yani mengaku melewati masa kecilnya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Walau mengabiskan beberapa tahun di Jambi, Yani pada akhirnya melanjutkan jenjang bersekolah di SD Inpres 1279 Desa Pattiro Bajo Kecamatan Sibuloe.
Perjalanan panjangnya yang dimulai dari sekolah dasar berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) 10 Bone, yang sebelumnya dikenal dengan nama SMP Pattiro Bajo.
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting bagi Yani. Menurutnya, pendidikan bukan hanya untuk mencapai kesuksesan duniawi, tetapi juga sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP, Yani melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Aliyah Negeri 1 Watampone, sebuah lembaga pendidikan Islam yang terletak di pusat Kota Watampone.
Setelah lulus dari Madrasah Aliyah, ia melanjutkan kariernya di dunia kerja terlebih dahulu sebelum menempuh pendidikan tinggi. Hanya saja ia tak meninggalkan dunia akademis begitu saja.
“Setelah SMA, saya sempat bekerja di Bina Asi Konsultan—sebuah konsultan yang mengurus bantuan-bantuan pemerintah dan program-program pembangunan,” ceritanya baru-baru ini di Kantor DPRD Kukar.
Pengalaman bekerja di bidang ini memberikan wawasan berharga bagi Yani sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikannya.
Langkah ini diawalinya dengan memilih untuk kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Watampone dengan mengambil jurusan tarbiyah. Namun, setelah tiga semester, ia memutuskan untuk pindah ke jurusan yang lebih sesuai dengan minatnya.
Pada tahun 1999, Yani melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia Makassar, mengambil jurusan Teknik Pertambangan. Di sinilah perjalanan akademisnya semakin berwarna dengan berbagai pengalaman organisasi yang memperkaya hidupnya.
Di masa kuliah, Yani dikenal aktif di dunia organisasi. Sejak hijrah ke Makassar, ia terlibat dalam berbagai organisasi mahasiswa, mulai dari Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang Universitas Veteran Republik Indonesia hingga Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Mahasiswa Tambang Indonesia untuk wilayah Indonesia Timur.
Di luar kampus, dia juga aktif dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia, sebuah organisasi pemuda yang mengusung semangat dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah GPII Sulawesi Selatan.
Di samping itu, saat mengemban studi di tanah Makassar, Yani pernah tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam. Dia sempat mendapatkan pelatihan dan pendidikan kepemimpinan di organisasi tersebut.
Kiprahnya di organisasi hijau hitam itu diteruskannya hingga berhasil menuntaskan proses pengaderannya sampai Latihan Kader II.
Pengalaman organisasi memberikannya banyak pelajaran berharga: pengelolaan organisasi, pengambilan keputusan, hingga belajar untuk memimpin dan mengayomi orang lain.
Setelah puas melanglang buana sebagai seorang aktivis mahasiswa, ia kemudian berhasil menyelesaikan gelar sarjana Teknik Pertambangan pada tahun 2004.
Setelah itu, ia memulai kariernya di Jakarta, bekerja di Investment Banking Corporation. Meski karier di dunia investasi tampak menjanjikan, Yani tidak merasa puas dengan dunia tersebut.
Pada tahun 2005, ia memutuskan untuk pindah ke Kalimantan Timur, yang menjadi titik balik dalam karier dan hidupnya.
“Saya masuk ke Dinas Pertambangan Kukar pada tahun 2005. Di sini banyak yang saya pelajari, terutama tentang infrastruktur dan program-program pemerintah,” ungkapnya.
Sebagai tenaga teknis, Yani berperan aktif melakukan pemetaan dan inspeksi, yang memastikan bahwa program-program yang dicanangkannya tereksekusi dan berjalan dengan baik.
Sebagai seorang pakar teknis yang kaya pengalaman, kinerjanya selama di Dinas Pertambangan Kukar mendapat apresiasi serta respons positif dari berbagai pihak. Hasil kerjanya itu membuat Yani dipercaya untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan Kukar. Ia kemudian mulai dipercaya untuk mengisi posisi sebagai tenaga ahli di DPRD Kukar sejak tahun 2007.
Hal ini menjadi bekal penting bagi Yani untuk mempersiapkan dirinya terjun ke dunia politik.
Selain bekerja di Dinas Pertambangan, ia juga terus mengembangkan diri melalui pendidikan.
Demi mengisi waktu luangnya setelah sejenak berhenti menjalankan tugas dinasnya, guna menambah pundi-pundi pendapatan, Yani juga sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di sektor pertambangan.
“Saya juga pernah menjadi konsultan dulu. Jadi berhenti di dinas. Pertama kan jadi konsultan. Konsultan swasta, konsultan tambang, dan sebagainya,” ujar dia.
Meski sibuk bekerja dan memiliki gelar sarjana teknik, Yani tidak berhenti mengejar ilmu. Ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program magister di Universitas Mulawarman Samarinda di jurusan Perencanaan Pembangunan. Ia menyelesaikan kuliah tersebut pada tahun 2010 setelah dua tahun berkuliah sambil bekerja.
Dia juga melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Erlangga Surabaya. Namun, perjalanan pendidikan doktoralnya sempat terhambat. Ia belum menyelesaikannya. Meski begitu, Yani tetap bertekad untuk merampungkan studinya.
Meskipun telah mengenyam pendidikan tinggi, ia mengakui bahwa kehidupannya tidak selalu berjalan mulus.
Di tengah perjalanan pendidikan dan kariernya, Yani juga aktif di dunia politik. Pada tahun 2014, ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Kukar.
Menjadi calon anggota DPRD merupakan langkah besar bagi seorang pria yang menghabiskan banyak waktu untuk membangun pemahaman tentang birokrasi dan pemerintahan ini.
Pengalaman Yani sebagai tenaga ahli di DPRD juga menjadi modal penting baginya untuk memahami seluk-beluk birokrasi. Penguasaannya terhadap berbagai masalah terkait pekerjaan di DPRD menjadi modal strategis baginya untuk memberi kontribusi yang lebih baik bagi masyarakat.
Perjalanan Yani menuju dunia politik tidak terlepas dari tantangan. Meski telah berpengalaman di dunia pemerintahan dan birokrasi, ia menyadari bahwa dunia politik penuh dengan dinamika dan tantangan yang lebih besar. Namun, latar belakang pendidikan yang kuat, pengalaman organisasi yang luas, serta semangat untuk bekerja keras membuatnya merasa yakin dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat Kukar.
Ia merupakan satu sosok yang sudah lebih dari 12 tahun mengabdi sebagai anggota dewan. Yani pun merasakan serta mencicipi sejumlah jabatan strategis di pemerintahan Kukar. Sejak ia terpilih, Yani pernah merasakan hangatnya kursi Komisi I, Komisi III hingga Komisi IV DPRD Kukar.
Yani juga pernah menjabat sebagai Ketua Bapemperda—sebuah badan legislasi DPRD yang ditugaskan untuk menyusun, merumuskan, dan menetapkan peraturan daerah.
Kala itu, dia menghasilkan 153 Raperda. Pada periode ini, ia menargetkan bisa menghasilkan 200 Raperda.
“Kuncinya berdaerah, bernegara, birokrasi, aturan apa pun kan semuanya di peraturan daerah,” jelasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












