BERITAALTERNATIF.COM – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa selama kunjungannya yang sangat padat ke Amerika Serikat, Teheran telah bertukar pesan dengan Washington baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun, menurutnya, keseluruhan proses itu pada akhirnya membuktikan satu hal penting: pembicaraan dengan AS memang tidak ada gunanya, persis seperti yang telah ditegaskan oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sejak awal.
Araghchi menyelesaikan satu pekan penuh agenda diplomatik di AS, menghadiri lebih dari 31 pertemuan bilateral, ikut serta dalam berbagai forum multilateral tingkat tinggi, dan dengan tegas membela hak-hak Iran dari tekanan Barat yang terus berusaha mengisolasi Teheran.
Dalam evaluasi atas misinya ke New York, dia menggambarkan perjalanan itu sebagai satu pekan yang benar-benar intensif, dipenuhi dengan rangkaian pertemuan yang sangat beragam dan mencakup spektrum isu yang luas.
Ia menekankan bahwa selain berfokus pada upaya ilegal Barat untuk mengaktifkan kembali mekanisme snapback, Teheran juga menggunakan kesempatan ini untuk memperluas hubungan bilateral dengan banyak negara, memperkuat kerja sama multilateral, serta menyampaikan posisi Iran secara jelas dalam isu-isu internasional penting, termasuk soal pembangunan, keamanan regional, dan hak kedaulatan negara.
Araghchi mengadakan pertemuan bilateral dengan lebih dari 31 menteri luar negeri dari berbagai negara. Di samping membahas isu nuklir, dia juga bertukar pandangan mengenai hubungan bilateral dan meninjau prospek kerja sama di masa depan.
“Bahkan mencapai kesepahaman terkait kemitraan ekonomi serta pembentukan komisi-komisi bersama,” jelasnya.
Ia juga menekankan peran aktif Iran dalam sejumlah forum internasional besar, termasuk KTT pembangunan global yang diprakarsai oleh Tiongkok, serta sebuah sesi khusus memperingati 1500 tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw yang diinisiasi Iran dalam kerangka Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Selain itu, Araghchi menghadiri pertemuan empat pihak tentang Afghanistan bersama Rusia, Tiongkok, dan Pakistan. Kehadiran ini, menurutnya, menunjukkan peran konstruktif Iran di kawasan, bahkan di luar kerangka formal PBB. Dengan kata lain, Iran berusaha menunjukkan bahwa ia bukan hanya bertahan dari tekanan, tetapi juga tampil aktif dalam membentuk kerja sama regional.
Araghchi kemudian menyinggung pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Dalam pertemuan itu, Iran menegaskan kembali sikapnya menolak keras upaya ilegal untuk menghidupkan kembali mekanisme snapback.
“Yang kami hadapi sebenarnya adalah sebuah tekanan terang-terangan untuk memaksa Iran memberikan konsesi yang sama sekali tidak masuk akal. Sebaliknya, kami justru menyampaikan usulan-usulan yang sepenuhnya rasional, bahkan diakui masuk akal oleh mitra Eropa kami,” tegasnya.
Namun demikian, ia melanjutkan, meski telah diadakan pembicaraan intensif dengan tiga negara Eropa, Sekjen PBB, dan juga Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tidak ada kompromi yang bisa dicapai.
Alasannya, tuntutan berlebihan dari pihak AS serta sikap negara-negara Eropa yang cenderung sejalan dengan Washington membuat kesepakatan tidak mungkin tercapai.
Menurut Araghchi, sikap Iran tidak pernah berubah: tidak ada kesepakatan apa pun yang dapat diterima jika itu merugikan hak-hak dasar dan kepentingan bangsa Iran.
Dia menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Republik Islam Iran selalu berpegang teguh pada prinsip menjaga martabat nasional, dan sampai detik terakhir pun, semua langkah akan diambil untuk memastikan kepentingan Iran terlindungi.
Ia menjelaskan, pesan-pesan telah dipertukarkan dengan pihak Amerika, baik secara langsung maupun melalui jalur tidak langsung. Pada akhirnya, ia yakin bahwa semua hal yang perlu dilakukan telah dilakukan.
“Dan yang terbukti adalah apa yang selalu dikatakan oleh Pemimpin Tertinggi: bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat adalah jalan buntu mutlak. Proses ini sekali lagi memperlihatkan dengan sangat jelas kebenaran pandangan tersebut,” terangnya.
Eropa dan Amerika beranggapan bahwa “monster” yang mereka ciptakan dari mekanisme snapback akan cukup menakutkan sehingga Iran bersedia menyerahkan konsesi apa pun. Tapi anggapan ini jelas keliru. Iran sama sekali tidak takut dengan ancaman yang tidak memiliki dasar hukum itu.
Araghchi juga menjelaskan bahwa dirinya berbicara kembali dengan Sekretaris Jenderal PBB mengenai langkah-langkah yang seharusnya dilakukan oleh Sekretariat PBB, dan beberapa di antaranya sudah mulai berjalan.
“Mulai sekarang, yang kita hadapi adalah tantangan hukum di Dewan Keamanan dan di PBB secara umum. Rusia dan Tiongkok sepakat dengan kita bahwa langkah-langkah yang ditempuh Amerika dan sekutunya itu ilegal, tidak memiliki dasar hukum apa pun, dan karenanya tidak sepatutnya diakui,” tegasnya.
Kini, Iran berhadapan dengan situasi baru, baik di Dewan Keamanan, PBB, maupun IAEA. Dari sudut pandang Iran, tidak pernah ada konsensus di Dewan Keamanan untuk menerima keputusan snapback. Rusia dan Tiongkok pun berpendapat sama bahwa konsensus semacam itu memang tidak pernah ada.
Dia menegaskan bahwa semua perkembangan ini akan dibahas lebih lanjut di dalam Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran serta komite nuklirnya.
Berdasarkan situasi keseluruhan, Iran akan melaksanakan keputusan apa pun yang dianggap paling tepat demi kepentingan negara. Ia percaya Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan mengambil keputusan yang cermat, matang, dan penuh perhitungan.
Seperti diketahui, AS bersama tiga negara Eropa telah berusaha menyalahgunakan mekanisme snapback dalam kesepakatan nuklir JCPOA untuk menghidupkan kembali sanksi-sanksi PBB terhadap Iran yang sebenarnya sudah berakhir.
Namun, pejabat Iran berkali-kali menekankan bahwa Teheran sejauh ini sepenuhnya mematuhi komitmen yang ada. Justru Washington dan sekutunya yang telah melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip diplomasi.
Pekan diplomasi yang dijalani Araghchi di New York itu menunjukkan strategi ganda Iran: di satu sisi tegas menolak tekanan ilegal, dan di sisi lain berusaha memperluas kerja sama internasional yang konstruktif, demi menjaga kepentingan nasional sekaligus memperlihatkan peran aktif Iran di dunia. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












