BERITAALTERNATIF – Kehadiran Amerika Serikat yang semakin serius di kawasan Kaukasus Selatan setelah penandatanganan draf perjanjian damai antara Baku dan Yerevan pada musim panas tahun ini membawa konsekuensi besar bagi Republik Islam Iran. Namun sejauh ini, dampak tersebut belum mendapatkan perhatian yang sepadan.
Pada tahun 2025, terutama pasca penandatanganan kesepakatan damai tiga pihak antara Republik Azerbaijan, Armenia, dan Amerika Serikat di Gedung Putih pada 8 Agustus, hubungan antara Azerbaijan dan Amerika Serikat memasuki tahap yang relatif baru dan signifikan. Meski perkembangan ini memiliki latar belakang historis, dalam beberapa tahun terakhir ia menemukan bentuk yang lebih mandiri seiring dengan perubahan regional dan global yang terjadi.
Tiga Fase Historis Hubungan Baku–Washington: Fase Pertama dan Ekspansi Bertahap
Kerja sama antara Republik Azerbaijan dan Amerika Serikat secara umum dapat dibagi ke dalam tiga fase historis. Pada fase pertama, dari awal dekade 1990-an hingga tahun 2000, Amerika Serikat mendukung kemerdekaan Azerbaijan dan memulai kerja sama politik serta ekonomi awal, terutama di bidang energi seperti minyak dan gas, serta keamanan regional. Namun, pengaruh kuat lobi Armenia di Amerika Serikat serta kelemahan ekonomi dan keamanan Baku membuat hubungan kedua negara tidak berkembang dengan cepat.
Dalam konteks ini, Amandemen 907 terhadap Republik Azerbaijan diberlakukan. Amandemen ini merupakan bagian dari Freedom Support Act yang disahkan Kongres Amerika Serikat pada tahun 1992. Ketentuan tersebut secara sementara dan bersyarat melarang bantuan langsung pemerintah Amerika Serikat kepada pemerintah Azerbaijan.
Berdasarkan aturan ini, selama pemerintah Azerbaijan belum mengambil langkah yang dapat diverifikasi untuk mengakhiri blokade dan penggunaan kekuatan ofensif terhadap Armenia dan Karabakh, Washington tidak diizinkan memberikan bantuan langsung kepada Baku. Amandemen ini disahkan pada puncak perang Azerbaijan–Armenia atas Nagorno-Karabakh, ketika Azerbaijan menutup jalur komunikasi dan ekonomi Armenia.
Ketentuan tersebut membatasi hubungan Amerika Serikat–Azerbaijan dan oleh Baku dianggap sebagai kebijakan diskriminatif. Hal ini menurunkan tingkat kepercayaan politik dan ekonomi antara kedua negara. Dampak paling langsungnya adalah pembatasan bantuan keuangan dan militer Amerika Serikat kepada Azerbaijan, sementara bantuan serupa tetap diberikan kepada negara-negara lain di kawasan.
Fase Kedua dan Lonjakan Hubungan
Sejak tahun 2000, perluasan hubungan Azerbaijan dengan NATO serta meningkatnya kerja sama energi memperkuat posisi strategis Azerbaijan bagi Amerika Serikat. Hal ini merupakan hasil tumpang tindih faktor geopolitik, energi, keamanan, serta persaingan kekuatan besar. Azerbaijan berada di persimpangan Kaukasus Selatan, Laut Kaspia, serta perbatasan Iran, Rusia, dan Turki. Dari sudut pandang Washington, Baku berperan sebagai buffer state antara Rusia dan Iran, serta jalur penghubung Asia Tengah ke Eropa tanpa melewati wilayah Rusia atau Iran.
Setelah peristiwa 11 September 2001, peran ini semakin menonjol dalam strategi Amerika Serikat untuk membatasi pengaruh Moskow dan Teheran. Proyek-proyek energi strategis turut memperkuat hubungan ini, seperti pembukaan pipa minyak Baku–Tbilisi–Ceyhan pada 2006 dan pipa gas Baku–Tbilisi–Erzurum. Tujuan utamanya adalah mengurangi pengaruh Gazprom Rusia di Eropa, menjaga keamanan energi sekutu Eropa, dan memperkuat kemandirian ekonomi Azerbaijan dari Moskow.
Serangan 11 September juga membawa kerja sama keamanan dan militer kedua pihak ke tahap baru. Amerika Serikat membutuhkan pangkalan, jalur logistik, dan mitra regional baru di Kaukasus dan Asia Tengah. Azerbaijan, sebagai mitra Muslim sekuler dengan hubungan yang semakin berkembang dengan Israel, menjadi pilihan strategis. Kerja sama pun meluas dalam isu keamanan Laut Kaspia, dukungan logistik untuk operasi di Afghanistan, dan partisipasi dalam program-program NATO.
Pada periode ini pula, Azerbaijan mulai berfungsi sebagai instrumen pengendalian Iran dari sisi utara. Dari sudut pandang Washington, Azerbaijan adalah satu-satunya negara tetangga Iran dengan mayoritas penduduk Syiah namun tidak bersekutu dengan Teheran. Hal ini memungkinkan pemanfaatannya untuk pemantauan, penyeimbangan pengaruh Iran di Kaukasus, dan kerja sama intelijen tidak resmi, terutama sejak 2010.
Persaingan Amerika Serikat dengan Rusia melalui Azerbaijan juga menguat, khususnya setelah perang Rusia–Georgia tahun 2008. Azerbaijan tidak sepenuhnya masuk ke kubu Rusia, berbeda dengan Armenia, dan kebijakan keseimbangannya sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat. Peran Azerbaijan dalam melemahkan fungsi koridor dan transit Rusia pun meningkat.
Penguatan hubungan Baku dengan Israel juga membentuk poros tidak resmi tiga pihak dengan dukungan Amerika Serikat. Azerbaijan menjadi pemasok energi penting bagi Israel dan mitra intelijen-militer Tel Aviv. Dari sudut pandang Washington, poros ini memperkuat kerangka keamanan anti-Iran tanpa biaya politik langsung bagi Amerika Serikat.
Sejak dekade 2010-an, melemahnya pengaruh lobi Armenia di Amerika Serikat dan meningkatnya prioritas isu energi dan koridor untuk menekan Rusia mendorong pendekatan Washington yang lebih pragmatis terhadap Baku. Fleksibilitas Amerika Serikat pasca perang Karabakh 2020 semakin terlihat, seiring berkembangnya kerja sama energi antara perusahaan Amerika seperti ExxonMobil dan SOCAR Azerbaijan.
Dalam konteks ini, sejak 2001 Kongres Amerika Serikat mengizinkan presiden untuk menangguhkan Amandemen 907 secara sementara. Pengecualian ini diperpanjang setiap tahun, dan pada 2025 kembali diberlakukan oleh Trump.
Fase Ketiga dan Pemanenan Hasil
Sejak 2022 dan pecahnya perang Ukraina, fase ketiga hubungan Amerika Serikat–Azerbaijan dimulai. Washington mulai menuai hasil investasi strategisnya selama lebih dari satu dekade. Perang Ukraina tidak hanya mengubah intensitas, tetapi juga sifat hubungan kedua negara, menjadikan Azerbaijan dari mitra berguna menjadi aktor yang sangat dibutuhkan.
Perang ini membawa tiga guncangan besar bagi kebijakan luar negeri Amerika Serikat: runtuhnya tatanan energi Eropa berbasis gas Rusia, meningkatnya kebutuhan untuk menekan Rusia di lingkungan sekitarnya, dan kelangkaan mitra yang dapat diandalkan di ruang pasca-Soviet. Dalam situasi ini, Azerbaijan menjadi satu-satunya negara yang bebas dari kendali Rusia, memiliki infrastruktur energi non-Rusia, serta menjalin hubungan erat dengan Barat, Turki, dan Israel.
Baku kemudian berupaya menjadi pemasok utama gas non-Rusia ke Eropa melalui Koridor Gas Selatan SCP–TANAP–TAP. Stabilitas politik dan keamanan relatif Azerbaijan mendukung hal ini. Amerika Serikat pun secara terbuka mendukung peningkatan ekspor gas Azerbaijan dan investasi Barat di ladang Shah Deniz.
Perang Ukraina juga mengurangi fokus dan sumber daya Rusia di Kaukasus, melemahkan peran Moskow sebagai penjamin keamanan kawasan. Amerika Serikat memanfaatkan situasi ini untuk menata ulang keseimbangan kekuatan regional. Azerbaijan pun mengokohkan posisinya di Karabakh dan mengurangi kehadiran Rusia. Bagi Washington, kerja sama dengan Baku memungkinkan pengurangan pengaruh Rusia tanpa konfrontasi langsung.
Kerja sama kedua pihak pun meningkat ke level operasional non-publik. Rancangan undang-undang untuk mencabut sepenuhnya Amandemen 907 dapat dilihat sebagai simbol dari perubahan ini. Dalam rancangan tersebut, Azerbaijan digambarkan sebagai mitra terpercaya Amerika Serikat sejak kemerdekaannya dan berkomitmen pada perdamaian berkelanjutan di Kaukasus Selatan.
Dampak bagi Iran dan Opsi ke Depan
Pendalaman hubungan Amerika Serikat–Azerbaijan, terutama pencabutan Amandemen 907, bukan sekadar isu bilateral, melainkan tanda restrukturisasi geopolitik di Kaukasus Selatan dan wilayah utara Iran.
Dari sisi geopolitik, hal ini mengurangi kedalaman strategis Iran di utara. Dari sisi keamanan dan intelijen, kerja sama Amerika Serikat–Azerbaijan–Israel akan semakin memperketat tekanan di perbatasan Iran. Dari sisi energi dan transit, jalur non-Iran semakin menguat, melemahkan posisi potensial Iran. Dari sisi politik dan identitas, tekanan narasi dan propaganda terhadap Iran akan meningkat.
Tanpa respons yang tepat, Kaukasus Selatan berpotensi berubah dari wilayah pengaruh Iran menjadi kawasan dominasi Barat, Israel, dan Turki. Oleh karena itu, Iran perlu memperjelas strategi regionalnya, memperkuat koridor transit yang tersisa, mengembangkan diplomasi aktif, serta meningkatkan kerja sama energi, keamanan, dan budaya dengan negara-negara kawasan. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












