BERITAALTERNATIF.COM – Persiapan fisik pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah mencapai sekitar 90 persen.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, setelah mengikuti Rapat Final Pelaksanaan Erau Adat Kutai Tahun 2026 di Sekretariat Panitia Erau, eks Gedung Wanita, Selasa (15/9/2026).
Dia mengatakan bahwa pelaksanaan Erau tahun ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Status Erau yang telah dikenal secara nasional membuat penyelenggaraan perlu memenuhi sejumlah standar dan target yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Karena ada standarisasi tertentu dan target tertentu yang diminta oleh kementerian, kita harus mendorong standar pelaksanaan,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah selama pelaksanaan kegiatan. Panitia perlu memastikan rangkaian Erau tidak menimbulkan sampah yang tersebar di berbagai lokasi.
Selain itu, mitigasi risiko bencana juga harus dipersiapkan sebagai bagian dari standar pelaksanaan.
“Bagaimana dalam proses pelaksanaan itu tidak menimbulkan sampah di mana-mana. Lalu terkait dengan proses pelaksanaan apabila terjadi bencana, harus dibuat mitigasi risiko,” jelasnya.
Ia juga menekankan agar pelaksanaan Erau memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Menurutnya, dampak terhadap UMKM menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan Erau tahun ini.
Dari sisi persiapan rangkaian sakral, Heriansyah menyebut sejumlah prosesi pra-Erau telah dilakukan dan diikuti langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Rangkaian tersebut antara lain berlangsung di makam raja dan sultan, Kompleks Museum, Desa Kutai Lama, serta prosesi yang dilaksanakan hari ini.
Dia juga menjelaskan adanya ketentuan dalam rangkaian sakral Erau yang membuat Sultan tidak diperbolehkan menginjak tanah dalam periode tertentu.
Ia menyebut ketentuan tersebut dimulai sejak prosesi menginjakkan kaki pada kayu yang disediakan di Kompleks Museum hingga rangkaian tertentu selesai dilaksanakan.
“Jadi selama ini kita di rumah, tapi kalau bepergian pakai kayu, lewatnya di situ,” katanya.
Heriansyah menjelaskan bahwa ketentuan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang dipertahankan hingga saat ini.
“Memang sejauh namanya ada, kita tidak bisa berubah dari zaman bahari. Itu nama kita. Jadi sampai sekarang ini masih terpakai,” tuturnya.
Sementara terkait dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dia mengatakan koordinasi untuk promosi Erau telah dilakukan. Namun, dukungan dalam bentuk pembiayaan belum diterima.
“Support pembiayaan terhadap proses pelaksanaan Erau, secara keseluruhan yang ada adalah support-nya dalam bentuk promosi,” ujarnya.
Ia menyebut terdapat informasi awal bahwa Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim akan menyediakan transportasi gratis bagi masyarakat dari Samarinda dan Balikpapan menuju lokasi kegiatan.
Namun, rencana tersebut masih perlu dikoordinasikan lebih lanjut karena komunikasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim belum dilakukan secara intensif.
“Informasi awalnya mereka akan menyediakan transportasi dari Samarinda maupun dari Balikpapan, itu free dari mereka,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari











