Search

Peringatan Dua Tahun Badai Al-Aqsa, Dukungan Nyata terhadap Kemerdekaan Bangsa Palestina

Haidir saat menyampaikan orasi dalam Peringatan Badai Al-Aqsa di Samarinda pada Selasa, 7 Oktober 2025. (Berita Alternatif/Ahmad Fauzi)

Oleh: Haidir*

Pada hari ini, kehadiran kita—kemauan hati kita, gerak hati kita, dan kehadiran fisik kita—semuanya tidak lepas dari karunia Allah SWT. Di antara miliaran manusia di muka bumi, tidak semua mendapat panggilan atau mengetahui apa yang terjadi di Palestina. Oleh karena itu, kita patut bersyukur: sebagai umat Islam yang berkumpul di tempat ini, di Islamic Center Samarinda ini, kita hadir sebagai simbol perlawanan, sebagai simbol pendidikan, dan sebagai wahana komunikasi umat Islam untuk kemanusiaan.

Hari ini kita mampu bersuara kembali atas apa yang terjadi di Palestina; kita menegaskan solidaritas kita kepada rakyat Palestina. Dengan sendirinya, kita siap menghadapi upaya-upaya kekuatan besar—termasuk intervensi negara adidaya dan sekutu-sekutunya—yang masih berusaha mempertahankan sistem penjajahan terhadap sesama manusia.

Saudara-saudari sekalian, tragedi yang terjadi dan perjuangan yang dilakukan rakyat Palestina—yang bermula dari peristiwa di Al-Aqsa—adalah simbol perlawanan yang kuat. Sekelompok kecil manusia di negeri kecil seperti Palestina, meskipun tampak lemah dan terbatas, menunjukkan semangat besar untuk melawan.

Sementara itu, Zionis Israel didukung oleh negara-negara adidaya yang memiliki amunisi besar dan kekayaan melimpah, yang selama ini digunakan untuk membiayai persenjataan dan menekan rakyat Palestina.

Namun, dengan semangat, tekad, dan keyakinan, rakyat Palestina mampu memberikan perlawanan yang berarti. Ketika seluruh umat Islam dan para pegiat kemanusiaan di dunia bangkit menunjukkan solidaritas, kita yakin tekanan terhadap kekuatan penindas akan meningkat dan perubahan signifikan dapat tercapai.

Apa yang kita lakukan hari ini bertujuan mengobarkan kembali semangat dan menegaskan pentingnya perjuangan Palestina. Kita tidak boleh mengabaikan perjuangan itu—di dalamnya tercermin nilai-nilai kemanusiaan: ada upaya perampasan terhadap kemerdekaan, ada penindasan terhadap manusia yang tak bersalah, ada pengorbanan, ada kriminalisasi, serta berbagai bentuk intimidasi. Kita harus terus bersuara, bergerak, dan membantu agar keadilan dan kemanusiaan ditegakkan.

Dalam rangka membangkitkan kembali semangat kita terhadap pentingnya perjuangan Palestina, kita tidak boleh mengabaikan apa yang terjadi di sana. Karena di dalam perjuangan Palestina terdapat makna penyelamatan bagi kemanusiaan, ada perlawanan terhadap perampasan kemerdekaan, ada penindasan terhadap manusia yang tak bersalah, serta ada pengorbanan dari banyak pihak yang ditindas, diabaikan, dan didiskriminasi dengan berbagai bentuk intimidasi lainnya.

Saya berharap, apa yang kita lakukan pada hari ini dapat kembali mengangkat dan memperbarui komitmen kita terhadap Palestina. Bahwa sampai akhir hayat, kita akan terus berjuang—insyaallah—untuk tetap berada di barisan yang membela rakyat Palestina. Sampai akhir umur kita, kita harus berani berhadapan dengan segala bentuk imperialisme dan segala bentuk penjajahan, apa pun wujud dan siapa pun pelakunya.

Kita menyadari bahwa setelah Perang Dunia II, dunia telah bersepakat untuk menegakkan sebuah konsep universal tentang kebebasan dan kemerdekaan manusia. Kesepakatan itu dikenal dengan Declaration of Human Rights, yang pada waktu itu digagas oleh negara-negara Barat dan Eropa.

Namun, dalam kenyataannya, Deklarasi Hak Asasi Manusia tersebut kini terasa seperti kesepakatan kosong. Ketika dunia dihadapkan pada konflik yang nyata—seperti yang terjadi di Palestina—negara-negara yang dulu mengaku sebagai pembela kemanusiaan justru menunjukkan keberpihakan yang jelas. Kita menyaksikan bagaimana Eropa menodai nilai-nilai kemanusiaan yang mereka agung-agungkan sendiri, dengan berpihak kepada rezim Israel, kepada penjajah, kepada mereka yang menumpahkan darah manusia tak berdosa.

Apa yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa hari ini menunjukkan standar ganda: mereka berbicara tentang perdamaian, tetapi mendukung kekerasan; mereka menyerukan hak asasi, tetapi menutup mata terhadap penindasan.

Oleh karena itu, kita—umat Islam dan bangsa-bangsa yang mencintai keadilan—harus kembali kepada ajaran dasar kita. Ajaran yang mengajarkan cinta, penghormatan, dan kemanusiaan. Kita harus menegaskan bahwa kebencian tidak boleh menjadi dasar peradaban. Nilai-nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama manusia adalah fondasi sejati bagi setiap bangsa dan umat manusia.

Apa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar bentuk solidaritas, tetapi juga ujian moral dan spiritual bagi kita semua. Semoga perjuangan kita menjadi bukti nyata di hadapan Allah SWT, di hadapan Rasulullah SAW, dan di hadapan seluruh umat manusia bahwa kita tetap setia pada nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemerdekaan.

Kita adalah bangsa yang beriman, bangsa yang cinta damai, bangsa yang ingin memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan—baik fisik maupun ideologis. Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi bagian dari perjuangan besar umat manusia untuk membangun dunia yang lebih adil dan bermartabat. (*Disampaikan dalam Peringatan Dua Tahun Badai Al-Aqsa di Samarinda pada 7 Oktober 2025)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA