Search

Penipuan Antisemitisme

Mantan Menteri Pendidikan Israel Shulamit Aroni mengakui bahwa penyamaan tersebut merupakan sebuah penipuan. “Ini adalah sebuah trik. Kami selalu menggunakannya.” (Al Mayadeen English; Ilustrasi oleh Ali al-Hadi Shmeiss)

BERITAALTERNATIF.COM – Klaim tentang meningkatnya ancaman antisemitisme secara global digunakan untuk melindungi Israel dari kritik dan menutupi proyek kolonial berupa pengusiran, apartheid, serta perang regional. Seperti dijelaskan Direktur Pusat Studi Kontra-Hegemoni yang berbasis di Sydney, Tim Anderson, menyamakan kritik terhadap Israel dengan kebencian terhadap orang Yahudi justru membungkam perbedaan pendapat dan melindungi kebijakan Israel dari pertanggungjawaban.

Apa yang disebut sebagai “ancaman antisemitisme yang meningkat” disebut Tim Anderson sebagai kedok bagi genosida Zionis dan perang regional—yang ia gambarkan sebagai kampanye kekerasan rasial terburuk sejak era Nazi Germany.

Kampanye kolonialisme Zionis yang penuh kekerasan dan rasis ini, menurutnya, mendorong pengusiran paksa atau pemusnahan penduduk asli Palestina, penghancuran atau pemecahan negara-negara tetangga yang pro-Palestina, serta penargetan terhadap suara-suara di seluruh dunia yang mendukung hak-hak setara bagi rakyat Palestina.

Menurut artikel tersebut, meskipun Afrika Selatan pada masa apartheid juga brutal dan kriminal, sistem itu tidak menjalankan kekerasan rasial dalam skala dan karakter seperti yang dituduhkan terhadap proyek Zionis. Untuk menemukan paralel dalam hal pembersihan etnis, pemusnahan genosidal, dan perang luas terhadap bangsa-bangsa merdeka, Tim Anderson menyebut harus kembali pada contoh Jerman Nazi.

Tujuan dari apa yang disebut sebagai “penipuan antisemitisme” ini adalah mengalihkan perhatian dari rasisme mendalam yang sebenarnya, sekaligus menampilkan kaum Zionis sebagai korban serangan yang seolah tidak diprovokasi.

Dia menyatakan bahwa klaim tentang gelombang kebencian baru terhadap orang Yahudi juga dipengaruhi oleh fakta bahwa para pendukungnya sering kali menyamakan rezim apartheid Israel dengan masyarakat Yahudi secara umum. Penyamaan ini, menurut Tim Anderson, didorong oleh kelompok pengumpul data seperti Anti-Defamation League (ADL) serta kampanye yang mendukung definisi kerja antisemitisme dari International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA).

Pada 2025, ADL sendiri mengakui bahwa mayoritas insiden yang mereka catat sebagai “antisemitisme” mengandung unsur yang berkaitan dengan Israel atau Zionisme.

Akibatnya, semua ekspresi kemarahan publik terhadap kejahatan rezim Israel dihitung sebagai tindakan terhadap orang Yahudi—termasuk pernyataan para demonstran Yahudi yang membawa slogan “bukan atas nama kami” yang juga mengecam tindakan Israel.

Menurutnya, kaum Zionis kolonial secara sistematis menyamakan masyarakat Yahudi dengan negara Israel, sehingga mengaburkan perbedaan antara keduanya dan meremehkan makna asli istilah antisemitisme dalam konteks Eropa.

Tim Anderson juga menyebut bahwa sejumlah pejabat Israel, termasuk hakim, pernah mengatakan kepada warga Palestina Arab bahwa “tanah ini milik orang Yahudi” berdasarkan klaim kitab suci, ketika mereka mengambil alih tanah Palestina. Interaksi seperti ini, menurutnya, menjelaskan mengapa banyak masyarakat Arab juga tidak membedakan antara Yahudi dan Zionis.

Ia menambahkan bahwa orang-orang dengan perspektif Eropa biasanya membuat perbedaan antara keduanya sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah penderitaan orang Yahudi di Eropa. Namun pejabat Israel seperti Abba Eban, mantan duta besar Israel pada 1950-an, pernah mengatakan bahwa salah satu tugas utama dalam dialog dengan dunia non-Yahudi adalah membuktikan bahwa tidak ada perbedaan antara antisemitisme dan anti-Zionisme.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Jonathan Greenblatt, pimpinan ADL, yang pada 2022 menyatakan bahwa “anti-Zionisme adalah antisemitisme”. Menurut Tim Anderson, pernyataan seperti itu berusaha merusak pandangan yang membedakan antara tindakan negara Israel dan masyarakat Yahudi secara keseluruhan.

Namun mantan Menteri Pendidikan Israel Shulamit Aloni pernah mengakui bahwa penyamaan tersebut merupakan bentuk manipulasi. Ia mengatakan:

“Ini adalah trik. Kami selalu menggunakannya. Ketika dari Eropa seseorang mengkritik Israel, kami mengangkat isu Holocaust. Ketika di Amerika Serikat orang-orang mengkritik Israel, maka mereka disebut antisemit.”

Orang Yahudi yang mengkritik Israel sendiri sering diberi label sebagai “Yahudi yang membenci diri sendiri”.

Di balik perdebatan yang menurut Tim Anderson bersifat semu ini, proyek Zionis yang dianggap sangat rasis terus berjalan dan disebut sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan dunia.

Tim Anderson menyebut beberapa unsur yang menurutnya merupakan bagian dari operasi tersebut, antara lain:

Pertama, pengusiran atau pemusnahan ala Nazi terhadap penduduk dari wilayah yang akan dikolonisasi. Dia menyebut genosida di Gaza serta pembersihan etnis di Tepi Barat telah diakui oleh sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk International Court of Justice.

Kedua, penghancuran atau pemecahan negara-negara di sekitar Palestina yang mendukung rakyat Palestina, termasuk aneksasi sebagian wilayah Suriah dan Lebanon, serta dukungan terhadap perang besar terhadap negara-negara seperti Irak dan Iran.

Ketiga, penindasan terhadap individu dan lembaga pendidikan yang mendukung hak rakyat Palestina.

Tim Anderson juga menyebut beberapa ciri dari praktik yang disebut sebagai “penipuan antisemitisme”, antara lain:

Pertama, alasan yang dianggap palsu yang menyamakan masyarakat Yahudi dengan negara Israel, sehingga menutupi kekerasan rasial.

Kedua, distorsi doktrin Yahudi untuk membenarkan supremasi Yahudi dan merendahkan non-Yahudi.

Ketiga, kampanye diskriminasi dan represi terhadap para pendukung kesetaraan dan pembebasan Palestina.

Keempat, penyembunyian kejahatan apartheid, penindasan, dan genosida di balik narasi perlindungan terhadap masyarakat Yahudi.

Sebagaimana ditulis oleh Richard Falk dan Virginia Tilley dalam laporan tahun 2017 untuk PBB, rezim Israel digambarkan sebagai negara apartheid yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Laporan itu menyatakan komunitas internasional memiliki kewajiban moral dan politik untuk membongkar struktur apartheid sesuai hukum internasional.

Tim Anderson menutup artikelnya dengan pernyataan bahwa apa yang disebut sebagai “penipuan antisemitisme” perlu diungkap dan dikritik, karena membiarkannya berarti turut mendukung apartheid Israel dan—dalam kasus Israel—berkaitan dengan genosida. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA