Search

Palestina dalam Pemikiran Syahid Sayyid Ali Khamenei

Palestina bukan sekadar sebuah isu dalam pemikiran Pemimpin Syahid Sayyid Ali Khamenei, melainkan kompas bagi umat Islam dan jantung yang terus berdetak bagi Perlawanan kawasan terhadap entitas Zionis beserta para pendukungnya. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Ketika Iran memasuki hari keempat rangkaian upacara pemakaman Pemimpin Syahid Revolusi Islam, Sayyid Ali Khamenei, dengan jutaan pelayat menghadiri prosesi penghormatan terakhir utama di Teheran, terdapat satu isu yang menonjol sebagai inti dari warisan politik dan ideologinya: Palestina.

Selama puluhan tahun melalui pidato, tulisan, dan pesan-pesan langsung kepada para pemimpin Perlawanan Palestina, Sayyid Khamenei memandang Palestina bukan sebagai persoalan politik yang bersifat sementara, bukan sekadar sengketa perbatasan, dan bukan pula isu yang hanya menyangkut rakyat Palestina semata. Ia memandang Palestina sebagai persoalan sentral bagi umat Islam, isu kemanusiaan dan moral, serta poros yang menjadi pusat gerakan Perlawanan di Asia Barat.

Dalam wacananya, Palestina bukan hanya sebidang tanah yang diduduki. Palestina merupakan jantung konfrontasi antara umat Islam dan Front Kesombongan Global (Front of Arrogance); luka yang menganga di tubuh dunia Islam sekaligus pada hati nurani kemanusiaan. Pembebasannya berkaitan langsung dengan pemulihan martabat, kemerdekaan, dan kedaulatan bangsa-bangsa di kawasan.

Pandangan tersebut tampak jelas dalam jawabannya pada April 2018 terhadap surat dari pemimpin syahid Hamas, Ismail Haniyeh. Dalam surat balasan itu, Sayyid Khamenei kembali menegaskan bahwa Palestina merupakan “isu penting bagi umat Islam” dan menekankan bahwa Perlawanan bukanlah salah satu pilihan di antara banyak pilihan, melainkan satu-satunya jalan yang mampu mengembalikan hak-hak rakyat Palestina.

“Tidak diragukan lagi, Perlawanan adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina yang tertindas, dan satu-satunya obat bagi luka-luka di tubuh bangsa yang pemberani dan bermartabat itu,” tulis Sayyid Khamenei.

Palestina sebagai Persoalan Islam, Kemanusiaan, dan Moral

Sayyid Khamenei berulang kali menyebut Palestina sebagai isu internasional paling penting yang dihadapi dunia Islam. Dalam salah satu pernyataannya yang paling tegas, ia mengatakan:

“Tidak diragukan lagi, dalam kehidupan kaum Muslim dan di seluruh dunia Islam, tidak ada persoalan yang lebih penting dan lebih serius daripada persoalan Palestina.”

Dalam berbagai pidatonya, pendudukan Palestina tidak dipandang sebagai tragedi yang berdiri sendiri. Menurutnya, pendudukan tersebut merupakan bagian dari proyek yang lebih besar untuk melemahkan persatuan umat Islam sekaligus memaksakan dominasi Barat dan Zionisme di kawasan.

Ia berpendapat bahwa pendudukan itu menciptakan sebuah basis permusuhan di jantung dunia Islam, memisahkan wilayah timur dan barat dunia Islam, serta menjadikan tanah Palestina sebagai pangkalan untuk menekan negara-negara Arab dan Muslim di sekitarnya.

Dalam kerangka berpikir ini, Sayyid Khamenei memandang entitas Zionis sebagai garis depan hegemoni Barat di Asia Barat—sebuah proyek yang ditanamkan di kawasan untuk memecah belah persatuan umat Islam, melindungi kepentingan kolonial, serta memperluas dominasi kekuatan-kekuatan arogan dunia.

Karena alasan itu pula, ia berulang kali menyatakan bahwa entitas Zionis secara historis tidak dapat bertahan lama. Menurutnya, entitas tersebut bukanlah sebuah negara yang tumbuh secara alami berdasarkan kehendak masyarakat kawasan, melainkan sebuah struktur buatan yang dipaksakan melalui kekuatan, dipertahankan dengan dukungan Barat, dan dilemahkan oleh minimnya legitimasi yang dimilikinya sendiri.

Dari sudut pandang ini, Palestina memiliki arti yang bersifat keagamaan, kemanusiaan, politik, keamanan, dan ekonomi sekaligus.

Secara agama, Sayyid Khamenei memandang pembelaan terhadap Palestina sebagai kewajiban karena Palestina yang diduduki merupakan bagian dari tanah kaum Muslim.

Dari sisi kemanusiaan, ia menggambarkan rakyat Palestina sebagai sebuah bangsa yang dirampas tanah air, hak-hak, dan martabatnya.

Sementara secara politik dan strategis, ia memandang entitas Zionis sebagai proyek Barat yang dirancang untuk mendominasi kawasan dan menghalangi bangsa-bangsa di wilayah tersebut mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya.

Ia pernah menegaskan: “Palestina adalah persoalan utama bagi kami, dan kemenangan rakyat Palestina adalah sesuatu yang pasti.”

Terlihat jelas di sini bagaimana Palestina menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas revolusioner Republik Islam Iran. Penetapan Hari Quds Internasional oleh Imam Khomeini menjadikan Palestina sebagai komitmen revolusioner yang bersifat permanen, bukan sekadar slogan musiman atau posisi diplomatik.

Bagi Sayyid Khamenei, Hari Quds mencerminkan doktrin Revolusi Islam yang lebih luas, yaitu berdiri bersama mustadh’afin (kaum tertindas dan mereka yang dirampas haknya) melawan mustakbirin (kekuatan-kekuatan arogan yang berupaya mendominasi bangsa-bangsa).

Dalam pengertian ini, Palestina bukan hanya persoalan umat Islam, tetapi juga ujian terhadap posisi moral umat manusia dalam menghadapi pendudukan, perampasan tanah, dan perlawanan.

Al-Quds (Yerusalem) juga menempati posisi sentral dalam pandangan tersebut. Sayyid Khamenei menyebut Al-Quds sebagai “ibu kota Palestina”, seraya menegaskan bahwa kota itu adalah milik rakyat Palestina dan umat Islam, sehingga pembelaan terhadapnya tidak dapat dipisahkan dari perjuangan yang lebih luas melawan pendudukan.

Karena itulah Sayyid Khamenei secara konsisten menolak berbagai upaya yang mereduksi persoalan Palestina menjadi sekadar perundingan, formula diplomatik, atau penyelesaian teritorial yang terbatas.

Baginya, persoalan Palestina bukan semata-mata mengenai wilayah yang diduduki sejak tahun 1967, melainkan tentang perampasan seluruh Palestina dan penyangkalan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.

Sebagaimana yang ia katakan: “Tidak ada perbedaan antara wilayah yang diduduki sebelum atau sesudah tahun 1967. Setiap jengkal tanah Palestina adalah bagian dari tanah air kaum Muslim.”

Perlawanan sebagai Doktrin, bukan Reaksi

Salah satu tema yang paling konsisten dalam pidato-pidato Sayyid Khamenei adalah keyakinannya bahwa Perlawanan merupakan dasar bagi setiap solusi yang nyata.

Ia berulang kali menegaskan bahwa perundingan dengan entitas Zionis hanya akan menunda kemenangan Palestina dan memberi kesempatan kepada pendudukan untuk semakin menguat.

Dalam suratnya kepada syahid Ismail Haniyeh pada tahun 2018, Sayyid Khamenei memperingatkan bahwa: “Bergerak menuju perundingan dengan rezim yang licik, perampas, dan tidak jujur adalah sebuah kesalahan yang tidak dapat diperbaiki.”

Ia menambahkan bahwa jalan tersebut hanya akan: “Menunda kemenangan bangsa Palestina” dan tidak akan menghasilkan apa pun selain: “Kerugian bagi rakyat Palestina yang tertindas.”

Bahasa yang digunakan dalam surat tersebut mencerminkan sebuah doktrin yang lebih luas: Palestina hanya dapat dibebaskan melalui keteguhan rakyat Palestina sendiri, dengan dukungan bangsa-bangsa Muslim dan gerakan-gerakan Perlawanan di seluruh kawasan.

Di kesempatan lain, Sayyid Khamenei menyampaikan hal itu secara lebih lugas: “Tidak mungkin menyelamatkan Palestina dengan memohon kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, kekuatan-kekuatan arogan, ataupun rezim Zionis. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Palestina adalah dengan melakukan Perlawanan.”

Sayyid Khamenei juga menegaskan bahwa Intifada Palestina bukanlah gerakan yang diciptakan oleh pihak luar.

Menurutnya, Intifada lahir dari penderitaan, kemarahan, keimanan, dan tekad rakyat Palestina sendiri.

Ia mengatakan: “Intifada Palestina bukan disebabkan oleh Republik Islam Iran ataupun rakyat Lebanon… Intifada dipicu oleh rakyat Palestina sendiri.”

Dalam pandangannya, peran Iran bukan menggantikan rakyat Palestina dengan berperang atas nama mereka, melainkan mendukung Perlawanan Palestina dan memastikan bahwa perjuangan mereka tidak dikubur oleh tekanan, normalisasi hubungan, ataupun kompromi politik.

Pengkhianatan Arab dan Politik Pengabaian

Balasan Sayyid Khamenei kepada syahid Ismail Haniyeh juga secara langsung menyinggung apa yang disebut Haniyeh sebagai pengkhianatan sebagian negara Arab terhadap Palestina.

Sayyid Khamenei membenarkan penilaian tersebut. Ia mengatakan bahwa Haniyeh telah secara tepat menunjukkan adanya: “Konspirasi dan kemunafikan sebagian negara Arab” serta: “Rencana-rencana jahat mereka yang dijalankan di belakang Amerika Serikat.

Bagi Sayyid Khamenei, dukungan terhadap Palestina bukanlah sikap politik sementara yang berubah mengikuti dinamika kawasan.

Ia menulis: “Mendukung Palestina adalah kewajiban agama dan tanggung jawab kemanusiaan yang melampaui berbagai peristiwa maupun perubahan politik.”

Ia juga menegaskan bahwa: “Seluruh pemerintahan Muslim, bangsa-bangsa Muslim, dan seluruh gerakan Islam” memiliki kewajiban untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.

Menurutnya, pengkhianatan sebagian negara Arab dan pilihan mereka menempuh jalur perundingan dengan pendudukan memiliki tujuan yang sama, yakni menunda kemenangan Palestina dan melemahkan Perlawanan.

Ia berkata: “Persoalan Palestina berada di jantung seluruh tantangan internasional yang dihadapi umat Islam dalam perjuangannya melawan Front Kesombongan Global.”

Sayyid Khamenei juga memperingatkan bahwa perundingan dengan entitas Zionis hanya akan merugikan rakyat Palestina.

Bahkan, ia menambahkan: “Tindakan pengkhianatan sebagian pemimpin Arab, yang kini semakin tampak jelas, mengejar tujuan yang sama.”

Bagi Sayyid Khamenei, normalisasi hubungan dengan entitas Zionis maupun sikap diam negara-negara Arab bukanlah posisi yang netral. Keduanya merupakan bagian dari rantai politik yang memungkinkan entitas Zionis terus melanjutkan pendudukannya, memperluas kejahatan-kejahatannya, serta berupaya menghapus Palestina dari kesadaran regional maupun global.

Dalam berbagai pidatonya mengenai Palestina, ia berpendapat bahwa sikap diam banyak pemerintahan Arab, bahkan dalam beberapa kasus pengkhianatan mereka secara terbuka, telah membuat pendudukan semakin agresif dan mendorong proyek Zionis kembali berbicara secara terang-terangan mengenai ekspansi wilayah.

Karena itu, Sayyid Khamenei memberikan penekanan khusus kepada bangsa-bangsa Arab dan Muslim, terutama generasi muda. Menurutnya, sekalipun pemerintah-pemerintah mereka mundur dari dukungan terhadap Palestina, rakyat masih memiliki kemampuan untuk terus menghidupkan perjuangan Palestina.

Sebagaimana ia tuliskan dalam surat yang sama: “Satu-satunya obat adalah memperkuat Perlawanan di dunia Islam, memperkokoh perjuangan melawan rezim Zionis perampas dan para sekutunya.”

Poros Perlawanan Berpusat pada Palestina

Pandangan Sayyid Khamenei yang menempatkan Palestina sebagai pusat juga menjadi landasan ideologis bagi pendekatannya terhadap Poros Perlawanan (Axis of Resistance).

Dia tidak memandang front-front Perlawanan di Palestina, Lebanon, Irak, Yaman, Suriah, dan Iran sebagai medan perjuangan yang terpisah satu sama lain, melainkan sebagai bagian dari satu konfrontasi besar melawan pendudukan, dominasi, dan proyek Zionis yang didukung Amerika Serikat.

Dalam kerangka tersebut, Palestina adalah kompasnya.

Palestina merupakan isu yang memberikan legitimasi moral sekaligus arah strategis bagi Poros Perlawanan.

Sebagaimana dikatakan Sayyid Khamenei: “Hari ini persoalan Palestina adalah poros dari gerakan ini.”

Sayyid Khamenei berulang kali menjadikan Perlawanan Lebanon sebagai bukti bahwa keteguhan mampu memaksa entitas Zionis mundur tanpa harus memberikan konsesi apa pun.

Dalam pidato-pidatonya, pembebasan Lebanon Selatan dijadikan model bagi rakyat Palestina dan umat Islam secara keseluruhan—sebuah bukti bahwa Perlawanan bersenjata, kesabaran, dan keimanan mampu mencapai apa yang gagal diwujudkan melalui perundingan maupun berbagai konferensi tingkat tinggi.

Ia mengatakan: “Sebagai teladan yang berhasil bagi umat Islam, Perlawanan untuk pertama kalinya mampu membebaskan wilayah yang diduduki tanpa memberikan konsesi apa pun kepada Israel.”

Menurutnya, pengalaman Lebanon menjadi bukti bahwa entitas Zionis dapat dipaksa mundur melalui Perlawanan, bukan melalui kompromi.

Pada saat yang sama, Sayyid Khamenei juga berusaha menegaskan bahwa Perlawanan Palestina bukanlah proyek impor ataupun hasil arahan pihak luar.

Sebaliknya, ia menggambarkannya sebagai sebuah kebangkitan yang lahir secara alami dari penderitaan rakyat Palestina sendiri, akumulasi ketidakadilan yang mereka alami, serta tekad mereka untuk merebut kembali hak-haknya.

Dalam pandangan tersebut, Iran dan Lebanon hanyalah pendukung dari kehendak rakyat Palestina yang memang telah ada untuk melakukan Perlawanan, bukan pencipta kehendak tersebut.

Ia juga menggambarkan Palestina sebagai poros Kebangkitan Islam (Islamic Awakening) dengan mengatakan: “Intifada Al-Aqsa berhasil melampaui batas-batas Palestina dan melibatkan seluruh bangsa Muslim serta bangsa Arab.”

Dengan demikian, Palestina bukan hanya sebuah isu yang didukung oleh Poros Perlawanan, tetapi justru merupakan isu yang membentuk Poros Perlawanan dan memberikan arah bersama bagi berbagai gerakan di kawasan.

Melawan Penghapusan Palestina dan Normalisasi

Tema penting lainnya dalam pidato-pidato Sayyid Khamenei adalah perjuangan melawan upaya menghapus Palestina dari ingatan dunia.

Ia memperingatkan bahwa entitas Zionis beserta para pendukungnya berusaha menghilangkan nama Palestina dari sejarah, wacana politik, dan kesadaran publik.

Ia mengatakan: “Hari ini para pemimpin rezim Zionis perampas beserta para pendukung Amerika mereka berusaha menghapus nama Palestina dari sejarah dan dari ingatan masyarakat dunia.”

Karena itu, ia menegaskan bahwa Palestina harus tetap hadir dalam pidato, media, karya seni, mobilisasi publik, maupun aktivitas politik.

Menurutnya, sistem media global selama puluhan tahun telah berupaya menggambarkan pihak penjajah sebagai korban, sementara penderitaan rakyat Palestina justru disembunyikan.

Dalam konteks itu, ia juga menyerukan agar dunia budaya dan seni ikut berperan mengungkap realitas pendudukan.

Sebagaimana ia katakan: “Hal ini harus disampaikan dengan cara yang tepat. Film-film harus dibuat mengenai persoalan ini, dan berbagai karya seni harus diproduksi agar dunia mengetahui apa yang sedang terjadi di Palestina.”

Pandangan tersebut menjadi semakin mendesak selama genosida di Gaza. Sayyid Khamenei memperingatkan agar perhatian dunia tidak dialihkan dari Palestina.

Menurutnya, pengalihan perhatian itu sendiri merupakan senjata yang digunakan oleh musuh-musuh Palestina, terutama ketika besarnya kejahatan Israel mulai memicu kemarahan masyarakat internasional.

Solusi Politik yang Berakar pada Hak untuk Kembali

Meskipun Sayyid Khamenei menolak perundingan dengan entitas Zionis sebagai jalan menuju pembebasan Palestina, ia berulang kali mengajukan sebuah solusi politik yang menurutnya demokratis, sejalan dengan hukum internasional, dan berlandaskan hak menentukan nasib sendiri.

Solusi tersebut adalah penyelenggaraan referendum di antara penduduk asli Palestina, yang mencakup umat Islam, Kristen, dan Yahudi, baik yang masih berada di Palestina maupun yang hidup dalam pengasingan.

Ia mengatakan: “Solusi yang logis adalah menyelenggarakan referendum di antara rakyat Palestina, termasuk semua orang yang telah diusir dari Palestina dan yang, tentu saja, bersedia kembali ke tanah air mereka.”

Berdasarkan usulan ini, rakyat Palestina yang terusir dari tanah airnya akan kembali ke Palestina, ikut menentukan sistem politik yang akan dibangun, dan memutuskan sendiri masa depan negeri tersebut.

Sayyid Khamenei menegaskan bahwa referendum harus melibatkan: “Semua orang yang tinggal di Palestina sebelum tahun 1948, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi.”

Ia memandang usulan tersebut sebagai persoalan hak-hak politik yang mendasar. Karena itu ia mengajukan pertanyaan:

“Mengapa demokrasi dianggap baik bagi seluruh bangsa di dunia, tetapi tidak bagi rakyat Palestina? Mengapa semua bangsa di dunia memiliki hak menentukan nasibnya sendiri, sementara rakyat Palestina tidak?”

Namun demikian, ia tetap berpendapat bahwa solusi semacam itu tidak mungkin diwujudkan dengan bergantung kepada AS, negara-negara Barat, ataupun lembaga-lembaga internasional yang selama puluhan tahun melindungi pendudukan.

Menurutnya, solusi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui Perlawanan, tekanan terhadap pendudukan, persatuan, serta penolakan untuk mengabaikan hak-hak rakyat Palestina.

Palestina sebagai Takdir

Dalam pemikiran Sayyid Khamenei, Palestina bukan sekadar simbol penindasan.

Palestina juga merupakan simbol dari sebuah kepastian: keyakinan bahwa pendudukan tidak akan berlangsung selamanya, bahwa suatu bangsa yang terus melakukan Perlawanan tidak akan pernah dapat dihapuskan, dan bahwa masa depan pada akhirnya akan menjadi milik mereka yang tetap teguh.

Pidato-pidatonya berulang kali kembali pada satu gagasan pokok: Palestina akan tetap ada, sedangkan entitas Zionis hanyalah bersifat sementara.

Ia mengatakan: “Mereka tidak akan mampu menghapus nama Palestina.”

Ia juga menegaskan bahwa: “Palestina dan bangsa Palestina akan tetap ada.”

Keyakinan tersebut berkaitan erat dengan pandangannya bahwa pendudukan Zionis bukan hanya menghadapi perjuangan politik, melainkan juga menghadapi kenyataan sejarah yang pada akhirnya tidak dapat dihindari.

Sebagaimana dikatakannya: “Palestina adalah milik bangsa Palestina.”

Lalu ia menambahkan: “Cepat atau lambat, para perampas itu pada akhirnya akan menyerah kepada kenyataan ini.”

Karena itulah Palestina menempati posisi yang sangat sentral dalam pandangan dunianya.

Menurut Sayyid Khamenei, Palestina: Menentukan arah konfrontasi dengan AS dan entitas Zionis; menyingkap normalisasi hubungan dan pengkhianatan sebagian negara Arab; menyatukan berbagai front Perlawanan, serta memberikan kompas politik dan moral yang sama bagi umat Islam.

Bagi Sayyid Khamenei, Palestina bukanlah sekadar kenangan yang harus dipelihara ataupun slogan yang terus diulang-ulang.

Palestina adalah jantung perjuangan kawasan untuk meraih pembebasan, sekaligus isu yang terus menjadi pusat konsolidasi Poros Perlawanan hingga tercapainya kemenangan. (*)

Penulis: Janna Kadri
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA