BERITAALTERNATIF.COM – Iran memulai rangkaian upacara pemakaman selama sepekan untuk Sayyid Ali Khamenei, dengan jutaan pelayat diperkirakan akan menghadiri prosesi di lima kota di Iran dan Irak.
Rangkaian upacara tersebut berlangsung di tengah suasana berkabung nasional. Pemerintah dan masyarakat Iran menampilkan prosesi ini sebagai ekspresi kolektif atas kesinambungan dan ketangguhan bangsa setelah bertahun-tahun menghadapi perang serta tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Menurut laporan CNN, persiapan dan prosesi pemakaman sarat dengan simbolisme, sekaligus mencerminkan warisan politik dan keagamaan Sayyid Ali Khamenei. Penekanannya diarahkan pada dampak kepemimpinannya yang dinilai tetap bertahan serta kohesi yang terus dihasilkannya.
Dalam laporannya, CNN menulis: “Skala penyelenggaraan ini dirancang untuk mengirimkan pesan kepada dunia dan kepada musuh-musuh Republik Islam: bahwa rezim ini tidak hanya mampu bertahan dari perang yang mengancam eksistensinya, tetapi juga akan terus mengabadikan pemimpin mereka yang gugur sebagai simbol ketangguhan.”
Pesan Nasional tentang Keteguhan dan Keberlanjutan
Para pejabat Iran menyatakan bahwa berkumpulnya masyarakat mencerminkan respons nasional yang bersatu atas kehilangan tersebut, dengan penekanan pada stabilitas institusi dan kohesi sosial, bukan pada kekacauan. Dalam narasi resmi pemerintah, Sayyid Ali Khamenei dikenang sebagai sosok yang kepemimpinannya membentuk kesinambungan politik Iran selama beberapa dekade di bawah tekanan eksternal yang terus-menerus.
Prosesi pemakaman juga membawa pesan mengenai daya tahan Iran sebagai negara yang mampu bertahan menghadapi perang dan sanksi, sembari tetap mempertahankan kesatuan internal di sekitar institusi-institusi utama serta identitas nasionalnya.
Sina Toossi, peneliti senior nonresiden di Center of International Policy, mengatakan kepada CNN bahwa Sayyid Ali Khamenei kini ditempatkan dalam narasi historis-keagamaan.
“Khamenei kini diposisikan sebagai otoritas agama yang syahid, serupa dengan para tokoh suci Syiah yang gugur sebagai syuhada, yang pandangan hidupnya dianggap terbukti melalui cara wafatnya,” katanya.
Delegasi Internasional Beri Penghormatan di Musala Agung Teheran
Jenazah Pemimpin Revolusi Islam yang syahid, Sayyid Ali Khamenei, dipindahkan ke Musala Agung Teheran (Grand Mosalla), tempat jenazah akan disemayamkan sebelum prosesi pemakaman resmi yang dijadwalkan dimulai pada Sabtu (4/7/2026).
Sejak Jumat, berbagai delegasi dari kawasan Timur Tengah dan berbagai negara mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Para kepala lembaga negara Iran beserta Ketua Dewan Kemaslahatan (Expediency Discernment Council) hadir di Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan kepada pemimpin mereka yang syahid.
Selain itu, para komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Angkatan Bersenjata Iran juga hadir untuk memberikan penghormatan kepada Panglima Tertinggi mereka.
Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Abdollahi, menyatakan bahwa kemenangan-kemenangan strategis Iran baru-baru ini diraih berkat kepatuhan penuh terhadap kerangka pertahanan yang telah ditetapkan oleh Pemimpin Umat yang syahid.
Ketua Dewan Direksi Jaringan Media Al Mayadeen, Ghassan Ben Jeddou, juga tiba di Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan sebagai bagian dari delegasi yang turut diikuti tokoh-tokoh media dari Irak dan Afghanistan.
Delegasi yang mewakili Hizbullah turut hadir untuk menyampaikan penghormatan kepada pemimpin yang syahid tersebut.
Delegasi para ulama Palestina juga datang ke Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan kepada Sayyid Ali Khamenei, yang hingga akhir hayatnya dikenal sebagai pendukung teguh perjuangan Palestina.
Delegasi besar yang terdiri atas anggota parlemen Irak, para ulama, pemimpin suku, dan pejabat partai politik juga hadir memberikan penghormatan.
Delegasi Afghanistan turut datang untuk menyampaikan belasungkawa dan penghormatan kepada pemimpin Iran yang syahid.
Selain itu, delegasi yang terdiri atas para pemimpin Hindu bersama ulama Syiah dari Jerman dan Thailand juga menghadiri upacara pemakaman kenegaraan tersebut.
Koordinasi Besar-Besaran Antarlembaga
Upacara publik pertama dijadwalkan berlangsung pukul 06.00 waktu setempat pada Sabtu di Musala Imam Khomeini, Teheran. Peti jenazah akan ditempatkan di atas panggung yang ditinggikan agar masyarakat dapat memberikan penghormatan terakhir.
Persiapan mencakup pengelolaan massa secara besar-besaran, termasuk pemasangan lebih dari 6.000 penyemprot air di atas jalur prosesi untuk mengurangi dampak cuaca panas yang diperkirakan akan terjadi.
Pemerintah juga menerapkan berbagai langkah logistik secara nasional, termasuk penutupan sementara bandara-bandara di Teheran serta penetapan hari libur di sejumlah kota yang dilalui prosesi pemakaman.
Di ibu kota sendiri akan diberlakukan pembatasan lalu lintas secara signifikan. Kendaraan pribadi dilarang memasuki sejumlah kawasan utama, sementara lebih dari 700 lokasi parkir disiapkan untuk mengelola pergerakan jutaan pelayat.
Partisipasi Massal dan Dukungan Logistik
Laporan yang dikutip CNN menyebutkan bahwa persiapan dilakukan secara besar-besaran guna mendukung partisipasi masyarakat.
Pasukan sukarelawan Basij dilaporkan mengoordinasikan produksi sekitar 50 juta potong roti bagi para pelayat, dengan dukungan 16 toko roti keliling yang beroperasi di Teheran.
Layanan darurat dan sipil juga dikerahkan dalam skala luas. Sebanyak 2.500 ambulans, 21 helikopter, 100 pesawat nirawak (drone), serta ribuan personel penyelamat disiagakan.
Rumah sakit, pasokan medis, dan puluhan ribu ruang kelas juga dipersiapkan untuk mengakomodasi jutaan pelayat yang diperkirakan akan hadir di berbagai kota.
Pemerintah turut mengimbau warga agar menerima para pelayat dari luar daerah di rumah mereka, khususnya di Teheran, Mashhad, dan Qom. Masjid, gedung olahraga, taman kota, serta pusat-pusat kebudayaan juga difungsikan sebagai tempat penampungan sementara.
Dampak Lintas Negara
Sebagian jalur prosesi pemakaman akan berlanjut ke Irak, termasuk ke Najaf dan Karbala, dua kota yang memiliki kedudukan sangat penting dalam Islam.
Para pejabat Iran menyatakan bahwa dimensi lintas batas ini mencerminkan pengaruh keagamaan dan sosial Sayyid Ali Khamenei yang melampaui wilayah Iran, terutama di kalangan masyarakat tertindas di kawasan.
Prosesi yang melintasi perbatasan juga dipandang sebagai bagian dari hubungan historis dan religius yang menghubungkan Iran dengan Irak, Pakistan, Bahrain, dan komunitas Syiah lainnya.
Sina Toossi mengatakan kepada CNN: “Pengikut keagamaannya meluas hingga Irak, Pakistan, Bahrain, dan komunitas-komunitas Syiah lainnya. Karena itu, prosesi yang direncanakan di Najaf dan Karbala menjadi sangat penting.”
Ia menambahkan bahwa hal tersebut menunjukkan dimensi transnasional dari duka cita dan keterikatan para pengikutnya.
Menampilkan Kekuatan
Para pejabat Iran menggambarkan prosesi pemakaman ini sebagai momen nasional untuk mengenang pemimpin mereka sekaligus menegaskan keberlanjutan politik negara.
Wakil Presiden Iran menyebut pemakaman tersebut sebagai salah satu peristiwa paling penting abad ini, sementara Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa pemerintah menargetkan penyelenggaraan “upacara perpisahan” terbesar dalam sejarah Iran.
Ali Akbar Pourjamshidian, komandan Garda Revolusi yang memimpin panitia penyelenggara, mengatakan bahwa upacara tersebut dimaksudkan untuk menampilkan “kekuatan Republik Islam kepada masyarakat internasional”, sekaligus menunjukkan persatuan domestik dan menyampaikan pesan kepada dunia luar.
Para pejabat memperkirakan jumlah peserta mencapai antara 4 juta hingga 15 juta orang, yang akan menjadikannya salah satu prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah modern Iran.
CNN juga melaporkan bahwa ribuan jurnalis telah memperoleh akreditasi untuk meliput seluruh rangkaian acara.
Para pejabat militer Iran memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba mengganggu masa berkabung tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap ancaman yang ditujukan kepada kepemimpinan negaranya setelah adanya pernyataan-pernyataan terbaru dari pejabat Israel. (*)
Sumber: Al Mayadeen












