BERITAALTERNATIF.COM – Salah satu sesi pembuka bertajuk Dunia yang Sedang Berubah di Asia Barat dan Hubungan Trans-Atlantik diadakan pada 6 Oktober di Universitas Allameh Tabataba’i. Para pembicara, Dr. Asghar Keyvan Hosseini dan Dr. Hamid Hakim, menyoroti tanda-tanda kemunduran posisi hegemonik Amerika Serikat di kawasan Barat Asia serta keretakan hubungan strategis dengan Eropa.
Hosseini menilai bahwa krisis Ukraina dan warisan kebijakan Trump menjebak Eropa dalam “perangkap ketergantungan” terhadap Washington, sementara Dr. Hakim menegaskan bahwa pengaruh Amerika di bidang militer, ekonomi, dan diplomasi di kawasan ini telah menurun signifikan.
Dalam kesimpulannya, Dr. Alireza Kouhkan menyebut bahwa perubahan tatanan dunia telah dimulai dan Iran harus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya di antara kekuatan-kekuatan baru yang tengah muncul.
Topik lain dibahas dalam forum Hegemoni Paksaan dan Kemunduran Amerika yang digelar di Universitas Ayatollah Boroujerdi pada 8 Oktober. Diskusi tersebut memfokuskan diri pada konsep coercive hegemony—bentuk kekuasaan global yang bergantung pada pemaksaan melalui militer, sanksi ekonomi, dan intervensi politik.
Dr. Rashid Rekabian menjelaskan bahwa sejak 1990-an, Amerika semakin mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi untuk mempertahankan dominasinya. Ia menyinggung fakta bahwa sejak 1946, AS terlibat dalam 70 kudeta di seluruh dunia yang menewaskan lebih dari 120 juta orang.
Menurutnya, “kemunduran Amerika” bukan berarti hilangnya AS dari panggung global, tetapi penurunan bertahap pengaruhnya akibat munculnya kekuatan-kekuatan baru seperti China.
Rekabian memaparkan data yang menunjukkan penurunan tajam pangsa ekonomi AS, meningkatnya utang hingga 34 triliun dolar, serta melemahnya daya tarik politik dan budaya negara itu di dunia.
Ia juga mengutip pandangan Francis Fukuyama tentang “keruntuhan politik internal” akibat polarisasi dan krisis sistem dua partai di AS.
Sementara itu, Dr. Mehdi Mohammadi Nejad membedakan antara sistem hegemonik dan sistem unipolar.
Dia menilai bahwa “hegemoni berbasis persetujuan” yang pernah dijalankan Amerika telah bergeser menjadi “hegemoni berbasis paksaan.” Perubahan ini, menurutnya, disebabkan oleh ketidakmampuan AS menyediakan public goods seperti stabilitas ekonomi global dan keamanan kolektif bagi sekutu-sekutunya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan defisit anggaran AS dan beban tanggung jawab global yang semakin berat membuat Washington kini menuntut sekutunya—seperti negara-negara NATO—untuk menanggung biaya keamanan lebih besar.
Selain itu, ketergantungan sistem ekonomi dunia pada dolar menjadi bentuk lain dari dominasi struktural AS. Ancaman terhadap dolar, kata Mohammadi Nejad, dipandang Washington sebagai ancaman langsung terhadap kekuasaannya.
Forum lain yang menarik perhatian adalah Dunia Pasca-Amerika: Ruang Siber dan Kecerdasan Buatan. Diskusi yang diadakan di Universitas Sooreh pada 5 Oktober itu menyoroti pergeseran kekuatan teknologi global dari Barat ke Timur.
Para akademisi seperti Prof. Omid Ali Masoudi dan Dr. Yousef Khajir menjelaskan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Asia, khususnya di China, menjadi faktor utama yang menantang dominasi teknologi Amerika.
China disebut berhasil mengembangkan model AI nasional yang kini digunakan oleh 83 persen populasi dunia melalui berbagai aplikasi dan infrastruktur digital. Strategi Beijing yang berfokus pada kerja sama universitas, industri, dan pemerintah dinilai telah mengubah tekanan sanksi Amerika menjadi peluang untuk swasembada teknologi.
Masoudi juga menyoroti bahaya yang ditimbulkan AI terhadap kebebasan berpikir manusia. Ia memperingatkan bahwa sistem kapitalisme Barat menggunakan AI untuk mengontrol data dan perilaku sosial, namun menegaskan bahwa teknologi ini tak akan mampu menghapus sepenuhnya unsur spiritual dan kesadaran manusia.
“Kecerdasan buatan mungkin menciptakan dunia tanpa berpikir, tetapi tidak akan pernah menghapus kemampuan manusia untuk berpikir dan merasa,” ujarnya.
Sementara itu, dalam forum bertajuk Ekonomi Amerika di Jalur Naik atau Turun? yang diadakan di Universitas Ilmu Islam Razavi Mashhad pada 7 Oktober, para ekonom menyoroti tanda-tanda kemunduran ekonomi Amerika dibandingkan China.
Dr. Mohammad Sadeq Adibian menegaskan bahwa meskipun AS masih memegang posisi pertama dalam PDB global, jarak ekonominya dengan China semakin menyempit drastis.
Ia menunjukkan bahwa perekonomian China tumbuh lebih stabil dalam dua dekade terakhir, sementara ekonomi Amerika menjadi semakin bergantung pada sektor jasa dan rentan terhadap krisis keuangan.
Dr. Behzad Babazadeh menambahkan bahwa kebijakan proteksionis era Trump memang memberi efek jangka pendek, namun melemahkan daya saing AS dalam jangka panjang.
Keduanya sepakat bahwa kemunduran Amerika tidak berarti kehancuran total, melainkan penurunan relatif dalam pengaruh global akibat munculnya sistem ekonomi multipolar.
Diskusi berikutnya di Universitas Ferdowsi Mashhad pada 11 Oktober, dengan tema Transformasi Tatanan Internasional dari Perspektif Realisme dan Geopolitik, membahas dampak kebijakan luar negeri AS terhadap struktur kekuasaan global.
Para pakar seperti Dr. Sayyid Morteza Noei Baghban dan Dr. Majid Dashtgard menyimpulkan bahwa era dominasi tunggal Amerika telah berakhir. Kebijakan Donald Trump dinilai mempercepat keretakan antara AS dan sekutu-sekutunya, terutama di Eropa.
Mereka menilai bahwa dunia kini tengah bergerak menuju tatanan multipolar yang ditandai oleh bangkitnya kekuatan baru seperti China, Rusia, dan India. Dalam konteks Asia Barat, Iran dinilai memiliki posisi strategis karena letaknya di jalur penting perdagangan global dan peran geopolitiknya yang meningkat dalam dinamika kawasan.
Forum terakhir, bertema Kemunduran Amerika: Realitas dalam Tatanan Dunia Baru, diselenggarakan oleh House of Humanities Thinkers pada hari yang sama. Diskusi tersebut menyoroti berakhirnya era pasca-Perang Dingin dan munculnya kompetisi multilevel antara kekuatan besar dunia.
Dr. Keyhan Barzegar dari Universitas Azad dan Dr. Sayyid Hashem Mirlouhi menekankan bahwa meski Amerika masih memiliki kekuatan militer dan ekonomi besar, pengaruhnya kini berkurang secara bertahap di tengah meningkatnya peran kekuatan non-Barat.
Mereka menyebut bahwa negara-negara seperti China, Rusia, Iran, Turki, India, dan Brasil kini tampil sebagai “negara peradaban” yang menantang struktur lama yang berpusat pada Barat.
Dalam kesimpulan, para pakar menyatakan bahwa dunia sedang berada di masa transisi menuju sistem multipolar. Era dominasi Amerika telah berakhir, digantikan oleh tatanan global baru yang ditandai oleh kompetisi teknologi, ekonomi, dan militer di antara kekuatan besar dunia. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












