BERITAALTERNATIF.COM – Tokoh terkemuka Front Populer untuk Pembebasan Palestina Dr. Maryam Abu Daqa menegaskan bahwa serangan terhadap pemimpin perlawanan di luar negeri bertujuan memperpanjang agresi.
Abu Daqa menambahkan bahwa perpecahan mendalam di tubuh entitas pendudukan membuktikan betapa sia-sianya kelanjutan perang.
Kita tinggal menghitung hari menuju peringatan tiga tahun agresi berkelanjutan terhadap Jalur Gaza, dan Netanyahu masih menolak menghentikan perang genosida itu.
Ia tetap berpegang pada kelanjutan perang hingga tercapai tujuan yang diumumkan maupun yang tersembunyi, dengan dukungan jelas dari Amerika Serikat yang secara terbuka menutupi seluruh serangan dan kejahatannya, dengan kelicikan yang disebut Abu Daqa sebagai ciri khas Washington.
Ia mengingatkan bagaimana hal yang sama dilakukan AS terhadap Republik Islam Iran ketika delegasi Iran bersiap untuk putaran baru perundingan di Oman. Dua hari sebelumnya, Israel bahkan melancarkan serangan ke Iran dengan koordinasi bersama pemerintah AS.
Di sisi lain, Qatar mengecam serangan Israel yang menargetkan kompleks perumahan sejumlah anggota biro politik Hamas. Abu Daqa menegaskan bahwa entitas pendudukan ini sudah melewati semua garis merah dan tidak bisa dihadapi hanya dengan kecaman.
Tentang operasi terakhir di Yerusalem yang terjadi di halte bus dekat permukiman Ramot, ia menilai peristiwa itu menunjukkan betapa para pemuda Palestina tetap berakar pada tanah, pada perjuangan, dan pada keyakinan mereka bahwa Israel hanya memahami bahasa kekuatan.
Wawancara Bersama Abu Daqa
Kita kini berada di ambang tahun ketiga agresi terhadap rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Namun serangan Israel kali ini mengumumkan target baru: para pemimpin perlawanan di luar negeri, tanpa memedulikan kedaulatan negara tempat mereka berada. Bagaimana Anda menilai serangan ke Qatar dan upaya pembunuhan terhadap pemimpin Hamas di sana? Apakah ini berarti menutup setiap peluang untuk menghentikan perang di Gaza?
“Benar, kita sudah memasuki tahun ketiga perang genosida di Gaza. Pendudukan menggunakan semua bentuk pembunuhan: pengeboman, penghancuran, kelaparan. Jika rakyat tidak mati karena bom, mereka mati karena penyakit, lapar, haus, atau penindasan. Meski begitu, rakyat Gaza tetap berdiri teguh. Mereka menghadapi kebiadaban Israel yang menargetkan anak-anak, perempuan, dan warga sipil, karena Israel tidak mampu menghadapi para pejuang. Hasilnya hanya kehancuran rumah, menara, rumah sakit, sumber air, dan pengepungan total, termasuk serangan ke lembaga kemanusiaan, dokter, paramedis, universitas, gereja, hingga tenda pengungsi.
Setelah itu, Israel beralih menargetkan pemimpin perlawanan di luar negeri. Hal ini terjadi setelah konflik antara level militer dan politik, yang sebenarnya menegaskan betapa sia-sianya melanjutkan perang. Serangan ini jelas bertujuan memperpanjang perang sekaligus menghancurkan setiap peluang penyelesaian melalui perundingan. Netanyahu sendiri butuh waktu lebih lama agar tetap bertahan di posisinya, mencoba mencatat pencapaian—meski pada akhirnya gagal, termasuk dalam operasi di Qatar.”
Serangan itu menimbulkan kekhawatiran besar di negara-negara Teluk dan sekutu AS, sebagaimana disampaikan Perdana Menteri Qatar. Apa pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini, dan bagaimana dengan klaim perlindungan Amerika terhadap negara Teluk?
“Pelajaran pertama: tidak ada keamanan dengan entitas Zionis, tidak bisa dijadikan teman atau dipercaya. Pemimpin perlawanan harus selalu berhati-hati, merahasiakan pergerakan dan tempat tinggal. Bagi Israel, tidak ada larangan, tidak ada garis merah.
Serangan itu jelas menimbulkan kekhawatiran di seluruh kawasan, terutama negara Teluk. Qatar menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar, memiliki hubungan khusus dengan Washington, serta berperan sebagai mediator penting bersama Mesir dan AS dalam perundingan Hamas–Israel. Meski begitu, serangan tetap terjadi. Ini menunjukkan hilangnya kepercayaan terhadap Amerika, dan bahwa perjanjian Abraham tidak melindungi siapa pun. Pangkalan AS hanya menjaga kepentingan Washington, bukan membela negara Arab.
Selain itu, pernyataan perdana menteri Israel tentang pembentukan ‘Timur Tengah Baru’ dengan menyebut Yordania, Palestina, Suriah, Lebanon, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan sebagian Mesir adalah ancaman serius. Itu seharusnya membuat negara Teluk dan seluruh kawasan merasa waspada.”
Banyak pihak membicarakan soal gelombang kekerasan terbaru di Gaza dengan perintah pengosongan wilayah. Apakah tentara benar-benar mengikuti arahan Netanyahu, meski ada keraguan dari kalangan militer sendiri? Apa tujuan sebenarnya dari putaran baru agresi ini?
“Apakah kelanjutan perang ini untuk mewujudkan ‘Israel Raya’? Ya, itu tujuannya. Semua yang mereka lakukan di Tepi Barat—aneksasi, penghancuran, tekanan atas Otoritas Palestina, dan genosida di Gaza—termasuk upaya menghapus UNRWA, jelas bermaksud menghapus hak kembali pengungsi.
Serangan mereka ke Suriah, Lebanon, Yaman, bahkan Qatar, hanyalah cara untuk menunjukkan bahwa mereka bebas bertindak tanpa ada yang mencegah, karena didukung penuh AS dan Eropa. Netanyahu tidak kuat sendiri; ia hanya bertindak dengan dukungan Amerika. Israel selalu berada di luar hukum internasional karena dilindungi veto AS dan standar ganda dunia. Inilah sebabnya mereka terus melewati semua garis merah.”
Beberapa hari terakhir kita menyaksikan kembalinya operasi perlawanan individu yang dilakukan pemuda Palestina. Operasi terakhir berhasil besar dan mempermalukan Israel. Apa makna dan pelajaran dari semangat ini?
“Benar, militer Israel sebenarnya ingin menghentikan perang, tapi tunduk pada keputusan politik Netanyahu. Ada banyak suara yang menilai perang ini tidak ada gunanya, tapi Netanyahu butuh waktu dan pencapaian. Akibatnya, rakyat Gaza menghadapi kelaparan besar—pertama kali dalam sejarah Timur Tengah.
Israel berusaha mengosongkan Gaza demi proyek-proyek strategis: membangun Kanal Ben Gurion yang bisa menyaingi Terusan Suez, serta menguasai gas di Gaza, Mesir, Lebanon, dan Suriah untuk diekspor ke Barat. Bahkan Amerika terang-terangan menyebut semua ini bagian dari kepentingan nasionalnya.
Proyek ‘Timur Tengah Baru’ itu dimulai dari Gaza. Jika Gaza jatuh, terbentuklah Israel Raya. Karena itu, rakyat Gaza memilih bertahan di rumah mereka meski ancaman kematian selalu ada.” (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












