Search

Negosiasi antara Amerika dan Iran

Penulis. (Perspektif Muhsin Labib)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Dua kali dikhianati sudah cukup sebagai catatan sejarah yang tidak terbantahkan. Iran telah dua kali meletakkan kepercayaannya di atas meja perundingan—dan dua kali mendapati meja itu dibalik. Pertama, ketika kesepakatan nuklir 2015 dirobek sepihak oleh Washington pada 2018, bukan karena Iran melanggar, melainkan karena pemerintahan baru Amerika membutuhkan musuh. Kedua, ketika janji-janji normalisasi ekonomi pasca-kesepakatan tak pernah benar-benar tiba—sanksi tetap mencekik, investasi asing tetap enggan, dan dunia membuktikan bahwa berhadapan dengan Amerika berarti berhadapan dengan variabel yang tak pernah stabil. Pengkhianatan bukan anomali dalam hubungan ini. Pengkhianatan adalah polanya.

Di atas pengkhianatan itu, Amerika dan Israel menambahkan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan di meja perundingan manapun: darah. Qasem Soleimani dibunuh di Baghdad dengan rudal Amerika—seorang panglima yang bagi Iran bukan sekadar perwira, melainkan simbol perlawanan hidup yang berjalan di atas bumi. Mohsen Fakhrizadeh, arsitek program pertahanan Iran, dieksekusi dengan teknologi pembunuhan jarak jauh yang melampaui batas kedaulatan seperti kedaulatan adalah konsep yang hanya berlaku bagi yang kuat. Ismail Haniyeh dijatuhkan di Teheran sendiri—di jantung negara yang seharusnya menjadi tanah yang tidak terjangkau. Dan kemudian, 28 Februari 2026, rudal Tomahawk menghantam Sekolah Dasar Perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab—bukan pangkalan militer, bukan instalasi strategis, melainkan ruang kelas yang sedang penuh dengan anak-anak perempuan berusia tujuh hingga dua belas tahun yang sedang belajar. Seratus enam puluh delapan jiwa padam di bawah beton yang runtuh. Setiap pembunuhan adalah pesan, dan pesan Minab adalah yang paling telanjang: tidak ada yang benar-benar tidak terjangkau, tidak ada yang benar-benar dilindungi, tidak ada batas yang tidak bisa dilanggar oleh mereka yang merasa berhak.

Dari akumulasi itulah bersedia berunding kini bermakna berbeda dari sekadar kompromi diplomatik. Ia adalah deklarasi kehinaan. Duduk semeja dengan pihak yang telah membunuh panglimamu, mengeksekusi ilmuwanmu, menjatuhkan tamumu di tanahmu sendiri, dan menghancurkan sekolah anak-anak perempuanmu—tanpa pertanggungjawaban, tanpa penyesalan, dengan penyelidikan yang diumumkan sebagai prosedur bukan sebagai pengakuan—bukan pragmatisme. Ia adalah pengakuan bahwa semua yang telah dikorbankan tidak bernilai cukup untuk dipertahankan. Dan ini bukan soal Iran semata. Siapa pun yang bermartabat, bangsa mana pun yang masih mengenal harga dirinya sendiri, akan mengambil sikap yang sama. Martabat bukan kemewahan ideologis—ia adalah prasyarat dari setiap kesepakatan yang bermakna. Tanpanya, yang tersisa hanyalah penyerahan yang diberi nama lain.

Ketegasan itu ditopang oleh fakta yang tidak bisa diabaikan: Iran bukan negara yang sedang menghitung dari posisi lemah. Dikeroyok oleh dua kekuatan yang mengklaim dominasi atas dunia dan kawasan sekaligus—Amerika dengan jangkauan globalnya, Israel dengan keberanian aktornya yang tidak mengenal batas—Iran tidak hancur. Ia bertahan. Lebih dari bertahan: ia membalas. Rudal-rudal yang menembus sistem pertahanan tercanggih di kawasan, drone-drone yang menjangkau sasaran melampaui kalkulasi musuh, jaringan ketahanan yang tetap berfungsi meski ditekan dari segala penjuru—semua itu bukan keberuntungan. Semua itu adalah bukti bahwa kalkulasi Iran lahir dari kesadaran akan kekuatan sendiri, bukan dari keputusasaan yang menyamar sebagai keberanian.

Dari posisi itulah Iran kemudian mengucapkan sesuatu yang mengejutkan dunia—bukan karena keras, melainkan karena jernihnya. Tidak ada lagi negosiasi. Tidak ada lagi meja, tidak ada lagi putaran, tidak ada lagi formula diplomatik yang diulang dengan wajah berbeda. Pesannya tunggal dan tidak memerlukan penerjemah: penuhi tuntutan-tuntutan yang diajukan, dan perang berakhir dengan sendirinya. Sesederhana itu.

Sesederhana itulah yang selama ini gagal dipahami oleh pihak yang terbiasa mengira bahwa tekanan cukup untuk memaksa lawan bicara membuang syarat-syaratnya. Iran tidak membuang syaratnya. Iran hanya berhenti berpura-pura bahwa proses yang telah dua kali mengkhianatinya—dan satu kali membantai siswi-siswinya di ruang kelas—masih layak dijalani untuk ketiga kalinya.

Yang tersisa bagi Washington dan Tel Aviv bukan pilihan antara perang dan damai, melainkan pilihan antara memenuhi atau tidak memenuhi. Perang bukan ancaman yang digantungkan Iran untuk menekan. Perang adalah kondisi yang sedang berlangsung, yang akan berhenti bukan karena kesepakatan dicapai di antara para diplomat, melainkan karena satu pihak akhirnya memutuskan bahwa harga dari penolakan lebih besar dari harga pemenuhan.

Sejarah telah mengajarkan Iran bahwa kesepakatan tanpa arsitektur kepercayaan yang kokoh hanyalah penundaan kekalahan dengan wajah yang lebih sopan. Kali ini Iran tidak menawarkan wajah yang sopan. Ia menawarkan fakta—dan fakta itu dimulai dari reruntuhan sebuah sekolah di Minab, di mana seratus enam puluh delapan anak perempuan tidak sempat menyelesaikan pelajaran hari itu. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA