BERITAALTERNATIF – Kini, beberapa hari setelah Natal (25 Desember) berlalu dan hanya tersisa waktu singkat hingga Kamis pekan ini, yakni 1 Januari, untuk memasuki tahun 2026 Masehi, tanda-tanda tekanan ekonomi di masyarakat Barat semakin terlihat jelas. Kembalinya aktivitas harian secara cepat setelah libur panjang, bagi banyak keluarga, berarti kembali berhadapan dengan biaya yang menumpuk, utang jangka pendek, serta ketidakpastian mengenai masa depan penghidupan; kondisi yang membuat akhir tahun tidak lagi terasa sebagai masa ketenangan dan harapan.
Jarak singkat antara berakhirnya perayaan-perayaan keagamaan dan dimulainya tahun baru, alih-alih menjadi simbol pemulihan semangat, justru berubah menjadi momen terbukanya tekanan struktural ekonomi. Berlanjutnya inflasi, melemahnya daya beli, serta rapuhnya pasar tenaga kerja membuat transisi dari Natal ke tahun baru, bagi sebagian besar warga Barat, bukanlah langkah menuju masa depan yang cerah, melainkan memasuki periode penuh keraguan dan kehati-hatian ekonomi.
Natal di Amerika di Bawah Bayang-Bayang Inflasi, Pengangguran, dan Kebijakan Tarif Trump
Amerika Serikat, yang kerap menyebut dirinya sebagai ekonomi terbesar dunia, tahun ini menjalani Natal yang berbeda. Berdasarkan laporan terbaru Conference Board, indeks kepercayaan konsumen di Amerika pada Desember 2025 turun 3,8 poin menjadi 89,1 poin, sementara pada November masih berada di angka 92,9 poin. Penurunan ini membawa indeks ke level terendah sejak April, mendekati periode ketika Donald Trump memberlakukan tarif impor luas terhadap mitra dagang Amerika.
Di sisi lain, indeks ekspektasi jangka pendek warga Amerika terkait pendapatan, kondisi bisnis, dan pasar kerja bertahan di level 70,7 poin; angka yang selama sebelas bulan berturut-turut berada di bawah 80 poin dan oleh para analis dianggap sebagai sinyal potensi resesi.
Kekhawatiran utama warga Amerika tetap pada inflasi dan kenaikan harga. Meskipun inflasi pada November turun menjadi 2,7 persen, indeks harga konsumen dalam enam tahun terakhir telah meningkat sekitar 26 persen. Artinya, kenaikan harga terjadi dua kali lebih cepat dibandingkan laju ideal yang ditargetkan Federal Reserve.
Kondisi pasar tenaga kerja juga memicu kekhawatiran. Pemerintah Trump mengumumkan bahwa ekonomi Amerika pada November hanya menciptakan sekitar 64 ribu lapangan kerja, sementara pada Oktober justru kehilangan 105 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran pada November naik menjadi 4,6 persen, tertinggi sejak 2021.
Sejak Maret, rata-rata penciptaan lapangan kerja turun menjadi 35 ribu per bulan, padahal dalam 12 bulan hingga Maret sebelumnya angka ini mencapai 71 ribu. Pasar kerja Amerika kini terjebak dalam situasi “perekrutan rendah, pemutusan kerja rendah”, karena pelaku usaha bersikap sangat hati-hati akibat ketidakpastian yang dipicu tarif Trump dan dampak berkepanjangan suku bunga tinggi.
Kebijakan tarif perdagangan Trump juga menjadi salah satu faktor utama tekanan ekonomi keluarga. Tarif 19 persen terhadap Malaysia serta tarif lebih berat terhadap negara-negara Asia Tenggara menyebabkan kenaikan harga hadiah Natal dan barang konsumsi. Produsen mainan dan barang konsumsi terpaksa mengalokasikan banyak waktu dan biaya untuk menyesuaikan bisnis mereka dengan tarif baru, yang tidak hanya meningkatkan biaya produksi dan pengiriman, tetapi juga memicu keterlambatan pasokan barang.
Survei lembaga Politico menunjukkan 65 persen keluarga Amerika menyatakan biaya hidup dalam setahun terakhir menjadi lebih buruk atau jauh lebih buruk. Penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini turun 9,5 poin menjadi 116,8 poin. Survei Desember juga mencatat bahwa pandangan masyarakat terhadap kondisi keuangan keluarga mereka, untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun, jatuh ke wilayah negatif.
Data-data ini menegaskan satu kenyataan bahwa Natal dan awal tahun baru kali ini, bagi jutaan warga Amerika, bukanlah perayaan kemakmuran, melainkan pengingat akan keterbatasan ekonomi dan kekhawatiran terhadap masa depan.
Musim Dingin Berat di Eropa; Inflasi Tinggi, Utang Membengkak, dan Pertumbuhan Nol
Di seberang Atlantik, kondisi ekonomi di Eropa tidak jauh berbeda dengan Amerika. Tekanan ekonomi di berbagai negara Eropa muncul secara bersamaan.
Di Inggris, survei terbaru lembaga YouGov untuk badan amal StepChange menunjukkan lebih dari seperempat orang dewasa, sekitar 14,3 juta orang, mengaku kesulitan memenuhi biaya Natal tahun ini. Angka ini meningkat menjadi hampir sepertiga di kalangan orang tua yang memiliki anak. Lebih mengkhawatirkan, sekitar satu dari dua belas orang terpaksa menggunakan pinjaman atau kartu kredit untuk menutup biaya Natal, dan dari jumlah tersebut, hampir seperlima memperkirakan pelunasan utang akan memakan waktu lebih dari satu tahun.
Data Bank Sentral Inggris memperkuat gambaran tersebut. Pada Oktober saja, sekitar 0,6 miliar pound sterling ditambahkan ke pinjaman bersih rumah tangga melalui kartu kredit. Menurut UK Finance, saldo utang kartu kredit dalam setahun terakhir meningkat, dengan hampir separuhnya terdiri dari bunga. Di saat yang sama, antrean panjang di bank makanan menjadi pemandangan yang semakin umum.
Badan amal Trussell memperingatkan bahwa pada musim dingin mendatang, rata-rata satu paket makanan darurat akan dibagikan setiap 10 detik. Lembaga ini mencatat bahwa pada musim dingin sebelumnya, antara Desember hingga Februari, sekitar 740 ribu paket makanan dibagikan, lebih dari 266 ribu di antaranya untuk anak-anak.
Inflasi tetap menjadi faktor utama tekanan ekonomi di Inggris. Inflasi tahunan pada November 2025 mencapai 3,2 persen. Meski menjadi level terendah dalam delapan bulan terakhir, angka ini masih jauh di atas target 2 persen Bank of England. Inflasi sektor jasa yang mencapai 4,4 persen dipandang pembuat kebijakan sebagai tanda bahwa tekanan harga masih akan bertahan.
Tekanan ini juga menjalar ke pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Tingkat pengangguran Inggris pada periode Agustus hingga Oktober 2025 naik menjadi 5,1 persen, tertinggi sejak 2021, dengan jumlah pengangguran mencapai sekitar 1,8 juta orang. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Inggris pada kuartal hingga Oktober turun 0,1 persen, menjadi penurunan pertama sejak Desember 2023.
Di tingkat Uni Eropa, data Eurostat menunjukkan sekitar 21 persen penduduk berada dalam risiko kemiskinan atau keterpinggiran sosial. Bulgaria, Rumania, dan Yunani mencatat tingkat kemiskinan tertinggi. Di Prancis, tingkat kemiskinan pada 2023 mencapai 15,4 persen, mendekati level tertinggi sejak 1990-an. Bahkan di Jerman, motor ekonomi Eropa, tingkat kemiskinan mencapai 21,1 persen, sedikit di atas rata-rata Uni Eropa.
Akar Masalah dan Prospek; Mengapa Barat Terpuruk
Krisis ini berakar pada masalah struktural dan kebijakan ekonomi bertahun-tahun. Inflasi yang melonjak sejak pandemi COVID-19 belum sepenuhnya terkendali. Di Amerika, inflasi mencapai puncak 9,1 persen pada Oktober 2022, sementara di Inggris menyentuh 11,1 persen. Meski laju inflasi melambat, harga absolut tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi.
Perang Ukraina turut memperparah tekanan ekonomi. Amerika dan negara-negara Eropa telah mengucurkan ratusan miliar dolar bantuan keuangan dan militer, yang memperlebar defisit anggaran dan memaksa pengurangan belanja sosial. Dampaknya terhadap pasar energi, khususnya di Eropa, mendorong kenaikan harga listrik dan gas secara berkelanjutan.
Perang Gaza serta dukungan luas Barat terhadap rezim Zionis juga menambah beban ekonomi melalui peningkatan belanja militer dan ketidakpastian geopolitik. Gangguan jalur perdagangan, terutama di Laut Merah dan Mediterania Timur, menaikkan biaya transportasi dan asuransi, dengan dampak inflasi yang merembes ke ekonomi domestik.
Kebijakan tarif Donald Trump memperparah situasi. Tarif terhadap impor dari China, Malaysia, Vietnam, dan negara Asia Tenggara lainnya meningkatkan biaya barang dan mengganggu rantai pasok, sekaligus memperbesar ketidakpastian ekonomi.
Dalam kondisi ini, meskipun pemerintah-pemerintah Barat terus menyampaikan pesan optimisme, realitas kehidupan sehari-hari jutaan keluarga menceritakan kisah berbeda. Natal dan tahun baru Masehi 2026 bagi banyak orang di Barat tidak lagi menjadi simbol harapan, melainkan cermin jurang yang semakin lebar antara janji politik dan kenyataan hidup. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












