BERITAALTERNATIF – Abdel Bari Atwan, analis strategi kawasan, dalam sebuah artikel di harian Rai al-Youm membahas berbagai dimensi serangan terhadap komunitas Yahudi di kota Sydney, Australia. Ia menulis bahwa serangan berdarah yang terjadi di lokasi perayaan keagamaan Yahudi Hanukkah, yang dihadiri lebih dari dua ribu orang dan mengakibatkan 12 orang tewas serta sejumlah lainnya terluka, kemungkinan merupakan tindakan yang direncanakan oleh rezim Zionis. Tujuannya adalah mendorong strategi baru untuk memperkuat citra “korban” bagi rezim tersebut dan menghidupkan kembali wacana “perlawanan terhadap antisemitisme” di dunia, sebuah narasi yang menurutnya telah runtuh sepenuhnya akibat genosida di Jalur Gaza.
Ia menambahkan bahwa musuh terbesar bagi tren antisemitisme justru adalah gerakan Zionisme itu sendiri, dengan Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim Zionis, sebagai simbol paling menonjol. Atwan menegaskan bahwa tangan Netanyahu berlumuran darah lebih dari 70 ribu warga sipil Palestina, termasuk sekitar 40 ribu anak-anak. Selain itu, sekitar dua setengah juta warga Palestina telah dipaksa mengungsi setelah lebih dari 95 persen rumah mereka dihancurkan, sementara banyak di antara mereka dibiarkan kelaparan hingga mendekati kematian akibat pemutusan bantuan, dan pusat-pusat distribusi makanan diubah menjadi lokasi jebakan untuk mengeksekusi mereka.
Netanyahu, menurut Atwan, semakin menyingkap peran mencurigakan yang mungkin dimilikinya dalam serangan ini ketika ia menuduh pemerintah Australia dan perdana menterinya telah memicu antisemitisme, mendorong pengakuan negara Palestina, serta mendukung solusi dua negara, dan menyalahkan mereka atas terjadinya serangan tersebut. Atwan mengingatkan bahwa Netanyahu seolah lupa bahwa tentaranya telah membunuh lebih dari 500 pasien, korban luka, dokter, perawat, serta bayi prematur di Rumah Sakit Al-Maamadani di Jalur Gaza dalam waktu kurang dari lima menit. Ia juga menyinggung pembunuhan ribuan warga Lebanon dalam hitungan menit, baik melalui kejahatan ledakan pager maupun serangan terhadap Dahiyeh Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan Lebanon.
Atwan menekankan bahwa dalam dekade-dekade sebelumnya, gerakan Zionis juga pernah bekerja sama dengan Nazisme dalam pembantaian orang-orang Yahudi, serta melakukan pengeboman bioskop dan kawasan permukiman Yahudi di Mesir dan Irak untuk menebar ketakutan dan memaksa mereka bermigrasi ke Palestina yang diduduki. Karena itu, menurutnya, tidak mengherankan jika ada kemungkinan keterlibatan mereka dalam serangan terhadap perayaan Yahudi di Sydney atau di ibu kota Barat lainnya, dengan tujuan menuduh umat Islam.
Ia melanjutkan bahwa pukulan paling mematikan terhadap proyek rasis Zionis justru datang dari para pemimpin rezim Zionis saat ini. Mayoritas dunia, menurutnya, telah terbebas dari propaganda dan kebohongan Zionis, serta bangkit mendukung para korban pembantaian dan genosida di Jalur Gaza. Bahkan, jutaan penganut agama Yahudi di berbagai negara secara terbuka menyatakan kebencian mereka terhadap proyek Zionis dan kejahatan-kejahatannya, serta menegaskan bahwa proyek tersebut telah berubah menjadi ancaman eksistensial bagi mereka dan membahayakan hidup berdampingan secara damai dan aman di masyarakat tempat mereka tinggal.
Majalah Foreign Affairs dalam sebuah artikel panjang tentang “Israel Baru” yang diterbitkan sekitar sebulan lalu, menyoroti sejumlah fakta penting. Di antaranya adalah upaya gerakan Zionis untuk keluar dari krisis terdalam dan paling berbahaya dalam sejarahnya, yakni dengan memperbaiki kerusakan besar akibat genosida di Jalur Gaza, mengembalikan dukungan opini publik global, khususnya di Barat, serta menghadapi terbongkarnya kebohongan-kebohongan Zionis.
Atwan menegaskan bahwa karena alasan inilah, tidak mustahil serangan Sydney merupakan langkah pertama dalam jalur tersebut. Ia memperkirakan akan ada serangan-serangan serupa di masa dekat terhadap komunitas Yahudi, dengan tujuan menghidupkan kembali citra korban Zionis, memperketat kampanye melawan antisemitisme, mengendalikan kembali media sosial secara penuh, menekan kebebasan berekspresi dan berpikir, menutup semua mimbar anti-Zionis, serta mencegah munculnya simpati terhadap penderitaan historis rakyat Palestina.
Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa mayoritas besar tawanan Israel yang pernah ditahan oleh gerakan Hamas memuji perlakuan baik yang mereka terima selama masa penahanan. Tidak satu pun dari mereka dilaporkan mengalami penyiksaan atau penghinaan, bahkan mereka memuji para penjaga yang, meski berada dalam kondisi pengepungan, tetap berbagi makanan mereka. Sebaliknya, para tahanan perempuan dan laki-laki Arab serta Palestina di penjara-penjara Zionis dilaporkan mengalami berbagai bentuk penyiksaan brutal, kekerasan seksual, serta ancaman oleh sipir penjara dan anjing-anjing mereka. Praktik-praktik ini, menurut Atwan, telah didokumentasikan oleh organisasi-organisasi Yahudi, Palestina, dan internasional.
Atwan menegaskan bahwa perbedaan inilah yang mencerminkan perbedaan moral dan keyakinan antara kedua pihak. Mereka yang melepaskan anjing-anjing terlatih untuk menyerang para tahanan Palestina, dan yang menikmati pembunuhan serta pembiaran kelaparan terhadap 40 ribu anak dan keluarga mereka hingga mendekati kematian, menurutnya, tentu tidak akan ragu merekrut beberapa tentara bayaran untuk menyerang komunitas Yahudi dalam perayaan di Sydney atau di wilayah lain dunia. Ia menambahkan bahwa tindakan rezim Zionis dalam membentuk kelompok Yasser Abu Shabab di Jalur Gaza, serta kelompok-kelompok serupa di Lebanon, Iran, dan sejumlah negara lain, memperkuat dugaan tersebut.
Di bagian akhir, Atwan menegaskan bahwa Netanyahu telah gagal mencapai seluruh tujuan dari perang-perangnya di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Yaman, dan Iran, dan kini tengah mencari dalih untuk melanjutkan serta meningkatkan eskalasi konflik tersebut. Karena itu, menurutnya, tidak mustahil serangan Sydney menjadi salah satu alasan yang digunakan. Dalam kerangka itulah, Netanyahu kemudian menuding Iran bertanggung jawab atas serangan ini, meskipun Iran secara resmi telah mengecam insiden tersebut. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












