Search

Menjadi Religius di Tengah Dunia yang Tak pernah Sunyi: Pergulatan Batin Mahasiswa Gen Z

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Dr. Suriansyah*

Banyak orang mengira mahasiswa sekarang makin tidak religius karena jarang terlihat aktif di organisasi keagamaan atau kegiatan ibadah bersama. Memang, beberapa survei global menunjukkan anak muda sekarang tidak sekuat dulu keterikatannya dengan lembaga agama formal. Di beberapa negara Barat, jumlah Gen Z yang tidak mengaku punya afiliasi agama bahkan jadi yang paling tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Tapi cerita sebenarnya tidak sesederhana itu. Banyak dari mereka tetap percaya Tuhan, tetap berdoa, dan tetap mencari makna hidup hanya saja caranya berbeda. Tidak selalu lewat organisasi, tidak selalu lewat ritual yang kelihatan ramai.

Di Indonesia, berbagai penelitian justru menunjukkan mayoritas mahasiswa masih mempunyai tingkat keyakinan dan praktik keagamaan yang cukup tinggi. Jadi bukan imannya yang hilang, tapi cara mengekspresikannya yang berubah.

Dulu, agama sering diterima sebagai sesuatu yang otomatis: ikut orang tua, ikut lingkungan. Selesai. Gen Z tumbuh di zaman berbeda. Semua bisa dicari di internet, semua bisa dipertanyakan, semua bisa dibandingkan. Akibatnya, iman tidak lagi sekadar warisan, tapi menjadi hasil pencarian pribadi.

Mereka ingin tahu “kenapa harus percaya,” bukan cuma “apa yang harus dipercaya.” Mereka bertanya, kadang ragu, lalu mencari lagi. Dari luar mungkin terlihat menjauh, padahal bisa jadi justru sedang mendalami. Karena iman yang dicari sendiri biasanya terasa lebih jujur daripada yang hanya diikuti begitu saja.

Banyak mahasiswa Gen Z merasa dekat dengan Tuhan lewat hal-hal sederhana yang tidak selalu terlihat “religius” secara formal. Misalnya refleksi diri saat sendirian, keinginan jadi orang baik dan bermanfaat, kepedulian sosial, menjaga kesehatan mental, atau sekadar doa pelan sebelum tidur.

Mereka mungkin tidak selalu hadir di kegiatan rohani kampus, tapi tetap merasa punya hubungan dengan Tuhan. Religiusitas jadi lebih personal, lebih sunyi, tapi juga lebih jujur. Istilah yang sering dipakai adalah “spiritual tapi tidak terlalu institusional.” Bukan menolak Tuhan, tapi mencoba menemukan hubungan yang terasa lebih nyata bagi diri mereka.

Gen Z terkenal kritis, termasuk soal agama. Mereka sensitif dengan isu keadilan, kesetaraan, lingkungan, dan kemanusiaan. Kalau lembaga agama terasa tidak nyambung dengan isu-isu itu, mereka bisa menjaga jarak. Tapi menariknya, di balik sikap kritis itu ada kerinduan besar akan makna hidup.

Tekanan kuliah, kecemasan masa depan, dan rasa sepi di era digital justru membuat banyak mahasiswa mencari pegangan batin. Dan di titik itu, agama atau setidaknya spiritualitas tetap jadi tempat kembali.

Jadi paradoksnya jelas: mereka mempertanyakan bentuk lama, tapi tetap mencari kedalaman yang sama.

Perubahan ini sebenarnya peluang besar. Kampus tidak cukup hanya mengasah otak, tapi juga perlu jadi ruang ngobrol tentang makna hidup. Mahasiswa butuh tempat aman untuk bertanya tanpa dihakimi, ragu tanpa dimarahi, dan mencari tanpa dipaksa.

Pendekatan agama yang hangat, relevan, dan nyata dalam aksi sosial biasanya jauh lebih diterima Gen Z dibanding ceramah yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Mereka lebih mudah tersentuh oleh keteladanan daripada sekadar nasihat.

Jadi, mungkin pertanyaannya perlu diganti. Bukan lagi: “Apakah Gen Z kurang religius?” Tapi: “Religiusitas seperti apa yang sedang mereka bangun?”

Yang terjadi tampaknya bukan kemunduran, tapi pergeseran cara beriman: dari ramai ke lebih sunyi, dari simbol ke makna, dan dari ikut-ikutan ke kesadaran pribadi.

Setiap generasi memang punya jalannya sendiri menuju Tuhan. Gen Z pun begitu, hanya jalannya berbeda.

Religiusitas mahasiswa Gen Z sering tidak terlihat mencolok. Tidak selalu ada di mimbar, tidak selalu ramai di simbol. Tapi ia ada di doa yang pelan, di kebaikan kecil yang tulus, di pencarian makna yang terus berjalan. Mereka bukan generasi yang jauh dari Tuhan. Mereka adalah generasi yang sedang mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri. Dan mungkin, tugas kita bukan menghakimi cara itu, tapi menemani perjalanan mereka. Karena di lorong-lorong kampus hari ini, pencarian itu sedang berlangsung diam-diam, pelan-pelan, tapi sangat dalam. (*Dosen Institut Teknologi Kalimantan)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA