Search

Mengapa Strategi Pembunuhan ala Israel Justru Membawa Mereka Menuju Kekalahan?

Doktrin militer Israel yang berpusat pada pembunuhan (assassination) gagal meraih kemenangan menentukan terhadap Poros Perlawanan, sekaligus mengungkap kelemahan struktural dalam masyarakat dan strategi perang Israel. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Entitas Zionis tidak mampu bertempur dalam perang nyata; sebaliknya, mereka mengandalkan pembunuhan terarah dan kampanye pengeboman teror untuk menghindari konfrontasi langsung dengan lawan. Sejak Oktober 2023, strategi ini terbukti menjadi kelemahan, terutama saat mereka mencoba memperluas pendudukan.

Pada 3 Maret 2026, Hizbullah Lebanon membantah klaim Israel yang menyebut mereka hampir mencapai “kemenangan total” dalam perang tujuh front. Kini realitas mulai terlihat jelas. Israel telah melakukan serangan pembunuhan paling sukses, operasi Mossad, serta serangan udara paling destruktif terhadap populasi sipil tak berdaya di Gaza.

Namun, semua itu tidak berhasil mengalahkan satu pun lawan. Lalu mengapa banyak orang percaya bahwa Israel mampu mengatasi Poros Perlawanan yang dipimpin Iran? Jawabannya sederhana: propaganda.

Hizbullah, Hamas, Ansarullah, Perlawanan Islam di Irak, dan IRGC Iran semuanya masih ada hingga saat ini. Bahkan, melalui genosida di Gaza, Israel gagal sepenuhnya mengalahkan satu pun dari belasan faksi perlawanan Palestina. Ini bukan berarti tidak ada kerugian atau pukulan, tetapi faktanya Israel telah mengerahkan semua yang mereka miliki untuk meraih “kemenangan total”—dan tetap gagal.

Sebagian pihak berargumen bahwa Hizbullah dan kelompok lain mengalami pukulan besar, termasuk pembunuhan pemimpin senior, serangan pager, serta hilangnya tokoh-tokoh penting di Hamas dan IRGC. Semua itu benar, tetapi hal tersebut bukanlah penentu kemenangan perang.

Terlebih lagi, Israel memiliki teknologi militer paling canggih dan secara teori seharusnya jauh lebih unggul dibanding Hizbullah atau Hamas.

Masalah terbesar mereka terletak pada doktrin militer, ketergantungan berlebihan pada teknologi, serta kelemahan ideologis dalam masyarakatnya. Pada tahun 2000, mantan Sekjen Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyampaikan pidato terkenal yang kemudian dikenal sebagai “Pidato Sarang Laba-laba” (Spider’s Web).

Dua puluh enam tahun kemudian, kepemimpinan politik dan militer Israel masih terobsesi dengan pidato itu, karena menyentuh inti psikologis mereka. Masyarakat Israel adalah masyarakat militeristik yang sangat mengandalkan tentara rakyatnya. Slogan “IDF adalah tentara paling bermoral” menjadi mantra para pemukim—sebuah konsep yang dianggap tidak masuk akal oleh banyak pihak di dunia, tetapi diyakini kuat oleh mereka sendiri.

Kematian seorang tentara jauh lebih sulit diterima oleh masyarakat Israel dibanding warga sipil, sehingga mereka berusaha menutupi korban militer. Jika korban tentara meningkat besar, hal itu bisa mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap proyek kolonial mereka. Inilah inti teori “Sarang Laba-laba”: kelemahan Israel bukan pada teknologi, melainkan pada ketahanan sosialnya.

Konsep perang singkat telah lama menjadi bagian dari strategi militer Israel sejak era David Ben-Gurion. Perang singkat dianggap aman karena keunggulan militer, sedangkan perang panjang menjadi berbahaya karena jumlah musuh yang besar.

Keberhasilan Perang Enam Hari memperkuat keyakinan ini. Namun seiring waktu, terutama dengan dukungan penuh AS, strategi Israel bergeser menjadi lebih menghindari risiko dan mengadopsi doktrin kontra-pemberontakan.

Dalam Intifada Kedua, Israel mulai mengandalkan pembunuhan terarah, operasi pasukan khusus, dan strategi kontra-insurgensi secara besar-besaran. Di Tepi Barat, strategi ini berhasil melemahkan perlawanan Palestina, tetapi di Gaza justru memicu adaptasi dan penguatan.

Setelah mundur dari Lebanon, Israel menyadari Hizbullah menjadi ancaman besar. Namun upaya mengalahkannya pada 2006 gagal, sehingga mereka mengembangkan “Doktrin Dahiyeh”—yakni menghancurkan infrastruktur sipil secara masif untuk menciptakan efek jera.

Namun dalam kenyataannya, justru Hizbullah yang berhasil menciptakan efek jera terhadap Israel. Doktrin ini kemudian diterapkan di Gaza terhadap kelompok perlawanan yang lebih lemah dan terkepung.

Selama bertahun-tahun, strategi ini dikombinasikan dengan kampanye pembunuhan dan konsep “memotong rumput” (mowing the lawn)—cara halus untuk menyebut penindasan berulang demi mempertahankan “deterrence”. Namun strategi ini juga gagal, karena perlawanan justru semakin kuat dan mampu memberikan kekalahan militer terbesar bagi Israel.

Sebagai respons terhadap peristiwa 7 Oktober 2023, Israel meningkatkan eskalasi dengan melakukan genosida di Gaza dan memperluas serangan regional. Mereka kembali mengandalkan taktik lama yang sebelumnya sudah terbukti gagal.

Pembunuhan demi pembunuhan, teror terhadap warga sipil, perang ekonomi, penggunaan kelompok proksi—semua dilakukan untuk menghindari pengorbanan nyata dalam perang. Mereka tidak mampu menghadapi pertempuran darat yang mahal dan berdarah karena teori “Sarang Laba-laba” terbukti benar.

Untuk benar-benar mengalahkan lawan, Israel harus siap kehilangan puluhan ribu tentara—harga yang tidak bersedia dibayar oleh masyarakatnya. Sementara itu, rakyat Palestina, Lebanon, Yaman, dan Iran dinilai lebih siap berkorban.

Rezim Zionis ingin mewujudkan “Israel Raya” tanpa pengorbanan besar—sesuatu yang pada dasarnya tidak mungkin. Rakyat tidak akan tunduk begitu saja pada penindasan atau berhenti melawan hanya karena keluarga mereka dibantai.

Pembunuhan licik, serangan mendadak, dan kekerasan terhadap warga sipil tidak akan memenangkan perang melawan masyarakat yang berjuang untuk kebebasan. Israel sebenarnya memiliki peluang untuk menjamin keberadaannya melalui solusi dua negara, namun menolaknya karena bertentangan dengan ideologi supremasi etnis.

Kini, ilusi kemenangan mulai runtuh. Israel tidak memiliki solusi selain kekerasan massal dan pembersihan etnis, sementara kelemahan internalnya terus membatasi kemampuannya.

Karena itu, ada obsesi untuk mendorong perubahan rezim di Iran dengan bantuan AS—dengan harapan bahwa jika itu berhasil, perlawanan terhadap Israel akan berakhir. (*)

Penulis: Robert Inlakesh
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA