BERITAALTERNATIF.COM – Perubahan besar dalam sistem internasional biasanya tidak dimulai dengan kekalahan militer yang jelas, melainkan dengan erosi yang lebih lambat dan mendalam: menurunnya kepercayaan. Dalam konteks ini, Selat Hormuz saat ini bukan hanya jalur yang dilalui hampir seperlima perdagangan minyak dunia, tetapi juga menjadi ujian utama bagi kredibilitas kekuatan yang mengklaim diri sebagai penjamin tatanan dunia.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang memiliki keunggulan militer, tetapi siapa yang mampu menjaga ketertiban di bawah tekanan berkelanjutan dan biaya yang terus meningkat dalam jangka waktu tak terbatas.
Sebagian besar analis ekonomi dan strategi berpendapat bahwa Selat Hormuz adalah “simpul sistemik” dalam ekonomi global—tempat energi bertemu dengan rantai pasok dan stabilitas keuangan. Gangguan di jalur ini tidak akan bersifat lokal; ia akan cepat berdampak pada harga energi, lalu inflasi, dan akhirnya kebijakan moneter serta pasar keuangan. Karena itu, kendali atasnya tidak diukur dari besarnya kekuatan militer, melainkan kemampuan menjaga kelancaran arus di tengah ancaman yang terus-menerus meski berintensitas rendah. Ancaman ini bersifat kumulatif—bertambah seiring waktu—dan lebih menguji ketahanan daripada ketegasan.
Dalam kondisi seperti ini, aturan konflik berubah: pihak yang lebih lemah tidak mencari konfrontasi langsung, melainkan meningkatkan biaya pengendalian secara bertahap. Pola ini menjadikan Hormuz sebagai arena perang atrisi (pengikisan), di mana konflik berubah dari pertempuran langsung menjadi ujian panjang terhadap kemauan politik. Pengalaman di Vietnam, Irak, dan Afghanistan menunjukkan bahwa keunggulan militer tidak menjamin hasil; kemampuan mempertahankan keterlibatan jangka panjang justru menjadi faktor penentu.
Sejarah menunjukkan pola berulang: kemunduran tidak dimulai dari kekalahan militer langsung, tetapi dari perubahan persepsi pasar, sekutu, dan lawan terhadap kekuatan suatu negara. Krisis Suez adalah contoh paling jelas. Inggris tidak langsung kehilangan kekuatan militernya, tetapi kehilangan kepercayaan sistem internasional terhadap kemampuannya bertindak mandiri dari AS. Hal ini memicu tekanan pada mata uang pound, pelarian modal, dan akhirnya memaksa Inggris mundur—menjadi titik balik kemundurannya sebagai kekuatan global.
Pola serupa terlihat pada Portugal, yang tidak runtuh karena satu kekalahan, tetapi perlahan melemah ketika kehilangan kendali atas jalur perdagangan laut kepada kekuatan baru seperti Belanda. Republik Belanda sendiri kemudian mengalami penurunan ketika kehilangan supremasi laut kepada Inggris, yang berdampak pada kepercayaan pasar terhadap kemampuannya melindungi jaringan perdagangan. Inggris pun akhirnya mengalami kemunduran ketika kehilangan kendali efektif atas jalur laut strategis. Dalam semua kasus ini, faktor penentu bukan satu peristiwa militer, melainkan perubahan persepsi terhadap kemampuan suatu negara menggunakan kekuatannya.
Berdasarkan logika ini, kegagalan mengamankan Selat Hormuz tidak akan dilihat sebagai insiden terbatas, tetapi sebagai sinyal struktural atas batas kemampuan AS sebagai “penjamin” sistem internasional. Dampaknya akan meluas:
Pertama, secara finansial, akan terjadi penilaian ulang risiko global, meningkatnya biaya pembiayaan, dan tekanan terhadap dolar.
Kedua, secara strategis, sekutu AS mungkin mulai mengurangi ketergantungan dan mencari alternatif keamanan.
Ketiga, secara geopolitik, kekuatan lain seperti China berpeluang memperluas pengaruh maritimnya, sementara Rusia dapat diuntungkan oleh fluktuasi harga energi.
Keempat, secara ekonomi, negara dan perusahaan akan menata ulang rantai pasok dan sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur sempit.
Risiko utama bukan sekadar penutupan Selat Hormuz, melainkan hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan menjaganya tetap terbuka. Ketika kepercayaan ini terkikis, akan muncul reaksi berantai—dari aspek psikologis, finansial, hingga strategis—yang dapat mengubah keseimbangan sistem internasional.
Erosi kepercayaan ini pada akhirnya dapat mendorong dunia menuju sistem multipolar. Eropa mungkin mempercepat kemandirian strategisnya, negara-negara Asia mencari alternatif energi, China memperluas peran maritim, dan Rusia memanfaatkan dinamika energi global. Perubahan ini tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui akumulasi sinyal kecil: insiden terbatas, keraguan taktis, dan biaya yang terus meningkat.
Sebagai penutup, Selat Hormuz kini bukan sekadar arena konflik, melainkan cermin yang menunjukkan hakikat kekuatan dalam sistem internasional modern. Kekuatan tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki suatu negara, tetapi oleh apa yang diyakini orang lain tentang kemampuan negara tersebut untuk bertindak dan bertahan.
Pelajaran sejarah tetap sama: kemunduran tidak dimulai dari kekalahan, tetapi dari munculnya keraguan. Pada saat itulah kekuatan mulai bergeser—dari sumber kepercayaan menjadi objek pertanyaan. Karena itu, Selat Hormuz bisa menjadi titik penting dalam pembentukan ulang sistem internasional, di mana yang menentukan bukan lagi siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang dianggap akan tetap kuat. (*)
Penulis: Mohammad Ibrahim
Sumber: Al Mayadeen












