BERITAALTERNATIF – Di abad ke-21, realitas lapangan tidak selalu menjadi penentu utama “pemenang” dan “pecundang” dalam perang atau proses perdamaian. Media memiliki kemampuan untuk menciptakan “distorsi persepsi” dan memaksakan narasinya. Dalam dunia saat ini, bingkai media dapat menampilkan Abu Muhammad Julani sebagai salah satu pemimpin Al-Qaeda yang mengancam dunia bebas, namun di hari lain membingkainya sebagai “pemimpin moderat pembela kebebasan” yang dianggap dapat menjadi aset penting bagi CENTCOM dalam menghadapi Poros Perlawanan. Berdasarkan logika itu, dalam dua tahun terakhir pusat-pusat produksi pemikiran serta media arus utama berupaya menampilkan konflik antara rezim Israel dan Poros Perlawanan yang dipimpin Iran dengan menonjolkan capaian Israel, sembari mengecilkan upaya kelompok-kelompok perlawanan.
Dalam narasi anti-Iran tersebut, Tehran dan jaringan Poros Perlawanan dibingkai sebagai “pihak kalah”, sedangkan mesin perang Israel digambarkan sebagai “Daud pada zaman modern”. Penciptaan narasi palsu mengenai “Iran lemah” selama satu tahun terakhir membuat banyak kalangan elit eksekutif serta pemikir Barat sampai pada kesimpulan bahwa Tehran berada pada titik paling rentan, sehingga “kesempatan emas” untuk menyerang program nuklir dan misilnya kini terbuka.
Penilaian rendah terhadap kemampuan militer Iran ini membuat, sejak pekan kedua perang 12 hari, rudal-rudal Iran mampu mengenai jantung wilayah pendudukan dengan akurasi tinggi. Kini, enam bulan setelah konfrontasi langsung pertama antara Iran dan rezim Israel, lembaga-lembaga berita serta pusat-pusat pemikiran yang dekat dengan para pengusaha Israel dan kelompok neokonservatif AS kembali menonjolkan narasi “Iran lemah namun berbahaya”.
Menciptakan Kesan Waktu yang Semakin Sempit untuk ‘Mengendalikan Iran’
Dalam bulan-bulan terakhir, operasi psikologis musuh menyoroti percepatan kemampuan nuklir–militer Iran. Mulai dari menuduh Beijing mengirim prekursor bahan bakar roket padat, hingga klaim bahwa ilmuwan dari pusat “Sepand” melakukan perjalanan ke Moskow untuk mempelajari teknologi laser demi menghilangkan kebutuhan “uji panas” nuklir. Semua ini dimaksudkan untuk menampilkan seolah-olah waktu untuk “mengendalikan Iran” sangat terbatas. Baru-baru ini, The Economist juga mengklaim bahwa kemungkinan kesepakatan Iran–AS sangat rendah dalam kondisi saat ini dan perkembangan yang ada dapat menuju perang. Sebelumnya, The New York Times juga menyatakan bahwa perang kedua antara Iran dan Israel tak terhindarkan, dan hanya tersisa persoalan “waktu”.
Penonjolan Krisis Kekeringan di Iran
Institute Washington (sebuah think tank arus kanan AS) pada 28 November 2025 mempublikasikan tulisan oleh penelitinya, Holly Dagres, yang menuduh pemerintah Iran melakukan salah urus dalam menjaga dan mendistribusikan sumber daya air. Dalam pembukaannya ia menulis bahwa “waduk-waduk air mengering akibat salah kelola sistematis dan berbagai masalah lain, dan para pejabat tampaknya tidak mampu atau tidak mau melakukan reformasi.”
Dalam tulisannya, Dagres mengkritik kebijakan Iran dalam pengelolaan air, namun ia sama sekali tidak menyinggung “kekeringan periodik” di Asia Barat. Turki, negara-negara Teluk, dan berbagai negara Arab lain menghadapi kondisi yang sama dengan Iran: menurunnya curah hujan dan melemahnya sumber-sumber air. Sebagai contoh, Irak yang dalam satu dekade terakhir mengalami kemajuan signifikan dalam pembangunan dan rekonstruksi, tetap menghadapi kesulitan besar dalam pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian, industri, dan konsumsi domestik.
Menuduh Iran Menggencarkan Kampanye Hibrida terhadap Barat
Pusat Strategi dan Keamanan Yerusalem (di wilayah pendudukan) dalam laporan dua bagiannya menuduh Tehran melakukan “operasi luar negeri” di negara-negara Barat. Alexander Grinberg mengklaim bahwa kasus penangkapan dan pembebasan dua warga negara Prancis memperlihatkan strategi Iran memanfaatkan warga asing untuk mendapatkan keuntungan politik. Dalam bagian kedua, ia menuduh Pasukan Quds merencanakan penyerangan terhadap warga Yahudi di Eropa serta merekrut dan melatih agen di kawasan Kaukasus. Narasi ini selaras dengan proyek besar menciptakan “sekuritisasi hubungan Iran–Barat”. Bulan lalu, hanya beberapa hari setelah laporan Mossad mengenai aktivitas kelompok 1100 di Australia, Jerman, dan Yunani, hubungan Tehran–Canberra menurun tajam dan Pasukan Quds dimasukkan dalam “daftar hitam” Australia.
Upaya Membangun Narasi Palsu tentang ‘Retaknya Poros Perlawanan’
Sebelum Operasi Badai Al-Aqsa dan dimulainya perang regional dengan Israel, media arus utama berusaha menggambarkan adanya perpecahan antara Iran sebagai pemimpin Poros Perlawanan dengan anggotanya. Dalam konteks itu, The Telegraph pada 25 November mengklaim bahwa Iran tidak lagi mengendalikan Ansarullah Yaman. Dalam narasi tersebut disebutkan bahwa setelah agresi AS dan Israel ke Yaman, Ansarullah kecewa kepada Tehran dan ingin lebih mandiri dalam menentukan kepentingan mereka. Tulisan fiktif ini bertentangan dengan fakta bahwa sejak awal hubungan Iran dengan kelompok-kelompok Poros Perlawanan dibangun atas dasar “kesetaraan”, bukan dominasi. Ironisnya, narasi ini diangkat pada saat media pro-Israel justru terus menuduh Iran memasok perlengkapan kepada Ansarullah melalui rute darat, laut, bahkan udara.
Catatan Akhir
Ketika berbagai judul dan arus pemberitaan disebarkan secara massif, para analis, perumus kebijakan, dan pelaksana strategi negara tidak boleh mengabaikan ancaman tersebut. Para penggerak operasi psikologis yang menyuarakan narasi “Iran lemah namun berbahaya” dengan fokus pada “percepatan rekonstruksi kemampuan nuklir–misil Tehran” serta “aktifnya tekanan ekonomi, lingkungan, dan sosial” berupaya menghadirkan gambaran kepada Donald Trump bahwa misi “menyerang Republik Islam” belum selesai dan Iran harus kembali menjadi sasaran tekanan.
Dalam kondisi ini, selain menyiapkan paket media yang profesional untuk menghadapi “serangan informasi”, para pejabat tinggi politik–militer juga harus memandang perkembangan ini secara serius dan memperkuat kesiapan menghadapi kemungkinan agresi musuh. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












