Search

Mengapa Dakwah Salafi Laku di Kota-Kota Besar?

Penulis. (Radio Iran)

Oleh: Ismail Amin Pasannai*

Di kota-kota besar Indonesia, dakwah Salafi tumbuh pesat dan tampak sangat diminati kalangan elit kota bahkan merambah ke dunia selebriti. Banyak yang menganggapnya “lebih ilmiah”, “lebih murni”, atau “lebih dekat dengan Islam generasi awal”. Namun jika dicermati lebih teliti, daya tariknya bukan terutama pada kedalaman teologi, melainkan pada faktor sosial-psikologis yang membuatnya terasa sederhana, pasti, dan mudah diikuti.

Pertama, dakwah ini menawarkan kepastian moral. Hidup kota yang rumit membuat banyak orang mencari jawaban cepat. Salafi memberi kepastian hitam-putih: sunnah atau bid’ah, tauhid atau syirik, selamat atau sesat. Bagi sebagian orang, kepastian seperti ini menenangkan karena mengurangi beban berpikir. Kepenatan dengan jadwal aktivitas yang padat membuat warga kota memilih pengajian yang simpel dan hukum cepat saji.

Kedua, dakwah Salafi tampak ilmiah secara format namun tidak dengan konten. Kutipan dalil yang berlimpah, penyebutan kitab klasik, pembagian tema secara sistematis, semuanya memberi kesan akademis. Padahal kedalaman ilmiah tidak diukur dari banyaknya footnote atau teks Arab, melainkan dari kemampuan mengolah konteks, menimbang perbedaan dan mempertimbangkan konteks sejarah maupun kompleksitas fiqih lintas mazhab. Pada titik ini dakwah Salafi sering kali literal dan dangkal, namun tampilannya rapi dan memikat.

Ketiga, narasi “Islam paling murni” memberi identitas baru yang terasa tegas dan heroik bagi anak muda perkotaan. Klaim kemurnian ini tidak pernah sederhana, tetapi sangat efektif untuk menarik pengikut.

Keempat, mereka memiliki komunitas yang solid. Di tengah individualisme kota, adanya kelompok kajian, pembinaan rutin, dan jaringan masjid menciptakan ruang sosial yang hangat dan suportif.

Kelima, mereka sangat agresif di media digital. Konten pendek, tegas, dan mudah viral membuat gagasan yang sederhana lebih mudah diterima dibanding penjelasan mazhab tradisional yang lebih bernuansa.

Semua ini menjadikan dakwah Salafi tampak menarik, meski tidak selalu lebih matang secara keilmuan. Fenomena ini bisa kita lihat di kehidupan kampus. Di kampus-kampus Islam umum terutama di UIN, dakwah Salafi cenderung tidak berkembang, namun begitu marak di kampus-kampus sekuler. Sebab di kampus-kampus Islam yang memang fokus dan mendalami kajian-kajian Islam lintas mazhab dengan kompleksitas perbandingan akidah dan fikihnya tidak tertarik pada kemasan Islam cepat saji, sementara di kampus sekuler, terutama jurusan sains, waktu belajar dan berpikir telah terkuras oleh agenda perkuliahan non agama, sehingga lebih cenderung pada pengkajian agama yang langsung memberi kepastian dan amalan praktis.

Biaya Sosial yang Harus Dibayar Mahal

Namun daya tarik ini datang dengan harga yang tidak kecil. Cara dakwah Salafi yang menempatkan hanya satu tafsir sebagai yang paling benar, otomatis menjadikan amalan mayoritas muslim Indonesia yang bermazhab Syafi’i dan kaya tradisi sebagai sasaran serangan.

Kita melihat contoh konkretnya setiap hari: Mereka menyerang tahlilan, ziarah kubur, majelis salawatan,  maulid, qunut, dan doa bersama yang mereka cap bid’ah atau sesat, seolah seluruh ulama Nusantara sejak abad ke-15 tidak mengerti agama. Para kiai pesantren yang menjadi pilar pendidikan Islam dianggap menyimpang hanya karena tidak mengikuti manhaj mereka. Tradisi keagamaan lokal, yang selama ratusan tahun menjadi perekat sosial, disebut syirik tanpa upaya memahami nilai sosial, spiritual, dan historisnya.

Akibatnya, keluarga retak, masyarakat terbelah, dan otoritas ulama lokal terkikis. Dakwah menjadi arena memvonis, bukan ruang belajar. Lebih jauh lagi, pendekatan Salafi yang eksklusif juga menghambat relasi sehat dengan pemeluk agama lain. Banyak dari mereka mengharamkan ucapan selamat, menolak dialog lintas iman, bahkan memandang perayaan dan tradisi non-Muslim sebagai ancaman akidah. Sikap ini menutup pintu interaksi sosial yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia: hidup rukun dalam keberagaman.

Jika cara berdakwah seperti ini dibiarkan dominan, umat bukan hanya terpecah, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk hadir sebagai rahmat bagi lingkungan sosialnya. Karenya penting memahami mengapa dakwah Salafi mudah diterima, tetapi lebih penting lagi menyadari dampak sosialnya yang memecah, mengeras, dan menghilangkan keluwesan Islam Nusantara, Islam yang sejak dulu hidup damai, menghargai perbedaan, dan tetap kokoh dalam prinsip. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA