Oleh: Ali Zainal Abidin Alaydrus*
Pertanian telah menjadi tulang punggung peradaban manusia. Di tengah tekanan populasi yang terus meningkat dan perubahan iklim yang meresahkan, masa depan pertanian menghadapi tantangan besar. Peran petani menjadi kunci dalam menghadapi tantangan tersebut. Sayangnya, masalah juga muncul dari dalam komunitas petani itu sendiri, di mana regenerasi tenaga kerja tidak berjalan dengan baik, mengakibatkan kesenjangan usia yang signifikan.
Saat ini, pertanian masih didominasi oleh petani yang berusia 50 tahun ke atas, sementara generasi milenial hanya mencakup sebagian kecil dari populasi petani. Kolaborasi antara petani yang lebih tua dan generasi milenial dirasa belum maksimal. Perkembangan zaman menuntut keterlibatan generasi yang lebih muda: generasi Z.
Kini, saatnya generasi Z mengambil peran. Terlahir di era digital, generasi Z adalah mereka yang lahir antara 1997 hingga awal 2012 ini tumbuh di era digital, sehingga mereka akrab dengan teknologi dan informasi. Meski belum semua dari mereka terjun langsung ke dunia pertanian, potensi yang mereka miliki terutama dalam penguasaan teknologi seperti Internet of Things (IoT), digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi modal penting untuk memperbarui wajah pertanian Indonesia. Jika potensi ini dimanfaatkan secara serius, mereka bisa mendorong pertanian menjadi lebih modern, efisien, dan tangguh menghadapi krisis iklim.
Pemanfaatan teknologi oleh generasi Z membuka peluang lahirnya sistem pertanian yang cerdas, adaptif, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan. Kemajuan ini meskipun penting, tetap perlu disertai dengan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Pertanian yang berkelanjutan hanya bisa terwujud jika inovasi teknologi berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan. Data dari survei JakPat tahun 2022 menunjukkan bahwa mayoritas konsumen muda kini semakin peduli terhadap isu lingkungan. Hal ini menjadi sinyal positif, mengingat generasi Z menunjukkan ketertarikan terhadap gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, termasuk preferensi pada produk yang berkelanjutan.
Namun di sisi lain, terdapat tantangan besar yang tak bisa diabaikan: berdasarkan survei JakPat yang sama, hanya 6 dari 100 generasi Z berusia 15–26 tahun yang menyatakan ingin bekerja di sektor pertanian. Fakta ini memperjelas bahwa meskipun generasi ini sadar akan pentingnya keberlanjutan, pertanian belum menjadi bidang yang menarik atau prospektif di mata mereka.
Prof. Diana yang mengangkat isu generasi Z dalam disertasinya juga mengungkapkan bahwa generasi Z memiliki karakteristik yang lebih hijau dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap penggunaan produk ramah lingkungan, dipengaruhi oleh kemasan yang ramah lingkungan serta nilai-nilai sosial yang terkait dengan penggunaan produk tersebut.
Namun, meskipun tingkat literasi dan pengetahuan generasi Z tentang lingkungan cukup tinggi, hal ini tidak selalu mendorong mereka untuk berperilaku ramah lingkungan. Oleh karena itu, informasi lanjutan perlu untuk dilakukan. Selain itu, kaitannya dengan pertanian termasuk pertanian berkelanjutan. Dengan memprioritaskan praktik pertanian ramah lingkungan, seperti pertanian organik dan penggunaan energi terbarukan, mereka dapat membantu memperkuat ketahanan ekologis sistem pertanian.
Selain itu, semangat kewirausahaan generasi Z menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan ekonomi di sektor pertanian. Tren konsumen yang semakin memilih produk lokal dan organik, serta preferensi berbelanja secara daring, ibarat angin segar yang mendorong lahirnya peluang bisnis baru. Menghubungkan petani langsung dengan konsumen ibarat membangun jembatan yang kokoh dalam upaya memperkuat ekosistem pertanian. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani secara lebih adil, tetapi juga memperkuat ketahanan terhadap fluktuasi pasar global.
Dukungan lintas sektor menjadi syarat mutlak untuk mengoptimalkan potensi generasi Z di dunia pertanian. Pendidikan pertanian perlu diperkuat sejak jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga perguruan tinggi agar generasi muda dibekali pengetahuan, keterampilan, dan semangat inovasi yang relevan. Akses terhadap teknologi, pendampingan usaha, dan pembiayaan juga harus diperluas oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat agar para petani muda memiliki ruang gerak yang nyata.
Salah satu hambatan terbesar saat ini adalah rendahnya citra profesi petani di mata publik. Profesi petani ini masih sering dipandang sebelah mata, dianggap identik dengan kemiskinan, keterbelakangan, dan masa depan yang suram. Stigma inilah yang kerap membuat anak muda menjauh dari sektor pertanian. Perlu ada upaya serius untuk membalik persepsi tersebut. Petani masa kini harus dilihat sebagai pionir perubahan dan penentu arah keberlanjutan pangan bangsa.
Mendorong keterlibatan generasi Z dalam sektor ini juga menuntut adanya kolaborasi lintas generasi. Pengetahuan, pengalaman dan kearifan lokal yang dimiliki oleh petani yang lebih tua dapat dipadukan dengan energi dan inovasi generasi Z untuk menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan. Keterlibatan generasi Z secara aktif dalam perencanaan dan implementasi kebijakan pertanian akan memastikan kebijakan yang dihasilkan lebih relevan dan efektif dalam menjawab tantangan masa depan. Bentuk dukungan nyata lainnya juga perlu diwujudkan, seperti pemberian insentif untuk praktik pertanian berkelanjutan, pengembangan infrastruktur yang modern, serta penguatan ekosistem kewirausahaan di sektor pertanian.
Pertanian bukan sekadar urusan produksi pangan. Ia adalah masa depan kita bersama. Jika generasi Z diberi ruang, dukungan, dan kepercayaan, mereka bisa menjadi ujung tombak transformasi sektor ini dan menjadikannya lebih hijau, adil, dan adaptif.
Kini saatnya menyambut generasi Z sebagai mitra strategis, bukan hanya penerus. Bersama mereka, kita bisa mengubah tantangan menjadi peluang, dan memastikan bahwa pertanian tetap menjadi pilar utama ketahanan bangsa. (*Dosen Tetap Prodi Agroekoteknologi Faperta Universitas Mulawarman)












