Search

Membantai Anak-Anak sebagai Ritual

Penulis. (Perspektif Muhsin Labib)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Serangan terhadap Iran tidak lahir dari ruang hampa. Penentuan hari, pemilihan momentum, bahkan bentuk pembukaannya menunjukkan bahwa tindakan tersebut dibingkai oleh imajinasi ideologis yang lebih tua daripada konflik geopolitik modern. Di kalangan Zionis religius ekstrem, sejarah tidak dipahami sebagai rangkaian peristiwa politik semata, melainkan sebagai panggung pemenuhan janji ilahi.

Dalam kerangka ini, perang memperoleh makna teologis. Pembantaian tidak lagi dibaca sebagai kejahatan kemanusiaan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan menuju realisasi janji yang diyakini. Dari sinilah lahir doktrin keadilan yang terbalik: keadilan dipahami bukan sebagai perlindungan universal terhadap manusia, tetapi sebagai kemenangan eksklusif bagi komunitas yang merasa memegang mandat sejarah.

Cara berpikir ini berakar pada tafsir tertentu atas konsep bangsa terpilih dan tanah yang dijanjikan. Narasi kitabiah tentang penaklukan wilayah dijadikan pembenaran bagi konflik modern. Arus keras dalam Zionisme religius memandang pembantaian sebagai kelanjutan dari kisah tersebut. Pembunuhan terhadap yang tak berdosa dilihat sebagai tahap yang harus dilalui agar sejarah bergerak menuju tujuan yang diyakini.

Dalam dogma ini, pembantaian anak-anak bukan sekadar efek samping atau “kerusakan tambahan” yang tak terhindarkan. Ia adalah syarat. Ia adalah persembahan pertama yang harus dipersembahkan agar yang ilahi berpihak. Tanpa darah mereka, tanpa nyawa yang paling murni dan tak berdosa, ritual kekuasaan ini kehilangan daya magisnya. Anak-anak tidak dibantai meskipun mereka ada di sana—mereka dibantai karena dogma ini mensyaratkan mereka sebagai korban persembahan.

Karena itu, waktu pembantaian tidak lagi sekadar keputusan strategis. Dalam imajinasi religius yang sakit, waktu dapat menjadi simbol. Pemilihan hari tertentu dipahami sebagai momentum yang selaras dengan tafsir teologis tentang sejarah. Pembantaian anak-anak kemudian memperoleh aura seolah-olah ia merupakan bagian dari narasi yang lebih besar daripada sekadar operasi militer.

Tembakan pertama ke sekolah—dengan korban anak-anak dilaporkan lebih dari dua ratus tujuh puluh jiwa—dalam pembacaan kritis tidak bisa dipandang sebagai kebetulan. Peristiwa itu menjadi pembuka demonstrasi kekuasaan yang sadis. Membantai yang paling rentan di tahap awal agresi berfungsi sebagai pesan kepada sesama pelaku ritual: persembahan telah diberikan, yang ilahi kini berpihak pada kita.

Dalam kerangka simbolik yang bejat, tindakan semacam itu adalah altar pertama. Bukan dalam arti ritual formal, tetapi sebagai wujud bagaimana kekuasaan berubah menjadi kultus kematian yang menandai dimulainya perang. Darah anak-anak dijadikan tanda bahwa agresi telah dimulai dengan restu dari atas, tanpa kompromi, tanpa perikemanusiaan.

Kritik terhadap ideologi Zionis ekstrem menelusuri pola ini ke dalam sejarah religius kawasan Timur Dekat. Dalam tradisi kuno wilayah Kanaan, terdapat praktik persembahan anak kepada dewa seperti Baal dan Molokh—kultus yang memuliakan kekuatan melalui pengorbanan manusia, terutama yang paling tak berdosa. Dalam kitab-kitab mereka sendiri, praktik ini dikutuk, namun kini dihidupkan kembali dalam kemasan baru.

Metafora ini menggambarkan bagaimana kekuasaan modern menghidupkan kembali logika mitologis yang paling gelap. Ketika pembantaian anak-anak menjadi syarat ritual dalam mandat suci, perang berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar konflik politik. Ia menjadi altar bagi keyakinan bahwa sejarah sedang bergerak menuju pemenuhan janji melalui tumpukan mayat bocah.

Dalam cara pandang ini, agresi terhadap Iran tak lagi sekadar operasi militer. Pembantaian anak-anak itu adalah pemenuhan syarat ritual: persembahan pertama yang harus dibayar dengan darah paling murni agar kemenangan menjadi suci. Kebiadaban kuno yang dikutuk oleh kitab-kitab mereka sendiri, kini dihidupkan kembali dalam bentuk negara modern.

Karena itu, konflik yang tampak di permukaan sebagai pertarungan kekuatan militer sebenarnya juga merupakan benturan antara kemanusiaan dan kebinatangan yang mengatasnamakan Tuhan. Trump dan lingkaran eksklusif Epstein beserta para psikopat zionis merawat keyakinan bahwa kekuasaan memiliki legitimasi sakral untuk menuntut persembahan—dan persembahan itu haruslah nyawa anak-anak yang baru belajar membaca. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA