Search

Maja Labo Dahu di Persimpangan Zaman Digital

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Nur Hasanah*

Peristiwa viral yang menampilkan sekelompok perempuan berjoget dan berciuman sesama di Bima bukan sekadar tontonan yang mengundang sensasi, tetapi sebuah peristiwa sosial yang menyentuh akar nilai dan jati diri masyarakat. Kegelisahan yang muncul di tengah warga sejatinya bukan hanya soal apa yang terlihat di layar, melainkan tentang apa yang sedang bergeser dalam kesadaran kolektif kita sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai Maja Labo Dahu.

Maja Labo Dahu bukan warisan budaya yang lahir tanpa makna. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa nama keluarga, masyarakat, dan daerahnya. “Maja” yang bermakna rasa malu adalah benteng batin agar seseorang tidak bertindak melampaui batas kepatutan. Sementara “dahu” yang berarti rasa takut adalah pengingat bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual. Ketika dua nilai ini melemah, maka yang tersisa hanyalah kebebasan tanpa kendali.

Dalam konteks video yang beredar luas tersebut, persoalannya tidak berhenti pada benar atau salah menurut selera pribadi. Tindakan yang dilakukan di ruang publik, direkam, dan disebarkan secara luas telah melampaui ranah privat dan menjadi konsumsi sosial. Di sinilah nilai Maja Labo Dahu diuji. Ketika rasa malu tak lagi menjadi pertimbangan dan rasa takut akan dampak sosial diabaikan, maka ruang publik berubah menjadi panggung tanpa etika.

Lebih jauh lagi, fenomena ini mencerminkan tantangan besar di era digital: ketika viralitas menjadi tujuan, dan perhatian publik dijadikan ukuran eksistensi. Media sosial, yang seharusnya menjadi sarana berbagi hal positif dan membangun, justru kerap mendorong perilaku ekstrem demi popularitas sesaat. Dalam situasi seperti ini, generasi muda berada pada posisi paling rentan menyerap apa yang terlihat, meniru apa yang ramai, tanpa sempat menyaring dengan nilai moral yang kokoh.

Namun, semangat Maja Labo Dahu juga mengajarkan bahwa teguran harus dibarengi kebijaksanaan. Mengutuk, mempersekusi, atau menghakimi secara berlebihan bukanlah solusi, karena hal itu justru bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan kearifan lokal itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif: peran keluarga dalam menanamkan adab, peran tokoh adat dan agama dalam membimbing, serta peran pemerintah dalam menegakkan aturan secara adil dan beradab.

Peristiwa ini seharusnya menjadi momentum untuk bercermin. Apakah Maja Labo Dahu masih hidup dalam perilaku kita, ataukah ia hanya tinggal slogan yang diucapkan saat upacara adat? Menjaga nilai bukan berarti menutup mata terhadap perubahan zaman, tetapi memastikan bahwa perubahan tidak menghilangkan arah. Kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap nilai yang hidup di masyarakat.

Bima akan tetap kuat bukan karena viralnya sensasi, tetapi karena konsistensinya menjaga jati diri. Selama Maja Labo Dahu masih dijadikan pegangan hidup bukan sekadar kata, tetapi laku, maka masyarakat Bima akan mampu menghadapi arus zaman tanpa kehilangan martabatnya. (*Dosen Politeknik Ama Kota Bima)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA