Search

Logika Bertahan di Tengah Ketegangan; Mengapa Netanyahu Melihat Krisis sebagai Jalan Penyelamat Hidup Politiknya?

Benjamin Netanyahu menuju Gedung Putih dengan tujuan menyalakan sumbu ketegangan baru, kali ini dengan dalih jangkauan rudal Iran. Meski manuver yang dilakukan perdana menteri Israel ini bukan hal baru bagi Iran, langkah tersebut kembali memunculkan pertanyaan penting di kalangan opini publik dan pemerintah dunia: mengapa Tel Aviv terus-menerus mencari dan menciptakan krisis. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Menurut laporan media, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan depan. Pertemuan tersebut, menurut pejabat Israel, akan berlangsung pada 29 Desember 2025. Isu Iran disebut sebagai salah satu topik terpenting dalam pembicaraan antara Netanyahu dan Washington, dan tampak jelas bahwa Netanyahu kembali berupaya merancang sebuah petualangan baru di kawasan.

Mengapa Netanyahu Menginginkan Perang?

Bagi Netanyahu, berakhirnya perang merupakan mimpi buruk tanpa jalan keluar. Di saat intensitas perang di Gaza mulai mereda, ia justru berusaha menyalakan kembali api ketegangan, kali ini di medan yang berbeda. Media Barat melaporkan bahwa Netanyahu berencana membahas program rudal balistik Iran dan berbagai skenario serangan militer baru bersama Presiden AS. Terlepas dari benar atau tidaknya laporan tersebut, hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa Netanyahu kembali bernafsu menyerang Iran, dan mengapa program rudal Iran dijadikan dalih utama kali ini.

Jika ditelaah, jawaban atas pertanyaan ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Alasan pertama bersifat internal dan berkaitan dengan situasi di wilayah pendudukan. Netanyahu berpegangan pada apa pun yang dapat menjaga posisinya tetap bertahan. Upayanya meminta pengampunan dari Presiden rezim Israel Isaac Herzog, serta usahanya membujuk Donald Trump untuk terlibat dalam petualangan baru, menjadi bukti kuat dari sikap tersebut.

Selama lebih dari dua tahun, Netanyahu berusaha menghindari proses peradilan, termasuk kasus-kasus korupsi yang membelitnya. Setiap kondisi relatif tenang di wilayah pendudukan justru membuka jalan serius bagi proses pengadilan ini. Di sisi lain, pemilu mendatang di wilayah tersebut berpotensi mengubah banyak persamaan politik dan semakin menyoroti krisis legitimasi politik Netanyahu, sekaligus memperdalam perpecahan sosial internal. Setelah peristiwa 7 Oktober, sebagian besar masyarakat Israel kehilangan kepercayaan terhadap kemungkinan terciptanya perdamaian dan stabilitas, dan secara langsung menyalahkan perdana menteri. Gelombang besar migrasi dari wilayah pendudukan ke negara lain juga menjadi indikator jelas dari hilangnya kepercayaan tersebut.

Karena itu, menciptakan “kejahatan” baru dan meyakinkan pihak internal maupun eksternal untuk memeranginya telah menjadi bagian dari strategi Netanyahu. Saat ini, setelah Gaza, Suriah, dan Yaman, Iran dan Lebanon dijadikan musuh baru. Netanyahu membutuhkan perang baru dengan Iran atau Lebanon untuk mengalihkan perhatian dari proses pengadilan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Akar nyata dan paling realistis dari petualangan ini kembali pada satu fakta yang ia rasakan langsung selama Perang Dua Belas Hari, yang dampaknya sangat terasa di wilayah pendudukan: kemampuan rudal dan drone Iran menembus sistem deteksi, pertahanan, dan pencegat mahal milik NATO, Amerika Serikat, dan Israel, serta menghantam target vital seperti Institut Weizmann.

Seorang analis Amerika di lembaga media Global Research menggambarkan situasi ini dengan mengatakan: mengapa Israel tiba-tiba menyetujui gencatan senjata dengan Iran? Pertanyaan ini tidak pernah dijawab oleh media Barat dan membuat publik Amerika kebingungan. Mungkin ada yang mendengar bahwa stok rudal pertahanan udara Israel hampir habis sehingga rentan terhadap serangan Iran, namun itu hanya sebagian kecil dari kenyataan. Faktanya, Israel berada di ambang kehancuran akibat rentetan serangan rudal Iran yang terus-menerus dan tidak memiliki pilihan selain menghentikan kehancuran tersebut.

Dengan pengalaman menghadapi rudal Iran ini, tidak mengherankan jika rezim Israel berusaha membatasi atau bahkan menghancurkannya. Yang justru mengherankan adalah respons Gedung Putih yang mengulang tuntutan Netanyahu secara harfiah dan menekan Iran agar membatasi program rudalnya. Pejabat Israel mungkin gagal memahami realitas lapangan akibat impunitas yang terus mereka nikmati dan dukungan Barat yang konsisten. Namun dari Amerika Serikat, yang mengklaim diri sebagai pengelola tatanan dunia, diharapkan pendekatan rasional: bahwa Teheran mengembangkan program rudalnya secara serius karena melihatnya sebagai alat pertahanan terhadap rezim yang tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Secara logis, tidak ada negara yang mau melepaskan atau menghancurkan kemampuan pertahanannya sendiri. Pemahaman inilah yang menjadi kunci hilang yang seharusnya mampu mengubah arah diplomasi saat ini.

Strategi Ganda Teheran: Perpaduan Daya Tangkal dan Diplomasi Cerdas

Dalam beberapa bulan terakhir, muncul berbagai klaim media yang dipicu oleh serangan militer Israel terhadap Iran. Mengingat karakter rezim Zionis, klaim semacam ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, Teheran menetapkan kebijakan dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Sayyed Abbas Araghchi hingga para komandan militer Iran.

Menanggapi anggapan bahwa tekanan terbaru bertujuan memaksa Iran bernegosiasi soal program rudalnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa program rudal Iran dikembangkan murni untuk mempertahankan kedaulatan negara dan bukan subjek negosiasi. Ia juga menyoroti kemunafikan yang nyata, ketika program pertahanan Iran dicap sebagai ancaman, sementara senjata pemusnah—bahkan senjata pemusnah massal—terus mengalir ke Israel, rezim yang melakukan genosida, menduduki wilayah dua negara, dan menyerang tujuh negara hanya dalam beberapa bulan terakhir.

Bagi Teheran, kemungkinan petualangan Israel kini lebih besar dari sebelumnya, sehingga upaya penangkalannya ditempatkan sebagai prioritas utama. Namun pertanyaannya, apakah Tel Aviv, kawasan, dan dunia siap menghadapi konsekuensinya? Apakah eskalasi akan terbatas pada Iran dan wilayah pendudukan saja? Apakah negara-negara kawasan, pasar energi global, dan stabilitas ekonomi dunia tidak akan terdampak?

Ancaman militer terhadap Iran, di tengah pembantaian yang terus berlangsung di Gaza, serangan Israel ke Lebanon dan Suriah, serta perang Rusia-Ukraina, merupakan bahaya besar bagi rantai energi dan ekonomi global. Lonjakan harga minyak, gangguan jalur pelayaran, dan ketidakpastian investasi hanyalah sebagian kecil dari dampaknya. Dukungan tanpa syarat Washington terhadap petualangan Tel Aviv bukan hanya tidak menguntungkan sekutu AS, tetapi juga berpotensi merugikan mereka.

Karena itu, menahan ambisi Netanyahu untuk memicu ketegangan menjadi kebutuhan mendesak. Sekadar ancaman terhadap Iran sudah cukup untuk mengguncang keseimbangan keamanan Asia Barat dan memicu rangkaian krisis berkepanjangan. Pada akhirnya, pusaran krisis yang terus diciptakan Netanyahu hanyalah cerminan dari jalan buntu politik yang ia ciptakan sendiri, lalu berusaha menularkannya ke kawasan dan bahkan ke dunia. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA