BERITAALTERNATIF.COM – Sementara sudah lebih dari 21 bulan rezim Zionis melakukan pembantaian di Gaza dan berupaya mengubah tatanan di Asia Barat, para penguasa di sejumlah negara Muslim masih melanjutkan, bahkan dalam beberapa kasus memperluas, perdagangan mereka dengan rezim tersebut.
Menurut laporan kantor berita Mehr, gelombang genosida tanpa henti terhadap warga sipil tak bersalah di Gaza, operasi militer brutal terhadap pasukan perlawanan di Yaman, Lebanon, Suriah, hingga dimulainya serangan langsung ke wilayah Iran, telah menyingkap dengan jelas sifat kejam, ekspansionis, dan hegemonik rezim Zionis—mungkin lebih gamblang daripada waktu mana pun sejak 1948.
Meski demikian, sebagian pemerintah negara Muslim masih berpegang pada anggapan bahwa mereka dapat membangun ketergantungan timbal balik atau kepentingan bersama dengan entitas perampas tersebut, dan tetap menjalin perdagangan luas dengannya.
Jika dibuat tabel negara-negara Muslim yang berdagang dengan Israel, lima besar dipegang oleh Turki, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Azerbaijan, dan Malaysia.
Pertama, Turki. Berdasarkan data Observatory of Economic Complexity (OEC) tahun 2023, Turki mencatat perdagangan terbesar di antara negara Muslim dengan Israel, yakni senilai USD 6,6 miliar—terdiri dari USD 5,3 miliar ekspor Turki ke Israel dan USD 1,3 miliar impor dari wilayah pendudukan.
Meski pada tahun berikutnya, setelah retorika politik Erdogan dan pejabat Turki yang menyatakan akan menghentikan perdagangan dengan Israel, nilainya menurun, data Trading Economics mencatat bahwa pada 2024 total perdagangan kedua pihak masih melebihi USD 2,6 miliar. Transaksi ini banyak dilakukan melalui negara ketiga atau dengan mencantumkan Palestina sebagai tujuan akhir. Walau turun, Turki tetap berada jauh di posisi puncak.
Kedua, UEA. Posisi kedua ditempati UEA, yang pada 2023 mencatat perdagangan lebih dari USD 1,97 miliar dengan Israel (USD 1,4 miliar ekspor dan USD 575 juta impor). Pada 2024—di tengah berlangsungnya genosida di Gaza—perdagangan UEA dengan Israel justru meningkat 11%. UEA juga termasuk negara yang memiliki peran strategis dalam rencana AS mengatur masa depan Gaza.
Ketiga, Mesir. Di posisi ketiga adalah Mesir, yang pada 2023 mencatat perdagangan lebih dari USD 1,9 miliar dengan Israel. Dari jumlah tersebut, USD 1,7 miliar adalah ekspor Israel ke Mesir dan hanya USD 200 juta ekspor Mesir ke Israel. Pada tahun berikutnya, ekspor Mesir ke Israel meningkat lebih dari dua kali lipat.
Keempat, Azerbaijan. Azerbaijan, sekutu penting Tel Aviv di bidang ekonomi dan militer, pada 2023 mencatat perdagangan lebih dari USD 1,55 miliar dengan Israel—terdiri dari USD 1,4 miliar ekspor Azerbaijan dan USD 150 juta ekspor Israel. Karena hubungan keamanan dan militer yang erat, angka riil perdagangan diperkirakan bahkan lebih besar.
Israel adalah pemasok utama senjata Azerbaijan, sedangkan Baku menjadi pemasok utama minyak mentah Israel—lebih dari 98% nilai ekspor Azerbaijan ke Israel adalah minyak mentah. Minyak ini menjadi salah satu urat nadi operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, Yaman, dan Iran, sekaligus sumber energi dalam negeri Israel.
Kelima, Malaysia. Kasus paling menarik adalah Malaysia, yang secara resmi tidak mengakui Israel dan secara hukum melarang normalisasi hubungan. Meski demikian, pada 2023 Malaysia mencatat perdagangan senilai sekitar USD 377 juta dengan Israel—USD 352 juta berupa ekspor Malaysia ke Israel dan USD 25 juta ekspor Israel ke Malaysia. Pada 2024, nilai ini meningkat signifikan menjadi USD 458 juta.
Daftar negara Muslim yang berdagang dengan Israel tentu tidak berhenti di lima besar ini, namun kelima negara inilah yang berada di puncak daftar tersebut—sebuah “prestasi” yang dinilai memalukan. Kenaikan signifikan perdagangan antara banyak negara Muslim dan Israel, di tengah puncak kekejaman Zionis terhadap anak-anak Gaza, serta berlanjutnya suplai bahan bakar untuk jet tempur yang membunuh warga sipil, menjadi noda yang lebih besar lagi bagi bangsa-bangsa yang pemerintahnya terlibat dalam perdagangan menguntungkan namun berdarah ini, sementara rakyatnya memilih diam. (*)
Sumber: Mehr News
Editor: Ufqil Mubin












