Search

Langkah Putus Asa Donald Trump dalam Perang Melawan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim ratusan marinir menggunkan USS Tripoli ke Timur Tengah. (history.na)

BERITAALTERNATIF.COM – Pasukan Marinir AS menuju Teluk dengan menumpang kapal USS Tripoli, namun seperti dikemukakan Samuel Geddes, langkah ini mungkin lebih bertujuan untuk pencitraan daripada dampak militer nyata.

Pada pertengahan minggu, Unit Ekspedisi Marinir ke-31 AS yang berada di atas USS Tripoli terlihat melintasi Selat Malaka dalam perjalanan menuju Teluk. Pasukan ini, yang berjumlah antara 2.200 hingga 5.000 personel, dipanggil dari pangkalannya di Jepang setelah Presiden Donald Trump menyadari bahwa Republik Islam Iran tidak akan runtuh begitu saja setelah ia membunuh pemimpinnya, Ali Khamenei.

Karena ia telah memulai perang dengan melanggar “garis merah” paling mendasar, opsi Trump untuk meningkatkan eskalasi kini semakin terbatas. Ia terjebak antara ketidakpopuleran perang ini di kalangan rakyat Amerika—terutama karena dampak ekonominya yang buruk—dan kenyataan bahwa jika ia mundur, Iran kemungkinan besar akan terus membalas dan justru menjadi jauh lebih kuat dibanding sebelum perang.

Dua tekanan yang berlawanan ini—kebutuhan untuk keluar dari konflik dan kebutuhan menunjukkan keberhasilan nyata—mendorong kemungkinan operasi darat AS di wilayah Iran. Dalam konteks inilah pengiriman Marinir ke kawasan tersebut dipahami.

Namun, apa yang realistis dapat dicapai oleh maksimal 5.000 Marinir AS dalam operasi darat di Iran?

Gagasan invasi darat besar-besaran ke Iran sejak awal tidak pernah realistis. Selain karena pemerintahan Trump secara konsisten menyatakan hal itu tidak akan terjadi, operasi semacam itu akan membutuhkan seluruh kekuatan militer aktif AS (sekitar 1,3 juta personel), ditambah jumlah wajib militer yang sama banyaknya. Iran sendiri adalah wilayah seluas 1,6 juta kilometer persegi dengan kondisi geografis pegunungan dan gurun, serta lebih dari 90 juta penduduk yang dapat dimobilisasi. AS belum pernah menduduki negara sebesar ini—dan kemungkinan besar tidak akan mampu melakukannya.

Jika invasi besar dikesampingkan, satu-satunya skenario boots on the ground yang mungkin adalah merebut pulau-pulau Iran di Teluk, terutama di sekitar Selat Hormuz. Pulau-pulau ini mencakup Hormuz dan Qeshm di timur hingga Kharg di barat, yang menjadi sumber 90 persen ekspor minyak Iran.

Namun, bahkan untuk tujuan ini, kekuatan yang dikirim saat ini sangat tidak memadai. Sebagai perbandingan, operasi serupa dalam Perang Dunia II—seperti pertempuran di Okinawa—memerlukan antara 250.000 hingga 540.000 tentara AS. Bahkan untuk merebut pulau kecil seperti Iwo Jima saja, dibutuhkan 110.000 pasukan dengan korban ribuan jiwa.

Pulau-pulau Iran di Selat Hormuz memiliki ukuran dan kemungkinan tingkat pertahanan yang sebanding, tetapi berada dalam satu kawasan sempit. Operasi semacam itu akan menjadi kampanye amfibi terbesar sejak Perang Dunia II, dengan potensi korban yang sangat besar—bahkan bisa menyamai perang Korea atau Vietnam dalam waktu singkat.

Dengan demikian, jelas bahwa 5.000 Marinir tidak akan cukup, kecuali mereka sengaja dikirim ke misi yang hampir pasti berujung kematian.

Jika Marinir di USS Tripoli tidak cukup untuk merebut pulau, maka kemungkinan terakhir adalah mereka ditugaskan untuk operasi simbolis berisiko tinggi di wilayah Iran—yang dapat dipublikasikan Trump sebagai “kemenangan” sebelum menghentikan keterlibatan AS secara sepihak.

Beberapa spekulasi menyebut mereka mungkin ditugaskan untuk menemukan dan merebut cadangan uranium yang diperkaya milik Iran. Namun, tujuan ini hampir pasti tidak realistis. Tidak ada jaminan AS mengetahui lokasinya, dan bahkan jika tahu, 5.000 pasukan tidak cukup untuk menguasainya.

Meski demikian, mengingat kebijakan pemerintahan ini yang sering dianggap terlepas dari realitas dan hukum internasional, klaim keberhasilan oleh Trump—meski misi gagal atau bahkan tidak terjadi—bisa saja dijadikan “kemenangan” untuk mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik ini. Nilai strategis dari “keberhasilan” semacam itu menjadi hal sekunder.

Kemungkinan lain adalah bahwa unit ini tidak akan melakukan apa pun saat tiba di Selat Hormuz, dan hanya berfungsi sebagai alat pencitraan. Apa pun perannya, ukuran kekuatan ini dibandingkan dengan kemampuan Iran menunjukkan bahwa misinya kemungkinan besar bersifat simbolis.

Pada akhirnya, tujuan sebenarnya mungkin adalah mengurangi rasa malu Presiden AS ketika ia harus mengakui kekalahan—dalam gaya seorang kaisar Romawi yang putus asa—di hadapan Iran. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA