Search

KTT Rabi di Baku, Proyek Zionisme di Dunia Islam

Tuan rumah Baku untuk pertemuan para rabi Yahudi merupakan upaya nyata untuk memperluas Abraham Accords dan menormalkan kehadiran Israel di dunia Islam—sebuah langkah anti-Islam dengan dampak berbahaya bagi kawasan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Laporan terbaru menunjukkan bahwa Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev berencana menjadi tuan rumah peringatan 70 tahun Konferensi Rabi Zionis Eropa yang akan datang. Acara ini diperkirakan akan menghadirkan hampir 500 rabi Yahudi dari seluruh dunia. Menurut media Yahudi dan Zionis, pertemuan tersebut akan diadakan di Baku pada 4–6 November dan mungkin dihadiri oleh perwakilan resmi rezim Israel.

Pertemuan ini, yang diselenggarakan dalam rangka konvensi peringatan 70 tahun organisasi keagamaan Yahudi dunia, akan berfokus pada isu-isu seperti perluasan Abraham Accords—inisiatif yang diluncurkan selama pemerintahan Trump untuk menormalkan hubungan Israel dengan empat negara Arab—serta topik seperti kebebasan beragama dan memerangi anti-Semitisme di Eropa. Acara ini diorganisir oleh Konferensi Rabi Ortodoks Eropa, yang telah aktif sejak 1956 dan kini mencakup lebih dari 700 pemimpin agama Yahudi di seluruh Eropa.

Ini adalah pertama kalinya pertemuan semacam itu diadakan di negara Muslim dengan tujuan eksplisit mempromosikan Yudaisme Zionis—sebuah tindakan yang tidak hanya akan memicu reaksi di dalam Azerbaijan tetapi juga pasti menimbulkan reaksi negatif dari umat Islam, pendukung Palestina, dan bangsa-bangsa pecinta kebebasan di seluruh dunia.

Dalam hal ini, Ali Akbar Velayati, penasihat senior urusan internasional Pemimpin Revolusi Islam Iran, menyebut penyelenggaraan konferensi rabi Zionis di negara Muslim sebagai sesuatu yang “sangat mengejutkan dan disayangkan.” Dia menggambarkan langkah itu sebagai “anti-Islam” dan berharap laporan tersebut tidak benar.

Velayati juga menegaskan bahwa ini adalah pertama kalinya pemerintah Azerbaijan melakukan pelanggaran semacam ini. “Tujuan utama dari pertemuan ini tampaknya adalah memperluas Abraham Accords dan menarik Azerbaijan serta negara-negara Muslim Asia Tengah lainnya ke dalamnya,” katanya.

Tujuan Rezim Zionis

Pertama, memperluas Abraham Accords dan normalisasi dengan Tel Aviv. Salah satu tujuan jelas konferensi ini adalah untuk mendorong normalisasi hubungan antara rezim Zionis dan negara-negara Muslim. Dengan menyelenggarakan acara di bawah kedok “pertemuan keagamaan,” Israel berusaha membuka jalan bagi Azerbaijan—dan kemudian negara-negara Asia Tengah lainnya—untuk bergabung dengan Abraham Accords.

Pemilihan Baku sebagai tuan rumah menandakan upaya Israel membuka front baru di Kaukasus Selatan dan Asia Tengah, memperketat pengepungan politik dan budaya terhadap Iran dan Poros Perlawanan.

Kedua, pengaruh kekuatan lunak budaya dan agama. Israel sejak lama berinvestasi dalam kekuatan lunak. Menyelenggarakan konferensi semacam ini di negara Muslim adalah langkah untuk melegitimasi Yudaisme Zionis di jantung dunia Islam. Tel Aviv ingin menunjukkan bahwa kehadiran terbuka lembaga keagamaan Yahudi di negara Muslim adalah sesuatu yang wajar dan merupakan tanda toleransi beragama. Padahal, konferensi ini berupaya membentuk ulang narasi dan menormalkan kehadiran Zionis dalam pikiran masyarakat Muslim.

Ketiga, eksploitasi geopolitik lokasi Azerbaijan. Posisi unik Azerbaijan, yang berbatasan dengan Iran, Rusia, dan Turki, menjadikannya basis berharga bagi rezim Zionis. Dengan memperluas hubungan keamanan dan intelijen dengan Baku, rezim Zionis berulang kali mencoba menggunakan wilayah Azerbaijan untuk memberi tekanan pada Iran. Konferensi rabi di Baku menambahkan dimensi keagamaan dan budaya dalam kerja sama ini, memperluas cakupannya.

Keempat, menunjukkan legitimasi dan kedudukan internasional. Di tengah krisis internal dan pertanyaan tentang legitimasi, Israel terus mencari panggung internasional untuk menunjukkan keberadaannya. Negara Muslim yang menjadi tuan rumah acara dengan partisipasi Zionis secara efektif mematahkan tabu kehadiran Israel di dunia Islam. Tel Aviv melihat ini sebagai kemenangan besar dalam propaganda.

Kelima, mengirim pesan ke negara-negara Muslim Asia Tengah. Dengan memilih Baku sebagai tuan rumah, Israel mengirim pesan langsung kepada negara-negara Muslim Asia Tengah lainnya seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan: normalisasi itu mungkin, dan Azerbaijan memimpin jalan. Ini menandakan pendahuluan ekspansi pengaruh Zionis dari Teluk Persia hingga Asia Tengah.

Konsekuensi Berbahaya

Menyelenggarakan konferensi rabi Zionis di Baku terutama merusak identitas Islam dan Syiah Azerbaijan. Rakyat yang selama berabad-abad hidup dalam budaya Islam dan kecintaan pada Ahlulbait as kini menghadapi pemerintahan yang secara terbuka condong pada Zionisme. Kontradiksi antara keyakinan rakyat dan kebijakan pemerintah ini berisiko menimbulkan perpecahan sosial dan politik, serta mengikis kepercayaan publik terhadap negara.

Melalui konferensi ini, Israel memperkuat pijakannya di Kaukasus Selatan. Sebelumnya, Tel Aviv menggunakan kerja sama intelijen dan keamanan dengan Baku untuk memantau musuh; kini, dengan memasuki ranah budaya dan agama, Israel menunjukkan lapisan pengaruh baru. Perkembangan semacam ini mengganggu keseimbangan geopolitik kawasan dan menimbulkan ancaman serius bagi dunia Islam.

Bagi Israel, menggelar acara seperti ini di negara Muslim adalah kemenangan propaganda. Seiring waktu, hal ini bisa menormalkan kehadiran publik Zionis di dunia Islam dan membuka jalan bagi kegiatan serupa di negara Muslim lainnya. Arah berbahaya ini secara langsung menargetkan nilai-nilai Islam, merusak persatuan Muslim, dan menuntut perhatian serius dari para pemimpin Islam.

Penyelenggaraan acara di Baku juga melambangkan sebuah negara Muslim yang membelakangi perjuangan Palestina. Dengan menayangkan acara ini secara global, Israel ingin menunjukkan bahwa bahkan negara Muslim pun bukan penghalang bagi agendanya. Keterlibatan semacam ini melemahkan legitimasi Perlawanan Palestina dan berupaya mengisolasi pendukungnya secara politik.

Selain itu, konferensi ini berisiko menjadi alat untuk menabur perpecahan di antara negara-negara Muslim. Jika pemerintah tetap diam karena alasan politik sementara gerakan Islam dan rakyat mengecam acara tersebut, jurang antara penguasa dan rakyat akan semakin dalam. Jurang semacam ini membahayakan persatuan umat Islam dan memungkinkan Zionisme melanjutkan strategi divide et impera.

Kesimpulan

Jika konferensi rabi di Baku berjalan tanpa penentangan kuat dari dunia Islam, hal itu akan menandai titik balik berbahaya dalam normalisasi kehadiran Israel di negara-negara Muslim. Israel berupaya mendapatkan basis baru di Kaukasus Selatan sekaligus menanamkan diri secara budaya dan agama dalam peta dunia Islam. Jika tidak dicegah, tren ini dengan cepat akan menjadi model bagi negara-negara Asia Tengah dan bahkan Arab lainnya, memperluas kekuatan lunak Zionisme di seluruh kawasan.

Para pemimpin Baku harus menyadari bahwa Azerbaijan bukan sekadar menjadi tuan rumah pertemuan keagamaan—tetapi sedang mementaskan proyek anti-Islam yang dirancang untuk melemahkan perjuangan Palestina dan merusak identitas umat Islam.

Konferensi ini adalah peringatan jelas: jika umat Islam tetap diam, Zionisme akan perlahan menembus rumah mereka. Kini saatnya bangsa-bangsa dan pemerintah Islam bersuara, menjaga persatuan, dan menghadapi langkah ini dengan kewaspadaan—demi masa depan Islam dan martabat umat Muslim yang bergantung pada respons mereka hari ini. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA