BERITAALTERNATIF – Konferensi bertajuk “Kami dan Barat: Konferensi tentang Pandangan dan Pemikiran Ayatollah Khamenei” diselenggarakan pada 10 November oleh Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Pemimpin Revolusi Islam di Aula Konferensi Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB). Tujuan, alasan, serta agenda pelaksanaan konferensi ini dapat dilihat dalam beberapa pokok penting berikut.
Meskipun judul “Kami dan Barat” sekilas mengingatkan pada dinamika sejarah antara Iran dan dunia Barat, secara lebih luas tema ini mencakup seluruh negara yang pernah menjadi korban dominasi dan penindasan kekuatan Barat. Tujuan utama konferensi ini adalah menegaskan pentingnya memperkuat multilateralisme serta mempererat persatuan di antara negara-negara independen untuk melawan hegemoni dan unilateralitas, dengan mengingat kembali kerusakan yang tak terhitung akibat kolonialisme Barat di bidang budaya, sosial, keamanan, dan ekonomi terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Amerika Latin, dan Asia, serta merumuskan solusi yang tepat untuk menghadapi tantangan tersebut.
Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, negara ini mengambil sikap yang sepenuhnya independen dan menolak melanjutkan sistem dominasi kekuatan besar baik dari Barat maupun Timur. Dengan bimbingan para pemimpin revolusi, Iran memelopori salah satu gerakan antikolonial dan antihegemoni paling penting di dunia modern—sebuah fenomena unik dalam sistem internasional. Dalam hal ini, Ayatollah Khamenei berulang kali menganalisis dan menjelaskan hakikat peradaban serta budaya Barat, termasuk pendekatan hegemonik Amerika Serikat dan Eropa, sambil menawarkan jalan untuk menghadapi metode kolonial dan hegemoni Barat. Karena alasan inilah, pemikiran dan pandangan beliau dijadikan sumber utama kajian dalam konferensi “Kami dan Barat” dan menjadi inti pembahasan acara tersebut.
Dari berbagai pidato dan pesan Pemimpin Revolusi Islam, terutama dalam Pernyataan Langkah Kedua Revolusi Islam, tampak bahwa peradaban Barat kini menghadapi krisis serius, baik dari segi teori maupun praktik, dalam bidang hak asasi manusia, kebebasan, pandangan tentang manusia, serta tata kelola pemerintahan. Barat kini tengah mengalami krisis legitimasi yang dalam. Konferensi “Kami dan Barat,” yang terinspirasi dari gagasan Ayatollah Khamenei, berpotensi membentuk front intelektual luas yang menantang demokrasi liberal Barat dan membuka jalan menuju terwujudnya peradaban Islam baru yang lebih adil dan mandiri.
Waktu pelaksanaan konferensi ini juga dianggap sangat tepat karena bertepatan dengan munculnya seorang tokoh yang gemar berperang dan haus kekuasaan di Gedung Putih. Pada momen ini, dengan meningkatnya sikap sepihak Amerika Serikat dan kebijakan Presiden Donald Trump yang gemar mengancam negara tetangga serta berupaya memaksakan bentuk tirani global—termasuk pembelaannya terhadap genosida rezim Zionis di Gaza—kebutuhan akan solidaritas di antara negara-negara merdeka untuk menentang Amerika menjadi semakin mendesak. Perasaan kolektif ini, yang kini menyebar di seluruh dunia, dapat memperluas medan perlawanan terhadap arogansi Barat dari Asia Barat ke berbagai penjuru dunia. Dengan memperkuat front multilateralisme, konferensi ini dapat berperan dalam mempercepat kemunduran kekuatan hegemonik Amerika secara bertahap. Selain itu, keberlanjutan penyelenggaraan konferensi serupa di wilayah lain di dunia juga penting, karena dapat menjadi wadah pertukaran intelektual antarilmuwan dalam membela integritas wilayah dan kedaulatan nasional negara-negara independen.
Sambutan luar biasa terhadap konferensi ini oleh berbagai lembaga akademik dari berbagai negara, serta penyampaian lebih dari 450 makalah ilmiah dan 65 sesi diskusi global, menunjukkan adanya upaya serius dari kalangan intelektual dunia untuk menciptakan gerakan ilmiah internasional melawan dominasi Barat.
Seolah dengan terselenggaranya konferensi ini, kebencian para pemikir dunia terhadap lima abad kejahatan, pembantaian, perbudakan, dan penjarahan yang dilakukan oleh kekuatan Eropa dan Amerika terhadap bangsa-bangsa tertindas akhirnya menemukan salurannya. Para cendekiawan ini turun ke gelanggang dengan pena dan pemikiran mereka untuk membongkar wajah asli Barat di hadapan dunia.
Konferensi ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga simbol kebangkitan kesadaran intelektual global—suatu gerakan yang menolak hegemoni peradaban tunggal dan menegaskan kemandirian intelektual dunia non-Barat. Dengan menghidupkan kembali semangat solidaritas antara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, konferensi ini membuka babak baru dalam upaya membangun tata dunia yang lebih seimbang dan manusiawi.
Kita harus menghargai kerja keras para penyelenggara konferensi dan mengakui arti pentingnya sebagai langkah awal dari gerakan intelektual global yang dapat membentuk masa depan dunia. Dukungan yang meluas terhadap forum ini menjadi bukti bahwa bangsa-bangsa di dunia kini mencari tatanan baru yang tidak lagi dikendalikan oleh satu kutub kekuasaan.
Dengan memohon pertolongan Tuhan, konferensi “Kami dan Barat” diharapkan menjadi awal dari kebangkitan kesadaran kolektif yang menolak dominasi, menghidupkan kembali nilai kemerdekaan dan keadilan, serta menandai lahirnya sebuah peradaban yang lebih berkeadaban dan berakar pada prinsip kemanusiaan sejati.
Ke depan, penting bagi Iran dan para cendekiawan dunia untuk melanjutkan upaya ini dengan komitmen yang lebih kuat. Gerakan intelektual yang dimulai dari konferensi ini dapat menjadi dasar bagi terbentuknya front global baru—bukan berbasis kekuatan militer atau ekonomi semata, tetapi berbasis pada kekuatan ilmu, pemikiran, dan kesadaran moral umat manusia.
Dengan demikian, konferensi “Kami dan Barat” tidak hanya menjadi sebuah pertemuan akademis, tetapi juga titik awal bagi lahirnya gerakan intelektual abad ke-21 yang menantang dominasi Barat dan menegaskan identitas independen bangsa-bangsa dunia. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












