BERITAALTERNATIF.COM – Syahrul Ramadhana lahir di Samarinda pada 23 Oktober 2005. Meski demikian, dia merupakan putra asli Tenggarong.
Masa kecilnya dihabiskan di Gang Sentosa Loa Ipuh hingga tahun 2009 sebelum kebakaran besar memaksa keluarganya pindah ke kawasan Bougenville.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Syahrul telah aktif mengikuti berbagai lomba, seperti cerdas cermat, meskipun pada awalnya belum banyak meraih kemenangan. Memasuki jenjang SMP, minatnya pada kegiatan organisasi mulai tumbuh.
Dia bergabung dengan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMP Negeri 2 Tenggarong, yang berlokasi di Jalan Pateh Kota, dan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Bidang Keagamaan.
Aktivitas organisasinya berlanjut ketika ia masuk OSIS di Bidang Kewirausahaan. Pada masa inilah Syahrul bersama teman-temannya mulai mencoba membuka jasa perencana konstruksi secara freelance. Proyek pertama yang digarapnya merupakan pekerjaan interior di Loa Kulu. Dari titik inilah usahanya mulai berkembang dan terus bertahan hingga kini.
Setelah lulus SMA, Syahrul melanjutkan studi di Jurusan Teknik Sipil Universitas Mulawarman Samarinda, dan saat ini tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2023 di semester lima.
Ketertarikannya pada dunia konstruksi bermula saat dia duduk di bangku SMK, di mana ia mengambil jurusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan. Latar belakang pendidikan inilah yang mendorongnya fokus mengembangkan usaha di bidang tersebut.
Tahun 2023 menjadi awal bagi Syahrul untuk serius menekuni bisnis perencana konstruksi. Awalnya, usahanya dikenal dengan nama Betuah Project.
“Sekarang ini alhamdulillah sudah ada buat perusahaan dan membawahi 6 bidang,” ucapnya kepada awak media Berita Alternatif pada Sabtu (9/9/2025).
Namun, setelah memiliki legalitas usaha, ia mendirikan CV Betuah Persada Group yang membawahi enam bidang usaha, yaitu perencana konstruksi, event organizer, catering, konveksi, desain grafis, dan travel.
Dengan semangat dan kerja keras yang sudah ia tunjukkan sejak masa sekolah, Syahrul kini tidak hanya dikenal sebagai mahasiswa aktif, tetapi juga sebagai pengusaha muda yang membangun usahanya dari nol hingga berbentuk perusahaan multi-bidang.
Sejalan dengan bidang pendidikan yang ditempuhnya, Syahrul menegaskan bahwa fokus utama perusahaannya tetap pada konstruksi. Meskipun CV Betuah Persada Group memiliki enam lini usaha, identitas utama sebagai perusahaan perencana dan pelaksana proyek konstruksi selalu ditonjolkannya.
Ia bertekad mengembangkan perusahaan lebih luas lagi dengan mempertahankan kualitas dan reputasi di bidang konstruksi.
Di sektor ini, Syahrul dan timnya menangani beragam pekerjaan, mulai dari bisnis interior, pembangunan ruko, rumah tinggal, hingga proyek-proyek rumah ibadah seperti masjid. Mereka juga mengerjakan fasilitas umum yang dikelola pemerintah, seperti bangunan sekolah dan halte.
Salah satu program yang menjadi ciri khas perusahaan adalah Betuah Indahkan Masjid, sebuah inisiatif sosial untuk membantu masjid-masjid kecil di berbagai tempat dalam merencanakan desain dan interiornya secara gratis.
Program ini berlaku untuk masjid atau langgar yang memerlukan renovasi, perencanaan, atau pembangunan dari nol, terutama bila pengurusnya mengalami keterbatasan anggaran.
Dalam perjalanan usahanya, Syahrul telah menangani sejumlah proyek yang membanggakan. Salah satunya pembangunan aula pertemuan di Desa Kota Bangun Tiga, yang menawarkan pemandangan langsung ke danau. Ia menganggap proyek ini istimewa karena tidak hanya bermanfaat sebagai fasilitas desa, tetapi juga mempunyai nilai estetika yang tinggi.
Proyek lain mencakup perencanaan gedung Badan Permusyawaratan Desa di lokasi yang sama, perencanaan Taman TK di Desa Loa Lepu, serta program Betuah Indahkan Msjid di kampung halamannya di Aceh yang berfokus pada perancangan interior masjid.
Di tengah aktivitasnya yang padat, Syahrul tetap menjalani kuliah di Universitas Mulawarman Samarinda. Ia mengaku kunci keberhasilannya terletak pada manajemen waktu.
Pagi hingga siang ia manfaatkan untuk mengikuti perkuliahan, sementara siang hingga malam digunakannya untuk mengerjakan proyek. Metode ini memungkinkannya menyelesaikan tugas kuliah sembari menuntaskan pekerjaannya.
Ia berpesan kepada para pemuda yang ingin merintis usaha agar mampu membagi waktu dengan disiplin, serta tidak ragu untuk mulai berkarya meskipun masih dalam masa studi.
Di tengah kesibukan mengurus proyek dan kuliah, Syahrul tetap meluangkan waktu untuk berorganisasi. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Mulawarman dan tergabung dalam Komisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa.
Aktivitas ini menjadi wadah baginya untuk memperluas relasi sekaligus mengasah keterampilan serta kepemimpinan.
Terkait pendapatan perusahaan, Syahrul mengakui bahwa omzetnya tidak selalu tetap. Karakter dunia konstruksi membuat pemasukan bersifat fluktuatif, kadang satu bulan tanpa proyek, namun bulan berikutnya bisa memperoleh pekerjaan dengan nilai yang cukup signifikan.
Ia menyebut omzet yang diperolehnya berada di angka sekitar Rp 20 juta per proyek. Meskipun belum stabil, pendapatan ini tergolong tinggi bagi seorang pemuda yang membangun usaha dari nol.
Selama perjalanannya, Syahrul telah menangani puluhan proyek, baik skala kecil maupun besar.
Menurutnya, jumlah tersebut mungkin sudah menyentuh ratusan jika dihitung dari semua pekerjaan sejak awal dia merintis usaha tersebut. Namun, ia menekankan bahwa yang terpenting bukanlah jumlah proyek, melainkan kebermanfaatannya bagi masyarakat dan pengalaman yang diperoleh dari setiap pekerjaan.
Menutup perbincangan, Syahrul memberikan pesan khusus kepada para pemuda, terutama di Kutai Kartanegara, agar berani memulai dan mengambil risiko.
Dia menegaskan bahwa rasa takut hanya akan membuat peluang diambil oleh orang lain. “Kita jangan terlalu takut di awal. Biarpun untung atau rugi, yang penting kita punya pengalaman dan kemauan untuk terjun di bidang yang kita minati,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri, yang pada awalnya ragu untuk mengambil proyek karena khawatir gagal. Namun, jika ia terus menunda, justru pesaing dari luar daerah yang akan masuk dan menguasai pasar.
Bagi Syahrul, keberanian mengambil langkah pertama adalah modal utama untuk membangun karya yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.
“Rasa takut itu harus kita hilangkan. Kita harus optimis dulu bahwa kita bisa berjaya,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












