Search

Kiprah Sariyani: Dari Jalan Berlumpur, Menuju Panggung Pendidikan Nasional

Kepala SMP Negeri 3 Tenggarong, Sariyani. (Berita Alternatif/Bryan)

BERITAALTERNATIF.COM – Pergi gelap, pulang gelap. Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan. Bagi Kepala SMP Negeri 3 Tenggarong, Sariyani, hal tersebut adalah rutinitas yang dijalani selama dua dekade sebagai pendidik mulai dari daerah pelosok di Kukar.

Lahir di Balikpapan pada 17 Juli 1970 dari pasangan Haji Ramli dan Hajah Mawalia, ia tumbuh besar dengan kesederhanaan di pemukiman kecil bernama Kebun Sayur. Tidak seperti dulu, wilayah tersebut saat ini telah menjadi pasar ataupun destinasi wisata belanja buah tangan khas Kaltim.

Pendidikan dan Karier

Sariyani menempuh pendidikan dasar pada tahun 1977 di SDN 013 Balikpapan. Setelah lulus di tahun 1983, ia melanjutkan ke SMP Negeri 4 Balikpapan. Bagi dia, perjuangan saat SMP adalah masa-masa yang tak pernah terlupakan bersama teman-teman sebayanya. Untuk sampai ke sekolah, mereka harus berjalan kaki sejauh 20 kilometer setiap harinya. Meskipun demikian, SMP tersebut adalah sekolah negeri terdekat dengan kediaman mereka.

“Tapi kami sudah biasa, karena pada saat itu tidak ada juga siswa SMP yang naik motor, jadi kami biasa jalan kaki ramai-ramai dengan teman sekampung melewati sawah-sawah,” ujar dia.

Setelah tiga tahun penuh perjuangan itu, Sariyani melanjutkan pendidikan menengah atas ke SPG Negeri Balikpapan pada tahun 1983. Perjalanan pendidikannya pun berpuncak di FKIP Universitas Mulawarman, jurusan Bahasa Indonesia pada tahun 1989 dan lulus 1994.

Meski telah menyelesaikan pendidikan tingga, gelar sarjana tersebut tak langsung membawanya ke kota. Selepas lulus, ia mengabdi sebagai guru honorer di Samarinda hingga akhirnya diangkat menjadi PNS pada tahun 2000. Pada SK pertamanya, dia langsung ditugaskan di SMP Negeri 3 Kecamatan Marangkayu, Desa Perangat.

Karena tinggal di Samarinda, Sariyani pun harus pulang pergi ke Marangkayu dari pukul 4 dini hari dengan menumpangi truk atau kontainer. Pasalnya, pada jam tersebut tidak ada angkutan umum yang mulai beroperasi.

“Kalau berangkat tidak jam 4 subuh, bisa-bisa murid sudah pulang saat saya sampai sekolah. Kadang saya pulang jam 5 sore. Pergi gelap, pulang gelap,” ungkapnya.

Terkadang, truk yang ia tumpangi kerap mengangkut muatan yang berlebih. Jika tak kuat menanjak, dia yang harus turun untuk mengganjal ban kendaraan.

“Pernah juga saya ditinggal di bawah karena truknya sudah jalan duluan. Itulah suka dukanya bertugas di Marangkayu. Pulangnya juga harus menebeng orang,” kata Sariyani.

Setelah dari SMP Negeri 3 Marangkayu, ia dipindahtugaskan ke SMP Negeri 6 Marangkayu sebagai kepala sekolah. Sekolah tersebut lebih jauh 20 kilometer dari tempat awal dia bertugas.

“Itu sudah mendekati Bontang sekitar 24 kilometer lagi ke Bontang. Perjalanan bisa memakan waktu hingga 3 jam karena Naik kontainer. Itu saya lakukan setiap hari selama 20 tahun,” beber dia.

Selama puluhan tahun Sariyani menjalani kehidupan seperti itu demi mengabdikan diri untuk pendidikan, mulai dari guru biasa sampai menjadi kepala sekolah.

Hingga pada akhirnya, penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten menjadi tiketnya untuk bertugas ke kota. Akhir 2019, ia resmi ditugaskan di SMP Negeri 3 Tenggarong.

Kini, dia dikenal sebagai salah satu kepala sekolah paling inovatif serta berprestasi di Kukar. Di bawah kepemimpinannya, SMP Negeri 3 Tenggarong menjadi Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG), sekolah penggerak, serta pionir dalam penerapan Kurikulum Merdeka dan proyek P5.

Tidak hanya itu, Sariyani juga dinobatkan sebagai Kepala Sekolah Terbaik Tanoto Foundation, menjadi narasumber nasional, diundang untuk berbicara langsung di Kementerian, hingga diwawancarai secara langsung oleh jurnalis terkenal yang kerap menampilkan tokoh inspiratif di acara televisi, yaitu Andy Flores Noya atau Kick Andy.

“Kalau dulu saya harus menebeng truk setiap hari, sekarang saya berbicara soal literasi digital, perpustakaan modern, hingga Google tools,” tuturnya.

Kini, ia masih tinggal di Samarinda dan setiap hari pulang pergi ke Tenggarong. Usai salat subuh, dia berangkat dan biasanya kembali ke rumah saat matahari nyaris tenggelam.

“Anak-anak di sini masih banyak yang di sekolah sampai sore, jadi saya juga sering tinggal lebih lama,” ungkap Sariyani.

Dia percaya bahwa pendidikan yang berkualitas harus dirintis dengan kesabaran, ketekunan, dan keberanian. Dari jalan berlumpur hingga panggung nasional, kisah Sariyani adalah cermin bahwa dedikasi sejati seorang guru tak pernah sia-sia. (*)

Penulis & Editor: M. As’ari

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA