Search

Kiprah Muhammad Ridwan: Guru Muda yang Tak Kenal Lelah Mengabdi untuk Pendidikan

Guru SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, SMK Al-Idrus Tenggarong, SMP Kosgoro Tenggarong, serta Kepala SMP Teknlogi Tenggarong, Muhammad Ridwan. (Berita Alternatif/Bryan)

BERITAALTERNATIF.COM – Nama Muhammad Ridwan barangkali masih asing di telinga publik luas. Namun, bagi para siswa di SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, SMP Kosgoro Tenggarong dan SMP Teknologi Tenggarong, ia bukan sekadar guru. Dia adalah penunjuk arah, sekaligus teman berpikir yang tak pernah berhenti belajar serta mengabdi.

Ridwan lahir di Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 18 April 1994. Kecamatan Kilo adalah kawasan terpencil, serta masuk kategori daerah tertinggal. Jaringan internet pun masih menjadi barang mewah hingga hari ini.

Terlahir dari keluarga petani, dia tumbuh dalam kesederhanaan. Meskipun demikian, berkat keyakinan, doa, serta dukungan dari kedua orang tua, Ridwan tumbuh menjadi pemuda yang menjadikan pendidikan sebagai jalan hidup.

Pendidikan dan Karier

Pendidikan dasar ia jalani di SD 006 Kecamatan Kilo. Di usia remaja, dia mulai merantau ke kota di Dompu untuk meneruskan jenjang pendidikan. Ridwan pun melanjutkan ke SMP Negeri 2 Dompu. Setelah lulus, ia tetap tinggal di kota tiga tahun berikutnya di SMA Negeri 2 Dompu.

“Selama enam tahun saya merantau di kota,” ujarnya.

Di tengah segala keterbatasan, dia belajar memahami arti tanggung jawab, menata hidup sendiri, serta memupuk keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari sempitnya peluang di kampung halaman. Ridwan pun melanjutkan kuliah S1 di ibu kota Provinsi NTB, yakni di Universitas Muhammadiyah Mataram (UMM).

“Saya kuliah di sana (UMM) selama kurang lebih 3 tahun 8 bulan,” kata dia.

Setelah menyandang gelar sarjana, ia kembali ke kampung halaman. Ridwan mengabdi sebagai guru di SMA Negeri 2 Kilo selama dua tahun. Namun, semangatnya tidak berhenti. Dari keinginan pribadi serta dorongan orang tua juga, dia kembali merantau, kali ini lebih jauh, yaitu ke Bandung, Jawa Barat. Di kota besar itu, Ridwan mengambil program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Islam Nusantara.

“Kurang lebih tiga tahun saya tinggal di Bandung,” ungkapnya.

Pasca menyelesaikan studi Magister di Universitas Islam Nusantara Bandung, menjadi babak baru bagi Ridwan. Ia tak kembali ke tanah kelahiran, melainkan melanjutkan kehidupan rantaunya di Tenggarong, Kabupaten Kukar, Provinsi Kaltim. Kali ini dia tidak lagi merantau sendiri, melainkan bersama keluarga.

Pertama kali datang ke Kaltim, Ridwan langsung mengajar di SMP Muhammadiyah Tenggarong. Selain itu, ia meluangkan ide serta pikiran untuk pendidikan di Kukar dengan mengabdi di SMK Al-Idrus, SMP Kosgoro II Tenggarong, hingga SMA Muhammadiyah Tenggarong.

Tidak berhenti di sekolah-sekolah tersebut, semangat muda menuntunnya untuk berjuang membangun masa depan pendidikan di Kukar dengan mengabdikan diri sebagai Kepala SMP Teknologi Tenggarong. Di tengah tantangan sebagai kepala sekolah swasta, Ridwan tetap aktif mengajar di sekolah-sekolah sebelumnya.

“Mengajar bukan hanya pekerjaan, tapi panggilan. Saya suka berbagi gagasan, dan pendidikan menjadi ruang paling jujur untuk itu,” imbuh dia.

Tidak hanya mengajar, ia juga menulis. dia telah menerbitkan tiga buku yang berkaitan dengan Pendidikan Karakter, Menjadi Guru Profesional, serta saat ini tenga proses percetakan, yaitu tentang Dakwah Muhammadiyah dalam Perspektif Pendidikan. Selain itu, masih ada beberapa jurnal ilmiah yang belum diterbitkannya.

“Saya memang suka menuangkan ide dan pikiran lewat tulisan. Menuliskan isi hati menjadi semacam terapi yang menyenangkan dan inspiratif bagi saya,” tutur Ridwan.

Perjuangan Menjadi Guru

Menjadi guru, terutama di sekolah swasta, tidaklah mudah. Ridwan tahu betul rasa getir itu. “Saya pernah digaji Rp 200 ribu per bulan. Dua tahun saya hidup seperti itu,” kenangnya.

Meskipun demikian, ia memandang bahwa menjadi guru merupakan tugas mulia tidak terbatas nilainya.

“Banyak yang memilih profesi lain, tapi saya termotivasi oleh guru-guru saya sejak kecil, sejak SD hingga saya sendiri jadi guru,” seru dia.

“Orang tua saya memang bukan guru, tapi saya ingin memberikan penghargaan terhadap orang tua saya lewat perjuangan dan karya sebagai seorang guru. Itu adalah impian pribadi sekaligus amanah keluarga,” beber Ridwan.

Menjadi guru tidak terlepas dari sebuah perjuangan, serta proses panjang yang harus dijalani. Mulai dari gaji yang kecil, jarak antara rumah ke sekolah, hinga tragedi-tragedi tidak mengenakan kerap terjadi di jalan. Meski begitu, proses itulah justru yang membentuk jati diri seorang guru.

“Yang namanya sebuah proses, apalagi sekolah kita adalah sekolah swasta yang paling penting adalah kita tetap harus niatkan diri bahwa kita bekerja karena lillahi ta’ala. Bukan karena semata-mata soal kesejahteraan dan lain sebagainya, imbalan itu pasti akan tetap kita dapatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala,” tutupnya. (*)

Penulis & Editor: M. As’ari

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA